
"Tentu saja. Mama tidak setuju kalau kamu dengan pacar pura-puramu kemarin. Belum jadi menantu saja dia sudah berbohong." Maria berbicara angkuh.
"Jadi, Mama sudah tahu kalau aku dan Zety hanya bersandiwara di depan Mama?" tanya Gatra lagi.
"Tentu saja. Mama sangat tahu. Kamu harus ingat kalau ikatan batin ibu dan anak itu sangat kuat. Setiap ibu pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya," timpal Maria.
"Mama yakin kalau Shifa itu terbaik untukku?" Pertanyaan Gatra begitu menuntut.
"Pasti. Memang apalagi yang kurang dari Shifa. Dia cantik, pinter, anak temen mama yang sudah pasti jelas asal-usulnya." Maria begitu membanggakan Shifa. Sebelah sudut bibir Gatra tertarik, tersenyum sinis mendengar ucapan sang mama.
"Shifa memang pintar, Ma. Pintar bersandiwara." Gatra berbicara penuh ketegasan.
"Maksud kamu?" tanya Maria bingung. Gatra mengambil ponsel yang sedikit pecah lalu memutar rekaman video tadi dan menunjukkan kepada Maria.
__ADS_1
Maria begitu serius melihat rekaman itu. Kedua matanya terbuka lebar saat mendengar semuanya. Bahkan, Maria sampai mengucek mata dan memastikan penglihatannya tidak salah. Tanpa Maria sadari, air mata wanita itu mengalir saat mendengar ucapan demi ucapan yang Zety katakan. Sebagai seorang wanita yang bergelar status ibu, pasti bisa merasakan betapa sakitnya yang dirasakan Zety. Hanya mendengar ucapan Zety saja terasa pedih apalagi jika merasakan semuanya.
"Aku mau pergi, Ma." Gatra hanya berpamitan pergi tanpa peduli sahutan ataupun panggilan Maria. Gatra akan menemui Zety ke rumah sakit.
***
Rasya merasa berat saat harus meninggalkan Zety, tetapi Pandu terus saja memaksa pulang dan meminta wanita itu untuk beristirahat. Mengingat kandungannya yang sudah masuk trisemester ketiga membuat Pandu selalu cemas kepada istrinya. Margaretha pun merayu Rasya agar pulang dan besok datang ke rumah sakit lagi. Pada akhirnya, Rasya bersedia pulang meskipun hati wanita itu tidak tenang dan terus saja kepikiran sahabatnya. Begitu juga dengan Zahra yang ikut pulang bersama Rasya.
"Kamu yakin tidak ingin tidur?" tanya Andra. Margaretha menggeleng cepat.
"Gue takut kalau Suketi bangun dan nyariin gue." Margaretha menjawab disertai helaan napas panjang.
"Kalau sadar terus nyari, nanti aku bangunkan kamu." Andra berbicara dan terus menatap Margaretha.
__ADS_1
Margaretha awalnya masih menolak, tetapi dia pun sudah tak kuasa menahan rasa kantuk yang begitu mendera. Sampai akhirnya Margaretha tidur dengan posisi duduk dan tangan bersidekap. Andra pun menarik perlahan tubuh Margaretha. Kepala gadis itu berada di atas paha Andra, sedangkan kakinya lurus di kursi. Andra hanya diam dan membiarkan Margaretha benar-benar tertidur lelap. Saat Andra sudah mendengar dengkuran halus dari Margaretha, lelaki itu baru berani mengusap puncak kepala Margaretha lembut. Membuat tidur Margaretha makin lelap.
"Seandainya ...." Andra bergumam lirih. Meneruskan ucapannya dalam hati karena tidak menginginkan satu orang pun tahu. Dia menghela napas panjang dan berusaha untuk ikut tidur.
Namun, baru saja memejamkan mata, Andra terbangun saat mendengar langkah kaki yang mendekat. Melihat Gatra baru saja berdiri di depannya. Gatra tidak langsung bertanya, terlebih dahulu menatap kedua orang itu karena takut menganggu.
"Di dalam, Mas." Tanpa ditanya, Andra langsung menjawab dan Gatra pun berpamitan masuk.
Hati Gatra merasa sakit saat melihat Zety sedang terbaring lemah tak berdaya, sedangkan lelaki yang Gatra ketahui sebagai papanya Zety, sedang duduk tertidur di samping brankar. Mengingat rekaman video tadi, Gatra ingin sekali memukuli lelaki itu hingga mati. Namun, hati nuraninya masih bisa berjalan dengan baik.
Gatra hanya berdiri di tepi sampai akhirnya Bram terbangun dan terkejut melihat keberadaan Gatra. Lelaki itu bangkit dari duduk dan menatap Gatra penuh selidik.
"Kamu siapa?" tanya Bram karena baru pertama kali ini melihat Gatra.
__ADS_1