
Di ruangan milik Bram, suasana terasa sedikit canggung. Bram duduk di kursi kebesarannya, sedangkan Zety dan Kiano duduk di sofa. Tidak ada pembicaraan di antara pengantin baru tersebut. Mereka sama-sama saling diam hingga Bram berdeham untuk mencairkan suasana.
"Zet, nanti kamu pulang sama Kiano saja ya. Kepala papa tiba-tiba pusing." Bram beranjak bangun.
"Biar aku antar, Pa." Zety ikut bangkit berdiri, tetapi Bram langsung melarang dengan lambaian tangan.
"Tidak perlu. Biar Papa sama sopir saja. Kasihan Kiano kalau ditinggal sendirian." Bram melarang. Akhirnya Kiano dan Zety pun hanya menurut. Sebenarnya, Bram tidak benar-benar sakit. Dia hanya berpura-pura supaya bisa pergi karena tidak mau mengganggu mereka berdua.
Setelah pintu ruangan tertutup rapat, Kiano kembali menarik perlahan tangan Zety agar wanita itu duduk di sampingnya.
"Kamu mau ke mana?" tanya Kiano menahan tangan Zety yang hendak bangkit lagi.
"A-aku ...." Zety merutuki dirinya yang tiba-tiba gugup sampai gagap. Sementara Kiano pun tersenyum tipis. "Aaaaa."
Zety terkejut saat Kiano justru menariknya hingga saat ini dirinya duduk di atas paha lelaki itu. Zety hendak turun, tetapi Kiano dengan gerakan cepat menahan pinggangnya.
"Kamu sudah makan?" Suara Kiano terdengar lembut. Mampu mendebarkan jantung Zety hingga membuat pipinya bersemu merah.
"Su-sudah."
"Jangan berbohong." Kiano tidak percaya.
"Beneran. Aku udah makan sama papa barusan." Zety berusaha untuk turun dari pangkuan Kiano, tetapi lelaki itu masih saja menahannya. "Aku mau turun."
"Sebentar lagi." Kiano terus saja menahan bahkan mendaratkan ciuman di pipi Zety.
"Aku takut ada karyawan yang masuk." Zety masih mencoba melepaskan diri. Namun, dia terdiam saat Kiano tiba-tiba menekan sebuah remot kecil yang ternyata membuat pintu ruangan tersebut terkunci secara otomatis. Zety yang melihat itu pun hanya mendengkus kasar.
"Jangan bilang kamu ingin mengajakku bercinta di sini. Tolonglah, aku masih capek. Punyaku masih perih," ucap Zety setengah ketus.
__ADS_1
"Tidak. Saya hanya ingin berdua dengan kamu tanpa ada yang mengganggu," elak Kiano. Dia meraup bibir Zety dan mereka pun berciuman mesra. Zety tidak menolak karena sentuhan lembut Kiano benar-benar membuatnya terbuai.
Namun, Zety merasa sedikit kecewa saat Kiano menghentikan gerakan tangannya. Padahal tubuh Zety sudah dibuat panas dingin rasanya.
"Kamu tunggu di sini. Saya ada rapat sebentar setelah ini." Kiano mengusap puncak kepala Zety dengan lembut.
"Aku sendirian?" Zety mencebikkan bibir.
"Iya. Saya cuma sebentar. Atau kamu mau ikut rapat?" tawar Kiano. Namun, Zety menggeleng cepat.
"Aku nunggu di sini aja lah." Zety benar-benar tidak ingin ikut, padahal Kiano berharap Zety bersedia untuk ikut dan dia akan memperkenalkan pada semua karyawan. Namun, Kiano juga tidak ingin memaksa karena Bram sudah mempersiapkan pesta untuk nanti malam, tentu saja tanpa sepengetahuan Zety.
Zety pun segera turun dari pangkuan Kiano, lalu kembali duduk di sofa, sedangkan Kiano beranjak bangun dan melirik jam tangannya.
"Kalau ada apa-apa jangan lupa langsung hubungi saya. Aku usahakan selesai secepat mungkin." Kiano mendaratkan ciuman di kening Zety. Lalu berjalan tergesa keluar dari ruangan tersebut.
Setelah pintu ruangan tertutup rapat, Zety menghela napas panjangnya. Lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa dan berusaha untuk memejamkan mata. Zety benar-benar merasa hampa dan bosan. Dia pun mengambil ponsel dan mencoba melakukan panggilan grup dengan ketiga sahabatnya.
Dalam waktu beberapa detik, ketiga wajah sahabatnya pun terlihat memenuhi layar.
"Tumben amat lu nelpon, Suk?" tanya Rasya.
"Gue bosen." Zety tidur telentang dan menaruh ponsel di atas wajahnya.
"Lu lagi di mana?" tanya Zahra, alisnya terlihat mengerut dalam.
"Kantor."
"Kantor?" pekik ketiga orang itu hingga membuat Zety terkekeh.
__ADS_1
"Jangan bilang lu ngintilin laki lu, Suk." Margaretha menggeleng tidak percaya. Zety tidak menjawab, hanya menutupi tawanya. Dia yakin sahabatnya pasti akan heboh.
Mereka pun mengobrol banyak hal. Kadang saling meledek, kadang pula saling curhat soal apa pun. Bahkan, tak jarang gelakan tawa mereka terdengar saling bersahutan. Saking serunya saling berbagi cerita, Zety sampai tidak menyadari kalau Kiano sudah selesai rapat.
Ketika membuka pintu ruangan, Kiano menggeleng melihat posisi Zety yang sudah tidak karuan di sofa. Satu kaki di atas kepala sofa, sedang satu kaki berada di bawahnya—ngangkang. Kiano pun berjalan tergesa dan segera membenarkan posisi kaki Zety.
Zety yang terkejut pun langsung menoleh dan menatap ke arah Kiano. "Kamu sudah—"
Belum juga Zety selesai menjawab, Kiano sudah mencium bibirnya tanpa malu. Zety mematung sesaat sebelum akhirnya dia terkejut mendengar teriakan sahabatnya. Begitu juga dengan Kiano.
"Cieee manten baru. Sampai lupa ada kita di sini," ledek Rasya. Wajah Zety sudah bersemu merah, sedangkan Kiano hanya tersenyum tipis.
"Masih anget-angetnya, oee!" Margaretha menambahkan. Zety pun salah tingkah sendiri dan langsung mematikan panggilan tersebut karena tidak ingin mendengar ledekan-ledekan sahabatnya lagi.
"Ish! Kamu, sih!" Zety memukul lengan Kiano untuk meluapkan kekesalan.
"Kenapa dengan saya?" Kiano berlagak seolah dirinya tidak bersalah sama sekali.
"Gara-gara kamu, mereka jadi ngeledek aku!"
"Biarkan saja. Saya yakin kalau sahabat kamu itu bahagia melihat kita sedekat ini."
Jantung Zety berdebar kencang saat Kiano sudah memajukan tubuhnya hingga menempel erat padanya saat ini. Belum juga Zety berbicara apa pun, Kiano sudah mencium bibir Zety dengan lembut.
"Jangan bilang kita mau bercinta di sini. Aku enggak mau di sofa seperti ini. Pasti rasanya sakit." Zety menahan dada Kiano yang saat ini sedang memajukan wajahnya lagi.
"Kalau begitu, sekarang kita pulang." Kiano berbicara dengan santainya. Tanpa peduli pada kedua mata Zety yang melebar karena terkejut, Kiano bangkit dan membopong Zety keluar dari ruangan itu.
"Turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri!"
__ADS_1
"Kenapa tubuh kamu ringan sekali," ucap Kiano. Menghentikan gerakan Zety yang sedang memaksa turun.
"Jangan ngeledek!" Zety bersidekap, tetapi hanya sesaat karena dia langsung mengalungkan tangan di leher Kiano saat lelaki itu dengan sengaja seolah hendak menjatuhkan Zety. Benar saja, mereka langsung menjadi pusat perhatian. Zety yang sudah terlanjur malu, hanya bisa membenamkan wajah di dada bidang Kiano. Sementara Kiano tersenyum puas dan tetap berjalan dengan langkah tegas keluar kantor.