
Zety tidak bisa tidur. Terus saja teringat dengan ucapan Kiano. Benar-benar sangat mengganggunya pikirannya. Zety hanya ingin berpura-pura menikah di depan Bram agar lelaki itu bisa cepat sembuh. Akan tetapi, Zety seolah melupakan satu hal kalau pernikahannya pasti akan tetap sah meskipun hanya nikah siri—seandainya. Sedang sibuk dengan pikirannya yang berkecamuk, Zety terkejut saat ponselnya tiba-tiba berdering. Dengan bermalasan dia mengambil benda pipih tersebut dari tas selempang miliknya. Senyum Zety seketika mengembang saat melihat nama Markonah tertera di layar.
"Suk! Lu di mana?" Suara dari seberang terdengar keras hingga Zety sedikit menjauhkan ponselnya.
"Gue di rumah. Kebeneran banget elu telepon. Dateng ke sini, Mar. Ada banyak hal yang mau gue ceritain ke elu," suruh Zety.
"Ya. Gue juga sama. Ada hal penting yang mau gue bahas sama lu. Kalau gitu gue sekarang cus ke rumah lu aja," kata Margaretha. Mematikan panggilan tersebut secara sepihak bahkan tanpa kata pamit sedikit pun. Zety mendengkus kasar lalu meletakkan ponsel tersebut secara sembarang.
Zety pun memiringkan tubuhnya dan memeluk guling sangat erat. Berusaha untuk tertidur lelap sembari menunggu kedatangan Margaretha.
Sementara itu, Margaretha sudah bersiap untuk pergi ke rumah Zety. Namun, saat mengunci pintu kontrakan, dirinya dikejutkan oleh kedatangan Andra yang entah sejak kapan lelaki itu berada di halaman. Padahal barusan Margaretha sama sekali tidak melihat keberadaan Andra.
"Kamu mau ke mana?" tanya Andra, menatap Margaretha penuh selidik.
"Gue mau ke rumah Suketi. Kenapa? Mau ikut?" Margaretha bertanya balik dengan nada ketus.
"Tentu. Kamu tidak ingat pesan Om Eldrick, mulai saat ini aku akan menjadi penjagamu," kata Andra. Tersenyum senang saat melihat raut wajah Margaretha yang penuh kekesalan.
"Terserah lu!"
Margaretha pun berjalan santai menuju ke motor, dan Andra pun mengikut di belakang. Ketika Margaretha sudah duduk di motor, Andra justru dengan santainya duduk di belakang gadis itu hingga membuat Margaretha terheran-heran.
"Ngapain lu duduk di situ?"
"Ikut kamu lah, apalagi?"
"Lu 'kan bisa naik motor sendiri, kenapa mesti mbonceng gue?" Margaretha berusaha menahan kekesalannya.
"Bensin motorku habis. Jadi, kamu cuma punya dua pilihan, kamu mbonceng aku atau sebaliknya," suruh Andra, tersenyum licik.
__ADS_1
Margaretha menggerutukkan gigi dan merem*skan kedua tangannya di depan Andra. Ingin sekali Margaretha memukul Andra sampai pingsan, tetapi dia sadar kalau dirinya tidak akan pernah bisa melakukan itu. Andra yang melihat tingkah Margaretha hanya tersenyum puas karena merasa telah menang.
Margaretha pun naik dan duduk di belakang Andra dengan sedikit menjaga jarak. Memberikan sedikit ruang kosong di tengah mereka. Namun, dengan liciknya Andra menarik gas cukup kencang lalu mengerem secara mendadak hingga tubuh Margaretha pun terhuyung ke depan dan langsung memeluk Andra erat.
"Andra!! Lu gila!" bentak Margaretha kesal. Melepaskan pelukannya lalu sedikit memundurkan tubuhnya. Bahkan, tak segan-segan Margaretha memukul punggung Andra cukup kuat tanpa peduli pada rintihan lelaki itu.
"Aku tidak sengaja tadi." Andra berusaha membela diri. Namun, dalam hatinya sudah tergelak keras.
"Enggak sengaja-enggak sengaja!" omel Margaretha. "Sekali lagi lu kaya gitu, gue mending naik taksi," imbuhnya kesal. Andra hanya mengangguk lalu melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Margaretha menghela napas panjang dan berharap semua tetap akan baik-baik saja.
***
"Lu kenapa cemberut gitu, Suk?" tanya Margaretha yang saat ini sudah berada di kamar Zety.
"Gue lagi gegana, Suk."
"Gelisah, galau, merana? Kenapa?" Margaretha mendudukkan tubuhnya tepat di samping Zety.
"Terus? Bukannya bagus dong," sela Margaretha tidak sabar.
"Hati gue sekarang kagak yakin, Mar. Dia ngajak gue nikah, tapi hatinya belum bisa move-on dari Kurap. Dia masih belajar mencintai gue dan menghapus bayangan Kurap dari hatinya. Gue pengen banget berjuang, tapi gue takut cuman berjuang sendirian dan nantinya hati gue justru sakit." Zety menghirup napasnya dalam-dalam. Terlihat sekali kebimbangan dari raut wajahnya.
"Suk, kalau emang lu kagak yakin dan takut mending mundur lah. Biarkan saja semua sesuai alur yang udah Tuhan gariskan. Namanya jodoh kagak akan ke mana. Kalau emang lu sama Mas Gatra berjodoh, juga pasti ada aja jalannya buat bersatu," nasehat Margaretha.
"Entahlah, Mar. Tapi, bokap gue pengen banget lihat gue nikah sama Kiano. Katanya dia lelaki yang bertanggung jawab dan bla bla bla." Zety mendes*hkan napasnya secar kasar ke udara. Entah kenapa dia merasa malas jika membahas tentang Kiano, tetapi dia pun tidak ingin menutupi hal apa pun dari sahabatnya.
"Nah, menurut gue juga lu mending nikah sama Mas Ganteng. Mungkin saat ini lu belum jatuh cinta, tapi gue yakin kalau suatu saat kalian bisa saling jatuh cinta. Ingat, cinta ada karena terbiasa. Coba lu omongin sama Mas Ganteng," perintah Margaretha.
"Udah, Mar. Gue ngajak dia nikah pura-pura biar papa cepet sembuh—"
__ADS_1
"Gila lu, Suk! Mana ada nikah pura-pura. Kewarasan lu lama-lama terancam."
"Ish! Gue 'kan belum kelar ngomong, Mar. Jadi gini, Kiano nolak kalau kita nikah pura-pura. Dia maunya kita nikah beneran."
"Nah, itu baru lelaki sejati, Suk. Terus apa yang bikin lu ragu?" tanya Margaretha, sedikit mengumpati kebodohan sahabatnya.
"Entahlah, Mar. Gue juga bingung. Tapi, dia kalaupun nikahin gue cuma buat balas budi doang karena bokap gue selama ini udah baik sama dia," keluh Zety.
"Ya enggak papa, Suk. Berawal dari balas budi ntar lama-lama bucin. Kalau enggak lu buat aja perjanjian kaya di novel-novel itu. Semacam nikah kontrak gitu," cetus Margaretha. Zety langsung menatap tajam ke arah sahabatnya.
"Lama-lama lu ketularan gila juga ya, Mar. Ogah gue!" tolak Zety mentah-mentah.
"Lha terus lu maunya apa?" Margaretha mulai terlihat sebal.
"Gue maunya makan seblak aja. Dah, ayo kita sekarang jajan aja daripada pusing mikirin gituan. Sekalian ke rumah Kurap, gue pengen jengukin si Bisul." Zety turun dari tempat tidur dan disusul oleh sahabatnya.
"Hahaha. Temen lu emang sarap. Anak ganteng-ganteng gitu dinamai Bisulan. Dah cocok sama emak bapaknya. Kurap, Panu, Bisul. Satu spesies," seloroh Margaretha disusul gelakan tawa Zety. Mereka berdua pun akhirnya pergi ke rumah Rasya untuk menjenguk Baby Bisul. Ralat, bertiga bersama Andra.
😜😜😜
Hayukk bikin yel-yel biar Othor semangat buat update lagi 😅😅
Satu-satu Othor emang imut
Dua-dua Othor juga cantik
Tiga-tiga Othor paling kalem
Satu-dua-tiga Othor sayang kalian 😘
__ADS_1
Kalian luar biasa guys 👏👏