Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
36


__ADS_3

Sebuah fakta yang sangat mengejutkan membuat Zety tak tega untuk melepaskan pelukannya. Gadis itu sangat tidak menyangka jika hidup Margaretha ternyata setragis itu. Bram yang berdiri di samping dua gadis itu pun hanya menatap mereka.


"Mar, kenapa elu kagak pernah cerita sama gue selama ini?" tanya Zety. Membantu menghapus air mata dan melerai pelukannya.


"Hal menyakitkan kagak perlu diceritakan, Suk." Margaretha pun menghapus air mata. "Makanya, lu maafin deh bokap lu itu dan kasih kesempatan buat beliau memperbaiki semuanya. Tuhan aja Maha Pemaaf, masa kita yang manusia biasa kagak, Suk."


Zety terdiam dan menatap Bram yang juga sedang menatap ke arahnya. Dia memang sangat kecewa dan terluka dengan sikap Bram selama ini, tetapi mendengar nasehat sahabatnya membuat Zety sedikit sadar dan memberikan kesempatan bagi Bram. Tentu saja, Bram merasa sangat bahagia akan hal itu. Margaretha pun mengucap syukur dan berharap semoga hubungan ayah dan anak itu bisa membaik.


***


Gatra berjanji bertemu di depan hotel terlebih dahulu sebelum akhirnya mereka berdua masuk bersama. Shifa tidak curiga sama sekali dan justru bersikap seolah sangat bahagia bisa berdua dengan Gatra. Begitu juga dengan Gatra yang tetap bersikap tenang.


"Kamu yakin mengajakku menginap di sini, Mas?" tanya Shifa saat mereka baru masuk kamar. Shifa langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, sedangkan Gatra duduk di sampingnya.


"Ya, meskipun hanya semalam." Gatra menjawab sekenanya. Lelaki itu mengeluarkan ponsel dan terlihat sibuk dengan benda pipih itu.


"Mas, tumben sekali kamu mengajakku ke hotel. Memangnya kamu tidak takut ketahuan sama Tante Maria?" tanya Shifa lagi. Gatra hanya menggeleng dan masih fokus pada ponselnya. Namun, Gatra tersentak saat Shifa tiba-tiba menggenggam tangannya erat bahkan menggoda.

__ADS_1


"Turunkan tanganmu," perintah Gatra, tetapi Shifa tidak peduli dan justru menarik tubuh Gatra hingga lelaki itu berbaring tepat di sampingnya. "Apa yang kamu lakukan, Shifa!" Suara Gatra meninggi.


"Mas, kita ini sebentar lagi akan tunangan. Jadi, apa salahnya kita seperti ini. Lagi pula, untuk apa kamu mengajakku ke hotel kalau bukan buat hal ini." Shifa dengan berani menindih tubuh Gatra meskipun sekuat tenaga Gatra berusaha untuk menghindar.


"Lepaskan. Kamu memang benar-benar ******!" Gatra menghempaskan tubuh Shifa hingga jatuh terjengkang di atas lantai. Shifa mendengkus kasar, sedangkan Gatra bergegas bangkit.


"Mas! Kenapa kamu tega sekali padaku?" Shifa merengek, mencari simpati Gatra, tetapi lelaki itu justru terlihat tidak peduli sama sekali.


"Wanita sepertimu memang pantas mendapatkannya. Aku tidak menyangka ternyata wajah imut kamu itu hanyalah topeng untuk menutupi betapa jalangnya dirimu!" Gatra menatap Shifa penuh benci.


Mendengar cemoohan Gatra, Shifa pun bergegas bangkit dan menatap menantang ke arah Gatra. "Kenapa tega sekali kamu berbicara seperti itu padaku, Mas?" Shifa mulai berdrama untuk menarik simpati Gatra. Namun, Gatra justru tersenyum sinis.


"Aku tidak tahu apa maksud kamu, Mas?" Shifa mengerutkan kening, menatap heran ke arah Gatra.


"Lihatlah ini dan kamu akan tahu semuanya." Gatra menyerahkan ponselnya dan memutar rekaman video di mana kerusuhan kemarin terjadi. Bola mata Shifa membulat penuh. Tidak menyangka kalau Gatra akan tahu semuanya.


"Da-dari mana kamu dapat rekaman ini, Mas?" Shifa menggeleng. Masih belum percaya. "Ini rekayasa!"

__ADS_1


"Kamu bilang rekayasa? Kalau itu rekayasa tidak mungkin Zety sampai masuk rumah sakit karena luka tembak! Jangan berlagak suci lagi, aku muak! Untung saja kita belum jadi bertunangan. Jadi, lebih baik mulai sekarang kamu menjauhlah dari hidupku maupun keluargaku!" kata Gatra setengah membentak.


"Mas ...."


"Ingat, aku akan selalu mengawasimu. Mulai sekarang menjauhlah!" Gatra mengambil ponselnya kembali dan pergi ke luar kamar begitu saja. Tanpa peduli pada teriakan Shifa yang memintanya untuk berhenti. Lelaki itu terus saja melangkah pergi.


"Mas!" Shifa menghela napas panjang saat Gatra tidak mau menoleh ataupun berhenti sama sekali. "Lihat saja! Aku akan menghancurkan kalian semua!" Shifa saling memukulkan kepalan tangannya sembari menggerutukkan gigi-giginya.


β€’β€’β€’β€’


Hallo guys, lagi pada sibuk lomba Agustusan pasti ya?


Othor juga pengen ikut lomba.


lomba apa, Thor?


Lomba makan seblak πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

__ADS_1


Astaga, seblak Mulu sampai bosen, Thor.


Pantes muka Othor udah kek seblak ya πŸ™ˆπŸ™ˆ


__ADS_2