
"Suk, elu nyembunyiin sesuatu dari kita?" tanya Rasya saat Zety baru saja selesai bertukar suara dengan Gatra. Zety tidak menjawab dan hanya berpura-pura sibuk memainkan ponselnya. "Suk!"
"Apa, Ra?" tanya Zety berpura-pura, dan itu justru makin membuat ketiga sahabatnya curiga.
"Mungkin kita udah enggak dianggap sahabat lagi sama si Suketi," sindir Zahra.
"Kenapa kalian ngomong gitu?" Zety menatap bingung ke arah sahabatnya satu persatu.
"Suk, kita udah lama sahabatan. Saling terbuka dan enggak ada rahasia-rahasiaan lagi. Tapi kenapa gue ngerasa kalau elu nyembunyiin sesuatu?" Rasya menatap Zety penuh kecewa.
"Gue belum siap ceritain semuanya saat ini. Gue cuma bingung, Mas Gatra ngajak gue ke luar kota besok pagi, dan mungkin sekitar tiga hari sampai satu Minggu di sana." Zety menyadarkan tubuhnya. Jujur, hatinya merasa begitu bimbang meskipun dia sudah mengiyakan ajakan Gatra, tetapi Zety masih belum yakin.
"Terima aja sih, Suk. Anggap elu lagi piknik. Lumayan 'kan gratis," celetuk Margaretha yang sedari tadi hanya diam.
"Otak elu kalau sama gratisan mah langsung bersinar terang." Zety menonyor kepala Margaretha. Bukannya marah, Margaretha justru terkekeh geli.
"Kalau saran gue juga mending elu terima aja, Suk. Lumayan. Siapa tahu Mas Gatra bisa jatuh cinta sama elu," ucap Rasya. Namun, Zety justru menggeleng cepat.
__ADS_1
"Ra, elu harus tahu satu hal kalau sampai saat ini Mas Gatra belum bisa move dari elu. Cintanya masih buat elu—"
"Sembarangan kalau ngomong!" Rasya menepuk pundak Zety cukup kencang. Tanpa peduli pada rintihan gadis itu. "Gue udah punya suami, jadi gue enggak bakal mikir hal kaya gitu."
"Gue ngomong beneran, Ra." Zety berbicara disela ringisannya karena rasa panas bekas tepukan tangan Rasya.
"Suk, saran gue nih, mending elu kejar cinta Mas Gatra deh. Siapa tahu dia bisa jatuh cinta sama elu," ucap Margaretha.
"Iya kalau jatuh cinta. Lah, kalau gue ternyata enggak bisa bikin Mas Gatra move-on? Yang ada gue nyesek." Zety memejamkan mata saat merasakan hatinya berdenyut sakit.
"Udahlah, kalian jangan bahas itu. Mending sekarang kita pulang. Gue mau siap-siap. Piknik guys! Piknik! Ngadem otak." Zety berbicara dengan antusias. Sementara ketiga sahabatnya mencebik kesal.
"Enak banget elu, Suk. Tega amat ninggalin gue sendirian." Margaretha berpura-pura menangis, tetapi sahabatnya tidak ada yang peduli. Membuat Margaretha menjadi kesal sendiri.
"Harus dibiasakan buat kalian berdua karena sebentar lagi entah Suketi ataupun Markonah. Gue yakin sebentar lagi bakal ada yang married entah itu siapa duluan," ucap Zahra dan hanya disambut anggukan oleh ketiga sahabatnya.
***
__ADS_1
Zety dan Margaretha baru saja sampai di rumah kontrakan, sedangkan Rasya dan Zahra langsung pulang ke rumah sebelum malam makin larut. Baru saja hendak masuk ke dalam kamar, Margaretha memanggil Zety. Menghentikan gerakan tangan gadis itu yang hendak membuka pintu. Zety berbalik, dan menatap Margaretha yang juga sedang menatapnya dengan tatapan yang susah dijelaskan.
"Ada apa, Mar?" tanya Zety, keningnya mengerut dalam. Dia merasa seperti ada sesuatu yang akan dibicarakan oleh Margaretha.
"Jujur sama gue, Suk. Di sini hanya ada kita berdua dan gue janji enggak akan bilang ke siapa pun termasuk Kurap dan Zaenab." Suara Margaretha terdengar begitu memohon. Mengharap sahabatnya mau jujur kepadanya.
Zety masuk ke kamar tanpa menutup pintu. Margaretha pun mengikut di belakang Zety. Duduk di tepi tempat tidur bersama gadis itu. Margaretha bisa melihat raut wajah Zety yang mendadak sendu.
"Mar, sadarkan gue." Zety menghela napas panjangnya. "Sadarkan gue kalau gue enggak bakal bisa dapetin cinta Mas Gatra. Apa pun usaha yang udah gue lakukan. Hati Mas Gatra masih milik Rasya, sementara sekarang ada cewek cantik yang berada di samping Mas Gatra."
"Kita kan belum tahu, Suk, siapa cewek itu. Barangkali cuma adik, atau sepupunya," sela Margaretha. Zety mendengkus kasar karenanya.
"Kalau perasaan gue mengatakan kalau cewek itu bukan hanya sekedar saudara Mas Gatra, Mar." Zety menghela napas panjang. "Udahlah, jangan bahas lagi. Mending sekarang kita tidur aja. Elu temenin gue tidur di sini. Gue lagi enggak mau sedih-sedihan."
Margaretha yang masih penasaran pun hanya bisa mengiyakan dan tidur di samping sahabatnya. Hampir setengah jam berlalu, Margaretha sudah tertidur lelap, sedangkan Zety justru masih membuka mata lebar. Dia benar-benar tidak bisa tidur saat bayangan Gatra selalu terlintas dalam benaknya.
"Semoga ada jalan untukku, Mas. Haruskah aku menghapus perasaanku untukmu sebelum terlalu dalam ataukah aku harus mengejar cintamu. Kamu jangan bodoh, Suk! Mana ada cewek ngejar-ngejar cowok. Udah kaya cewek rendahan aja." Zety mengumpati dirinya sendiri lalu berusaha keras memejamkan matanya. Dia mencoba beristirahat karena untuk persiapan besok melakukan perjalanan jauh.
__ADS_1