Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
22


__ADS_3

Wajah Zety mendadak sendu. Hatinya merasa sakit saat Gatra menatap Rasya penuh cinta. Ingin rasanya dia berteriak sekeras mungkin, tetapi dia terlalu malu. Mengingat kalau dia sekarang bukan berada di hutan yang bisa bebas berteriak seenak udel sendiri. Zety menghela napas panjang dan hendak mengurungkan niatnya untuk bertemu orang tua Gatra. Namun, Rasya memiliki kepekaan yang tinggi. Dia langsung menggandeng tangan Zety dan menggenggamnya erat.


"Aku baik-baik saja, Mas," jawab Rasya lembut. Bibirnya tersenyum simpul hingga membuat jantung Gatra kembali berdebar kencang. "Oh iya, Mas. Aku seneng banget kalau akhirnya kamu bisa dekat sama Suketi. Aku titip dia ya, Mas. Jangan dibikin sakit hati karena dia adalah orang yang sangat berharga untukku."


"Apaan sih, Ra," bisik Zety. Namun, Rasya justru mengedipkan mata, memberi kode agar Zety diam.


"I-iya, Ra. Pasti." Gatra menjawab, meskipun dia tidak yakin dengan ucapannya.


"Ya udah sana berangkat. Hati-hati di jalan," suruh Rasya. Sedikit mendorong tubuh Zety perlahan agar mendekat ke tempat Gatra.


"Terus elu mau pulang, Ra?" tanya Zety heran.


"Ya iyalah. Kalau gue enggak pulang, bisa jadi Om Panu enggak ngijinin gue keluar rumah lagi."


Baru saja Rasya selesai berbicara, mobil Pandu sudah berhenti tepat di samping mobil Gatra. Lelaki itu masuk dan langsung berjalan mendekati istrinya. Pandu khawatir saat melihat Gatra berada di depan Rasya.


"Hai, Sayang. Jagoan Daddy." Pandu mencium perut Rasya penuh cinta lalu tak lupa menghujani wajah istrinya dengan banyak ciuman. Gatra yang melihat itu pun hanya bisa memalingkan wajah saat hatinya terasa memanas.


Ponsel Gatra tiba-tiba berdering. Ternyata itu adalah panggilan dari Maria yang menanyakan keberadaan Gatra karena lelaki itu belum juga sampai rumah, padahal Maria sudah menunggu sejak tadi. Setelah panggilan itu terputus, Gatra pun berpamitan dan langsung mengajak Zety untuk berangkat. Zety awalnya ragu, tetapi ketiga sahabatnya mengacungkan ibu jari, dan membisikkan doa semoga semua berjalan lancar.


"Dia tidak melakukan apa pun padamu?" tanya Pandu cemas. Rasya terkekeh lalu mengalungkan tangan di leher suaminya.


"Enggak, Mas. Mendingan sekarang kita pulang. Aku kangen sama kamu," ucap Rasya manja. Tanpa berbicara apa pun, Pandu segera membopong Rasya dan mengajak masuk ke mobil. Lalu mereka pun pergi begitu saja meninggalkan Zahra dan Margaretha.


"Lah, tumben amat laki elu kagak sama Om Panu, Zae?" tanya Margaretha heran karena tadi Pandu hanya datang sendirian. Bukannya menjawab, Zahra justru bersidekap dan berjalan masuk. Bibirnya mengerucut sampai maju beberapa centi.


"Yaelah, kaya bocah aja elu, Zae. Emang kenapa? Elu lagi ngambek sama Tuan Arga?" Margaretha terlihat penasaran.


"Hmmm, jangan sebut nama dia. Gue lagi kesel."


"Emang kesel kenapa, sih, Zae? Kurang jatah?" tebak Margaretha diiringi kekehan.

__ADS_1


"Udahlah, Mar. Jangan banyak nanya. Udah kaya wartawan aja elu, Mar. Pokoknya gue lagi kesel, kesel, kesel!" Zahra merem*skan kedua tangannya dan terlihat begitu gemas. Margaretha pun tergelak karena mimik wajah sahabatnya terlihat sangat lucu.


"Terus elu mau tidur di sini? Kalau iya, gue seneng banget ada temennya di rumah jadi enggak gabut," kata Margaretha antusias.


"Entah gue mau tidur di mana. Yang penting bukan di rumah," gerutu Zahra.


"Terus elu mau tidur di mana kalau bukan di rumah? Di kolong jembatan?"


"Ish! Elu jangan ngeselin deh, Mar!" Zahra mencebik kesal.


Tin tin!


Terdengar bunyi klakson. Zahra dan Margaretha pun mengintip dari balik tirai dan melihat Arga yang sedang turun dari mobil.


"Laki elu, Zae." Margaretha menepuk bahu Zahra cukup kencang.


"Astaga, sakit, Mar!" protes Zahra mengusap bekas tepukan tangan Margaretha. "Biarin ajalah!" Zahra duduk di sofa tanpa berniat menemui Arga. Margaretha pun menjadi bingung sendiri apalagi sekarang terdengar pintu yang diketuk.


"Kalau gitu, saya pamit bikin minum dulu," pamit Margaretha hendak pergi, tetapi Arga justru menahannya. Meskipun bibirnya cemberut, tetapi ekor mata Zahra tidak terlepas sama sekali dari gerak-gerik Arga. "Ada apa, Tuan?" Margaretha justru merasa gugup sendiri.


"Ini bungkusan buat kamu. Ini makanan kesukaan Zahra, tapi sepertinya dia tidak mau. Jadi, kuberikan padamu saja daripada dibuang malah mubazir," ucap Arga. Menyodorkan plastik tersebut ke arah Margaretha dan dia berusaha keras untuk menahan tawanya.


"Wah, terima kasih banyak, Tuan." Margaretha tampak antusias hendak meraihnya, tetapi dia terkejut saat Zahra sudah merebutnya dengan cepat. "Zae, itu udah buat gue." Margaretha hendak merebut kembali bungkusan tadi.


"Enak aja, ini punya gue." Zahra menyembunyikan di belakang tubuh dan Margaretha masih berusaha merebut. Namun, mereka terdiam saat Arga justru merebutnya dan mengangkat tinggi-tinggi.


"Mas! Itu buat aku! Aku yakin kalau itu makanan yang aku inginkan!" kata Zahra berteriak. Dari baunya saja Zahra sudah tahu kalau itu makanan kesukaannya.


"Katanya kamu tidak mau," ledek Arga. Menahan tawa.


"Aku mau," rengek Zahra persis seperti anak kecil.

__ADS_1


"Kalau mau maka cium dulu pipiku sepuluh kali. Baru kuberikan padamu," kata Arga menggoda. Zahra menolak, tetapi dia pun sangat menginginkan makanan itu. "Ayo, kalau kelamaan aku berikan kepada si Mar lagi," imbuhnya.


Cup cup cup. Zahra mencium seluruh wajah Arga sampai banyak bahkan lebih dari sepuluh kali. Arga pun tersenyum semringah lalu merengkuh tubuh istrinya dan membalas ciuman wanita itu dengan penuh cinta. Zahra yang barusan cemberut kini tersenyum lebar. Margaretha pun mencebik kesal karenanya.


"Kamu tidak marah lagi?" tanya Arga lembut. Zahra menggeleng dengan cepat. "Kalau begitu sekarang kita makan."


Zahra pun sangat bersemangat membuka bungkusan tersebut karena dia sudah sangat menginginkannya. Namun, baru saja melepas plastiknya, gerakannya sudah terhenti saat mendengar ucapan Margaretha.


"Itu udah jadi milik gue loh, Tuan Arga udah berikan buat gue tadi," kata Margaretha.


"Enak aja. Ini punya gue, Mar!"


"Punya gue dong. Silakan makan aja. Asal elu tahu, Zae. Katanya kalau kita ngasih sesuatu ke orang terus diminta lagi, bisa-bisa kita kena penyakit gondok. Elu mau kena gondok, Zae?" Margaretha berusaha menakuti Zahra. Benar saja, Zahra langsung memberikan bungkusan tersebut secara kasar kepada Margaretha.


"Mas," rengek Zahra.


"Kita beli lagi." Arga pun menggendong Zahra di belakang lalu keluar rumah tersebut. Arga tidak mau terlalu banyak berdebat yang akan membuat kepala atas-bawahnya menjadi pusing semua. Lebih baik mengambil jalan aman, begitu pikir Arga.


"Mau ke mana elu, Zae?" tanya Margaretha setengah berteriak.


"Gue mau beli lagi. Dah itu buat elu aja daripada gue gondok'an," balas Zahra ikut berteriak. Margaretha pun bersorak kegirangan.


"Aseekk, akhirnya gue dapat makanan gratis juga. Biarlah mereka bertiga sama pasangan masing-masing. Gue sebagai jomlo bermartabat mending makan aja biar sehat dan kuat. Haha." Margaretha tergelak sendiri. Dia menghirup aroma makanan tersebut terlebih dahulu dan dengan cepat hendak menyantapnya.


"Kita juga mau dong, Kak!"


Margaretha tersentak saat mendengar suara dari arah belakang. Tubuhnya merinding saat berbagai aneka jenis hantu membayangi pikirannya karena seingat Margaretha, dia hanya sendiri di rumah itu. Dengan segala keberanian, dia membalik badan dan terkejut saat melihat tiga orang MUA yang barusan mendadani Zety ternyata masih berada di situ. Margaretha pun mengembuskan napas lega berkali-kali.


"Gue pikir kalian hantu. Kenapa kalian masih di sini?" tanya Margaretha.


"Bagaimana kita mau pulang, Kak. Kita aja belum dibayar," sahut salah satu di antara mereka.

__ADS_1


"Jadi, kalian belum dibayar?" tanya Margaretha lagi. Ketiga orang itu pun mengangguk cepat secara serentak. "Astaga, Kurap, Zaenab!! Emang sialan lu!"


__ADS_2