Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
44


__ADS_3

Kamar Zety yang berada di rumah Bram tampak ramai. Rasya yang dilarang Pandu untuk datang pun memaksa suaminya karena khawatir pada sahabatnya. Pandu menolak, tetapi Rasya justru berakting menangis hingga Pandu hanya bisa menuruti keinginan istrinya. Setibanya di kamar Zety, mereka langsung berpelukan erat. Begitu juga dengan Margaretha dan Zahra yang ikut berpelukan untuk memberi ketenangan pada Zety.


Bram menggeram marah saat melihat keadaan Zety yang masih ketakutan. Tangan dan kaki gadis itu terluka karena ikatan tali saat hendak melepaskan diri. Sudut bibir Zety pun masih meninggalkan bekas darah dan memerah karena tamparan. Bram ingin sekali membuat perhitungan kepada Shifa, tetapi dia akhirnya menyerahkan semuanya kepada pihak berwajib karena tidak ingin membuat masalah baru. Bram ingin menghabiskan waktunya bersama Zety. Jika bukan karena hal itu, Bram sudah pasti akan menghabisi nyawa Shifa saat ini juga.


"Suk, moga cepet sembuh ya." Rasya rasanya tidak tega saat melihat Zety yang saat ini sedang tersenyum paksa. Raut wajahnya tidak secerah biasanya.


"Makasih, Ra." Zety berusaha untuk tetap tersenyum. Tidak ingin membuat sahabatnya makin khawatir.


"Coba aja kalau gue di sana, udah gue uleg-uleg tuh orang!" Zahra saling memukul kepalan tangannya. Bahkan, giginya sampai saling bergemerutuk saking marahnya.


"Emangnya elu berani, Zae?" tanya Margaretha setengah meledek.


"Jangan ngeledek elu, Mar. Ya jelaslah gue kagak berani." Zahra tergelak sesaat karena sepersekian detik selanjutnya kepalanya menggeleng ditonyor oleh Margaretha.


"Ehem!"


Margaretha menelan ludah kasar saat mendengar suara dehaman. Dia menoleh dan menunjukkan tanda piece ke arah Arga yang sudah menatapnya tajam. Zahra yang melihat itu pun hanya terkekeh. Tidak sia-sia Zahra membawa Arga bersamanya, setidaknya lelaki itu bisa menjadi suami sekaligus bodyguard untuknya.


"Tuan Pandu dan Tuan Arga, mari kita duduk di ruang tamu saja. Kita bisa ngopi santai," ajak Bram. Sengaja memberi waktu kepada tiga gadis somplak agar bebas menghibur Zety. Pandu yang paham akan hal itu pun, mencium kening Rasya sangat lama lalu berpamitan ke luar. Ada beberapa hal yang juga akan dibahas oleh Pandu.


Selepas kepergian suaminya, Rasya menatap Zety penuh selidik. Mengamati setiap inchi tubuh gadis itu lalu menghela napas panjang setelahnya. Zety pun hanya menatap Rasya tanpa membuka suara sama sekali.


"Lu kagak sampai ditelanjangi mereka 'kan, Suk?" tanya Rasya. Dia takut pertanyaan itu akan menyinggung perasaan Zety, tetapi Rasya pun tak kuasa menahan rasa penasarannya. Bukan hanya penasaran, tetapi sangat khawatir jika ternyata sahabatnya berhasil dinodai oleh dua orang itu.

__ADS_1


Zety membungkam rapat mulutnya, tetapi air mata tampak menggenang dan hampir membanjiri wajah Zety jika tidak menahannya sekuat tenaga. Ketiga Tapi sahabat somplak itu terkejut saat Zety menyingkirkan rambutnya ke belakang dan terlihatlah sebuah tanda kepemilikan di leher jenjang Zety.


"Suk!" Ketiga sahabat itu saling menatap tidak percaya. Zety menghela napas panjangnya.


"Mereka emang enggak jadi nelanjangi gue, tapi salah satunya berhasil nyium gue dan ini sangat menjijikkan! Gue benci banget! Rasanya pengen gue potong leher ini biar gue enggak lihat tanda sialan ini!" Zety mengepalkan tangannya dan saling memukul. Margaretha yang duduk tepat di samping Zety pun langsung memeluk sahabatnya erat.


"Suk, kalau itu pasti nanti bisa hilang, tapi syukurlah kalau mereka tidak menodaimu." Margaretha mengusap punggung Zety untuk menenangkannya.


"Tapi gue kotor, Mar!" Zety hampir memukul dirinya sendiri, tetapi Margaretha dengan cepat menahannya.


"Enggak. Elu masih suci. Lelaki itu ada yang biadap!" Margaretha pun tampak marah dan ingin sekali membunuh lelaki itu.


Tadi, ketika mendengar dan melihat keadaan Zety, Margaretha hampir saja membunuh lelaki yang sudah terluka itu. Membalaskan apa yang telah mereka lakukan, tetapi Andra melarang keras. Lelaki itu justru meminta Margaretha untuk pergi, sedangkan Andra akan membawa dan mengurus orang tersebut di kantor polisi.


"Mar ... udah. Yang penting Suketi masih bersama kita. Jangan mikir macem-macem. Kalau elu bertindak gegabah gitu yang ada kita bakal kehilangan elu, Mar. Gue kagak mau." Rasya memeluk mereka berdua dan disusul oleh Zahra.


Ini memang berat bagi mereka, tetapi mereka akan saling menguatkan dan menghibur. Semuanya sudah cukup dan mereka berharap tidak ada masalah apa pun lagi. Zety pun berusaha melupakan kenangan pahit itu. Meskipun masih meninggalkan sedikit trauma.


***


"Nona, Tuan Bram menyuruh Anda agar berhenti bekerja di restoran." Kiano berdiri di belakang Zety yang sedang duduk sendirian di ayunan.


"Gue enggak mau. Besok juga gue mau bekerja lagi. Udah cukup gue libur tiga hari." Zety menolak tegas.

__ADS_1


"Tapi, Nona. Sudah waktunya Anda belajar mengelola bisnis milik Tuan Bram. Kelak, hanya Anda yang akan mengelola semuanya." Kiano masih berbicara sopan meskipun dia merasa sedikit enggan.


"Sudah gue bilang. Gue bakalan tetep kerja di restoran. Gue kagak bisa ngurus gituan. Mending elu aja sana yang ngurusin." Zety turun dari ayunan dan berbalik menatap kesal ke arah Kiano. Gadis itu terlihat mencebikkan bibirnya dan Kiano tersenyum samar.


"Nona, mau tidak mau Anda tetap harus belajar mengurus semuanya." Kiano masih bersikukuh. Zety mendengkus kasar dan berjalan menghentak hendak meninggalkan Kiano begitu saja.


"Bilang saja kalau Anda tetap ingin bekerja di restoran karena Anda cinta dengan Mas Gatra, Nona." Ucapan Kiano tersebut seketika menghentikan langkah Zety yang baru saja melewatinya. Zety menoleh, menatap Kiano dengan tatapan yang susah dijelaskan, sedangkan Kiano justru tersenyus tipis dan Zety melihatnya sebagai senyum ledekan.


"Jangan sok tahu lu!" Zety bersidekap. Cemberut kesal, tetapi memalingkan wajah karena tidak ingin Kiano menatap matanya.


"Saya hanya berbicara fakta, Nona. Tapi alangkah baiknya kalau Anda membuka hati Anda untuk orang lain, Nona." Kiano berbicara santai, tetapi Zety menatapnya tajam. Raut wajahnya penuh dengan kekesalan.


"Apa maksud lu?" Zety berusaha menahan gejolak hatinya.


Kiano menghela napas panjangnya dan mengembuskan secara perlahan, "Nona, untuk apa Anda mencintai orang yang hatinya masih mencintai masa lalu."


"Tahu dari mana lu hal itu!" sela Zety sewot. Kiano hanya tersenyum tipis. "Jadi orang jangan sok tahu!" imbuhnya dan berbalik melangkah pergi.


"Lihat saja tatapan Mas Gatra kepada Nona Rasya. Masih penuh cinta meskipun saya hanya melihatnya satu kali."


Langkah Zety kembali terhenti. Gadis itu mematung di tempatnya. Dalam hatinya membenarkan ucapan Kiano. Jujur, Zety pun masih merasa cemburu jika sedang bersama Gatra dan Rasya. Tatapan lelaki itu masih tetap sama seperti dulu dan menandakan kalau perasaan Gatra masih menjadi milik Rasya.


"Untuk apa Anda mencintai lelaki yang tidak bisa tegas pada perasaannya? Lelaki seperti itu tidak pantas dicintai," ucap Kiano penuh sindiran.

__ADS_1


__ADS_2