Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
30


__ADS_3

Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan dan setiap penyesalan pasti ada di belakang. Kalau di depan namanya pendaftaran. Begitu juga dengan apa yang dirasakan oleh Bram saat ini. Lelaki paruh baya itu hanya bisa merenung dan mematung di tepi brankar tempat Zety terbaring lemah tidak berdaya. Tidak ada celotehan, tawa bahkan sekadar senyum. Yang ada hanyalah wajah pucat dan berbagai alat yang tertancap di tubuh gadis itu.


Bram menatap Zety lekat. Mengamati setiap inchi wajah gadis itu. Jika diamati lebih detail, Zety lebih menuruni garis wajah dirinya. Jika dulu Bram selalu menatapnya penuh benci dan ingin membunuh gadis itu, tetapi tidak sekarang. Ucapan Zety kemarin seperti sebuah tamparan keras untuk dirinya. Kalimat demi kalimat yang terlontar dari bibir Zety, membuat dirinya disadarkan dari sebuah kekhilafan. Bram menyesal. Bahkan sangat. Jika dulu Bram mengupayakan segala cara untuk membuat Zety lenyap dari dunia ini, tetapi sekarang tidak lagi. Melihat Zety yang terbaring seperti ini, batin Bram bergejolak hebat. Ada rasa sakit yang lelaki itu rasakan.


"Tuan, beristirahatlah. Biar saya yang menunggu." Margaretha berbicara sopan. Dia tidak tega melihat lelaki paruh baya itu terus saja duduk di samping Zety tanpa mau beranjak sedikit pun. Bram masih menolak. Menggeleng tanpa membuka suara sama sekali.


"Gimana?" tanya Zahra saat Margaretha keluar dari ruangan tersebut. Margaretha menggeleng dan tampak pasrah.

__ADS_1


"Lelaki itu tidak mau beranjak sama sekali." Margaretha pasrah. Duduk di kursi tunggu dan disusul oleh yang lain.


"Terus gimana?" Rasya mendes*h kasar.


"Ra, mending suruh suami lu aja deh buat bujuk tuh orang. Mungkin aja dia mau kalau diajak sama Tuan Pandu." Margaretha memberi usul. Rasya terdiam sesaat untuk berpikir lalu mengangguk mengiyakan dan segera menghubungi suaminya.


Tanpa menunggu lama, Pandu yang kebetulan sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit untuk menjemput Rasya pun menyuruh Arga untuk melajukan mobilnya lebih cepat. Setibanya di rumah sakit, mereka langsung disambut. Tak lupa Pandu mendaratkan banyak ciuman di kening sang istri. Setelahnya, Pandu masuk dan mengajak Bram untuk mengobrol di luar. Bram merasa berat meninggalkan Zety, tetapi dia juga tidak enak hati jika menolak ajakan Pandu.

__ADS_1


"Suk, kenapa elu tidur mulu sih. Bangun dong, gue kangen banget sama elu." Margaretha menggoyangkan perlahan tubuh Zety. Namun, sama sekali tidak membuat mata Zety terbuka. Masih tetap sama.


"Iya, Suk. Katanya elu pengen menyambut kelahiran Baby Bisul. Padahal sebentar lagi keponakan gantengmu ini akan lahir. Elu yakin enggak ingin gendong Baby B, 'kah?" Air mata Rasya tak bisa dibendung lagi. Dia menangis dalam pelukan Margaretha. Ketiga sahabat itu tak kuasa menahan air mata. Terus menangis dan memanggil Zety untuk bangun. Namun, semua hanyalah sia-sia karena Zety masih saja terlelap dalam tidur panjangnya dan entah kapan gadis itu akan terbangun.


***


"Bedebah!" umpat Gatra. Membuang ponsel miliknya hingga membentur tembok terlebih dahulu sebelum akhirnya jatuh ke lantai. Gatra menggeram marah setelah melihat sebuah rekaman video dari seseorang. Maria yang mendengar suara keras dari kamar putranya pun segera masuk untuk memastikan.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu terkejut saat melihat Gatra sedang berdiri. Raut wajahnya dipenuhi amarah dan tatapan matanya tampak sangat tajam. Dengan langkah tergesa Maria mendekati sang putra dan berusaha mencari tahu penyebab kemarahan Gatra.


"Ma, apa pertunanganku dengan Shifa akan tetap dilanjutkan?" tanya Gatra. Berusaha agar amarahnya tidak meluap saat ini


__ADS_2