
Zety duduk cemas menanti Gatra kembali melanjutkan ucapannya. Mungkinkah lelaki itu benar-benar akan menembaknya seperti apa yang diperkirakan Margaretha atau akan ada hal lain yang dibicarakan dan mungkin saja hal itu justru akan menyakiti hatinya.
"Zet, sebenarnya aku mengajakmu ke sini karena ingin meminta bantuanmu." Gatra tampak ragu-ragu.
"Bantuan apa, Mas?" tanya Zety penasaran.
"Em, aku ingin kamu menjadi pacar pura-puraku."
"Jangan bercanda, Mas! Aku tidak mau!" potong Zety, tidak percaya.
"Zet, tunggu dulu. Aku hanya mengajakmu menjadi pacar pura-pura agar perjodohanku dengan Shifa menjadi gagal. Aku tidak ingin bertunangan apalagi menikah dengan dia," keluh Gatra. Wajahnya tampak memelas.
"Kenapa, Mas? Padahal Nona Shifa itu cantik, baik, kaya raya, pintar," puji Zety, tetapi Gatra justru menggeleng cepat.
"Dia bukan kriteria cewek idamanku," sahut Gatra.
Mendengar jawaban Gatra, Zety mendes*hkan napas ke udara. "Mas, lalu seperti apa kriteria wanita idaman kamu? Seperti Rasya?" Zety berusaha menyudutkan Gatra. Benar saja, Gatra langsung diam tanpa mengelak sama sekali. Membuat Zety yakin kalau dugaannya memanglah benar.
"Mas, coba kamu jangan terlalu berpatok pada wanita idaman harus seperti Rasya. Karena sejatinya tidak ada orang yang sama di dunia ini. Bahkan, orang yang notabene sebagai saudara kembar pun pasti memiliki perbedaan. Kalau kamu hanya menginginkan pendamping yang seperti Rasya karena kamu mencintai dia, yakinlah, Mas. Itu bukan cinta melainkan hanya obsesi semata," tutur Zety.
__ADS_1
Gatra terdiam mendengar ucapan Zety yang lebih seperti sindiran keras untuknya. Ucapan Zety memang hampir sepenuhnya benar. "Lalu aku harus bagaimana?"
"Mas, coba buka hatimu untuk wanita lain meskipun dia tidak seperti Rasya, tetapi aku yakin kalau dia pun bisa membuat hidupmu bahagia. Seperti Nona Shifa, misalnya. Dia sangat sempurna dan cocok untukmu. Lalu kenapa kamu justru menolaknya?" tanya Zety. Bibirnya tersenyum paksa.
"Tapi aku tidak bisa menerima Shifa. Entahlah, hatiku tidak cocok dengannya. Itulah sebabnya aku ingin kamu menjadi pacar pura-puraku, agar perjodohanku bisa gagal. Berapa pun uang yang harus dibayar, aku akan membayarnya," ucap Gatra yakin.
Zety menatap Gatra lekat, berusaha menelisik kesungguhan dari sorot mata lelaki itu. "Kalau aku terima, aku takut ketahuan, Mas. Aku bukan orang yang pandai berbohong apalagi bersandiwara." Zety duduk bersandar dan mengembuskan napasnya secara cepat.
"Tidak mungkin ketahuan kalau ada aku di sampingmu. Ini hanya sementara, kalau perjodohanku benar-benar gagal maka setelah itu aku akan membebaskanmu dan menuruti apa pun permintaanmu," ucap Gatra mengulangi.
"Kamu yakin dan janji?" tanya Zety lagi. Gatra mengangguk cepat sebagai jawaban. Zety menyodorkan jari kelingkingnya, Gatra pun segera menautkan dengan kelingking miliknya. Senyum Zety pun mengembang sempurna. "Baiklah, aku terima."
"Sekarang katakan keinginanmu jika rencana kita berhasil. Agar aku siapkan sejak sekarang," ucap Gatra antusias. Dia berharap besar rencana yang telah dia susun bisa berjalan lancar.
"Tidak perlu disiapkan, Mas. Permintaanku mudah, kok. Aku cuma pengen diajak ke bukit untuk melihat bintang-bintang," jawab Zety. Membuat Gatra menatap tidak percaya.
"Itu saja?" tanya Gatra memastikan. Zety mengangguk cepat. "Kenapa mudah sekali? Aku pikir kamu akan minta apartemen mewah, tas branded, perhiasan, ataupun sejenisnya," kata Gatra. Namun, tawa Zety justru meledak hingga membuat Gatra kaget sendiri.
"Enggak lah, Mas. Buat apa? Aku justru lebih suka hal yang sederhana. Tinggal di rumah kontrakan, makan seadanya, tanpa mikir hal seperti itu. Itu justru lebih menyenangkan. Hidup sebagai orang kaya tidak selalu dalam kebahagiaan, Mas." Zety tersenyum getir.
__ADS_1
"Kamu benar. Harta dan kekayaan serta jabatan tidak bisa dijadikan tolak ukur kebahagiaan seseorang," imbuh Gatra. Dia menoleh dan terkejut melihat Zety sedang mengusap air matanya. "Kenapa kamu menangis?" tanyanya cemas.
"Aku tidak papa, Mas. Kelilipan." Zety menjawab asal.
"Alasan model jadul! Aku tahu kamu menangis, Zet. Lebih baik gini saja, karena kamu sudah setuju maka besok aku akan memperkenalkan kamu ke mamaku. Aku yakin mama pasti akan senang denganmu." Gatra berbicara serius, tetapi ucapan itu sontak membuat Zety tertegun sesaat.
"Kamu jangan bercanda, Mas." Zety menggeleng tidak percaya.
"Aku serius, Zet. Lebih cepat lebih baik." Keputusan Gatra tidak bisa diganggu gugat. Zety pun merutuki dirinya yang terlalu cepat mengambil keputusan. "Lebih baik sekarang kita pulang. Ini sudah terlalu malam."
Zety pun tidak berbicara apa pun. Dia hanya mengiyakan lalu bangkit dan berjalan pulang bersama Gatra. Zety berharap kalau keputusannya saat ini bukanlah sebuah keputusan yang salah.
'Semoga semua tepat sasaran.' Zety berdoa dalam batin.
••••
hayooo lohhh.
Suketi ... Suketi ... 😆😆😆
__ADS_1