Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
43


__ADS_3

Shifa sedang duduk tenang di apartemen sembari menunggu kabar dari orang yang telah disuruhnya. Yang saat ini sedang melaksanakan aksinya. Shifa sudah tahu di mana Zety disekap dan dia berencana akan ke sana setelah semuanya selesai. Namun, sedang sibuk menghisap sebatang rokok, Shifa terkejut saat pintu apartemen terbuka dan Bram masuk dengan langkah lebar. Kedatangan Bram yang tiba-tiba membuat Shifa mendadak gugup.


"A-apa yang kamu lakukan di sini, Mas?" Shifa berjalan mendekati Bram. "Kamu merindukanku?" Shifa memasang wajah menggemaskan untuk menarik perhatian Bram, tetapi lelaki itu tidak akan lagi terkecoh. Tatapannya justru terlihat penuh benci ke arah Shifa, wanita yang sudah beberapa bulan menjadi teman ranjangnya.


"Tangkap wanita ****** itu!" Tunjuk Bram. Shifa mundur secara refleks saat melihat tiga orang bertubuh kekar berjalan dari belakang Bram dan mendekat. Shifa hendak kabur, tetapi langkahnya yang pendek tetap kalah. Kedua tangannya dicekal oleh lelaki itu.


"Lepaskan aku!" Shifa meronta. Berusaha melepaskan diri meskipun semua percuma. Dia tidak akan bisa melawan.


"Katakan di mana kamu membawa putriku?" teriak Bram penuh emosi.


"Aku? Mana aku tahu. Bukankah kamu lihat aku di sini sendirian?" Shifa berusaha terlihat berani padahal hatinya sudah menciut.


"Jangan bohong! Kamu pikir aku tidak tahu?" Bram menggeram marah. Namun, Shifa tetap tidak mau mengatakan semuanya. Bram pun maju mendekat dan menampar Shifa sekuat tenaga. "Kamu pikir aku adalah orang bodoh!"


"Mas! Kenapa kamu sejahat ini padaku? Apakah kamu memang tidak mencintaiku lagi?" Shifa berbicara sembari berderai air mata. Namun, Bram tidak peduli sama sekali.


"Cinta? Untuk apa aku mencintai bocah ingusan yang mudah dimanfaatkan seperti kamu?" Bram tersenyum sinis, sedangkan Shifa mengepalkan tangannya. Merasa marah dengan ucapan Bram.


"Kamu memang Bajingan!" umpat Shifa. Namun, Bram tetap terlihat tenang.


"Lebih baik katakan berada di mana putriku sekarang atau aku tidak akan segan-segan merobek mulutmu!" ancam Bram. Bukannya takut, Shifa justru tergelak keras. Rahang Bram mengetat saat mendengar tawa Shifa yang seperti sedang meledeknya.


"Silakan kalau kamu berani!" Shifa menantang dan itu makin menyulut kemarahan Bram.


"Sialan!" Bram kembali menampar Shifa untuk meluapkan kemarahannya. Sama sekali tidak peduli dengan wanita itu yang sudah meringis kesakitan.


Bram pun menyuruh salah seorang anak buahnya untuk merebut ponsel Shifa dan mencari informasi. Membuka aplikasi chat dan log panggilan. Saat anak buah Bram menunjukkan obrolan Shifa dengan orang suruhannya yang kebetulan belum terhapus, Bram pun kembali menggeram. Hampir saja Bram melempar ponsel itu ke wajah Shifa, tetapi Bram masih bisa mengendalikan emosinya. Bagaimana juga, ponsel itu adalah barang penting untuk mencari keberadaan Zety.

__ADS_1


Anak buah Bram melacak seluruhnya. Bram rasanya sudah tidak sabar dan sangat khawatir dengan keadaan putrinya. Walaupun Bram memaksa anak buahnya agar bergerak cepat, nyatanya semua harus butuh konsetrasi tinggi.


"Ada di rumah kosong di jalan XX, Tuan."


Mendengar itu Bram bergegas pergi tanpa melepaskan Shifa. Dia menyuruh anak buahnya agar membawa Shifa ke pihak berwajib dan pesan-pesan itu menjadi barang bukti. Shifa yang terus berontak pun pada akhirnya hanya bisa pasrah. Menurut pada mereka karena dia sadar tidak ada gunanya lagi dirinya melawan. Shifa hanya berharap orang itu bergerak cepat dan sudah menghancurkan Zety saat ini. Selama dalam perjalanan, Bram berusaha menghubungi Kiano, tetapi tidak ada satu pun panggilannya yang diangkat. Bram pun tidak tahu lagi harus menghubungi siapa, dia hanya berharap semoga tidak terlambat menyelamatkan putrinya.


***


Tubuh Zety gemetaran dan pasrah jika harus mati saat ini juga. Namun, Tuhan masih sayang padanya. Motor itu berhenti hanya berjarak beberapa centi saja dari tempat Zety berdiri. Sementara lelaki yang barusan mengejar Zety pun berdiri di tempatnya dan tatapannya begitu mengawasi.


"Zety!"


Zety mendongak saat mendengar seseorang memanggilnya. Dia menoleh dan terkejut melihat Andra yang sedang turun dari motornya. Andra pun sama terkejutnya. Tanpa banyak bicara, Zety mendekati Andra dan meminta bantuan lelaki itu untuk membuka ikatan talinya.


"Tunggu dulu." Andra mengambil pistol dari saku dalam jaket yang dikenakan lalu mengarahkan pada lelaki yang barusan mengejar Zety.


Dor!


Dor!


Bunyi tembakan kedua terdengar dan lelaki itu pun terkapar di lantai. Kedua kakinya terluka. Andra berlari mendekat dan langsung menginjak punggung lelaki itu agar tidak bisa kabur.


"Sialan! Lepaskan aku!" Dia berontak, tetapi Andra menginjaknya sekuat tenaga.


"Katakan padaku siapa yang menyuruhmu?" bentak Andra menggelegar.


"Tidak ada!" bantahnya. Namun, Andra justru mencengkeram kuat kerah kaos lelaki itu bahkan seperti akan mencekiknya.

__ADS_1


"Aku yakin pasti ada seseorang di balik semua ini. Katakan padaku atau aku tidak akan segan-segan membuat peluruku tepat mengenai jantungmu!" Andra mengancam. Lelaki itu hanya diam dan menatap ke arah temannya yang sedang bersiap menembak Andra.


Andra yang diam-diam melirik mengikuti arah pandangnya pun hanya bisa tersenyum sinis. Dia memegang pistolnya dan menempelkan tepat di pelipis lelaki itu.


"Tolong, ampuni saya," ampunnya. Namun, Andra justru tersenyum sinis. Andra tidak tahu kalau lelaki itu juga sedang tertawa di dalam hati dan mengumpati Andra sebagai orang bodoh.


"Rasakan betapa nikmatnya peluruku!"


Dor!


Argghhh!!!


Suara erangan dari dekat bangunan itu terdengar saat orang yang barusan memegang pistol jatuh terkapar. Peluru Andra mengenai perut lelaki itu. Andra tersenyum puas, sedangkan lelaki yang saat ini berada di dekat Andra mulai beringsut takut. Dia pikir tembakan Andra akan mengenai otaknya, tetapi ternyata tidak. Semua hanyalah sebuah kecohan.


Dor!


Satu kali lagi tembakan terdengar dan lelaki yang terkapar tadi mengerang kesakitan saat peluru Andra mengenai lengannya. Padahal dia hampir saja menyentuh pistol yang terjatuh tadi.


"A-ampuni saya, Tuan." Lelaki yang berada di samping Andra benar-benar ketakutan apalagi melihat sorot mata Andra yang seperti Elang yang siap memangsa. Namun, hanya Andra justru menunjukkan senyum iblisnya.


Sementara itu, Zety bergeming di tempatnya dan belum sepenuhnya percaya kalau Andra bisa bermain pistol dengan sangat tiju. Bukan hanya tembakannya saja yang tepat sasaran, tetapi Andra begitu peka dengan keadaan sekitar. Entah mengapa, Zety merasa kalau Andra bukanlah orang sembarangan.


Andra segera mengambil ponsel dan menghubungi pihak berwajib, sedangkan Zety hanya terdiam. Wajahnya masih memucat karena ketakutan.


"Suketi!"


Zety berbalik dan berlari menghambur. Memeluk Margaretha yang baru saja turun dari motor, sedangkan tatapan Kiano memindai sekitarnya. Dia melihat Andra yang sedang berdiri tenang juga dua orang yang terkapar dengan luka tembak. Kiano pun beralih menatap Zety yang sedang menangis sembari memeluk Margaretha.

__ADS_1


"Gue takut, Mar." Tangisan Zety mampu membuat hati Kiano terasa berdesir dan berdenyut sakit.


__ADS_2