
Setibanya di rumah sakit, Zety dan Margaretha berjalan setengah berlari menuju ke ruangan di mana Bram dirawat. Wajah Zety masih saja menunjukkan kekhawatiran yang teramat dalam. Begitu pintu terbuka, Zety mengembuskan napas lega saat melihat Bram sedang duduk bersandar, sedangkan Kiano berdiri di tepi brankar. Melihat kedatangan Zety, Kiano memundurkan tubuhnya dan membiarkan gadis itu mendekati Bram.
"Papa baik-baik saja?" tanya Zety. Bram tersenyum mendengar pertanyaan Zety.
"Ya, papa baik-baik saja." Bram mengusap puncak kepala Zety penuh kasih sayang dan mendaratkan ciuman di sana. Zety hanya menurut. Namun, dalam hati gadis itu merasa bahagia karena bisa merasakan kasih sayang dari sang papa. Mendengar jawaban Bram, tatapan Zety menajam ke arah Kiano. Namun, yang ditatap justru tetap terlihat tenang tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Kalau begitu lekaslah istirahat agar Papa bisa cepat pulang," kata Zety. Kembali menatap Bram. Zety yakin kalau sang papa tidak baik-baik saja saat ini. Terlihat jelas dari raut wajah lelaki itu yang tampak sendu dan sedikit pucat.
"Papa sebentar lagi juga akan pulang. Mungkin lusa. Sebenarnya, ada hal penting yang akan bicarakan sama kamu dan kita harus berbicara empat mata," kata Bram memberi kode. Kiano dan Margaretha yang paham akan kode tersebut pun segera berpamitan keluar dan membiarkan dua orang itu saling mengobrol serius.
Setelah pintu ruangan tertutup rapat, Bram segera menggenggam tangan Zety erat dan menatapnya lekat. Sementara Zety justru terdiam dan merasakan jantungnya berdebar kencang. Ada perasaan tidak nyaman yang menyelimuti hatinya saat ini.
"Zet, papa ingin meminta satu hal sama kamu. Maukah kamu mengabulkannya?" Bram menatap Zety penuh arti.
"Hal apa, Pa?" Zety bertanya balik dan dipenuhi rasa penasaran.
"Zet, papa ingin melihat kamu menikah dengan Kiano besok pagi."
__ADS_1
Zety tersentak mendengar permintaan Bram yang di luar perkiraannya. Dia menatap sang papa penuh tanya. Berpikir bahwa permintaan sang papa hanyalah lelucon. Namun, saat Zety menatap kedua mata sang papa, yang terlihat justru kesungguhan di sana.
"Kenapa Papa meminta hal seperti itu? Pa, aku tidak mencintai anak buah kesayangan Papa itu!" Suara Zety terdengar ketus. Bram tersenyum tipis dan menyuruh Zety untuk bersandar di bahunya saat ini. Zety pun hanya menurut.
"Bertahun-tahun Papa sudah menyakiti kamu dan sampai sekarang Papa masih sangat menyesal. Papa tidak pernah bisa menebus kesalahan yang pernah Papa perbuat. Dan kini ... Papa tidak yakin apakah masih bisa menjagamu atau tidak. Papa belum bisa melimpahimu dengan kasih sayang. Tapi, percayalah kalau papa ingin yang terbaik untuk kamu. Putri papa satu-satunya," kata Bram. Suaranya terdengar parau karena menahan tangis.
"Pa, jangan berbicara seperti itu. Papa pasti sembuh dan kita akan mengabiskan waktu bersama." Zety sedikit mendongak dan menatap Bram yang sedang mengusap air matanya.
"Ya, akan papa usahakan. Tapi, papa sangat berharap kamu bisa menuruti keinginan papa. Kiano itu lelaki baik dan bertanggung jawab. Bisa menjaga kamu dari segi apa pun. Papa sudah percaya sama dia. Mungkin untuk saat ini kamu belum mencintainya, tapi percayalah kalau kalian bisa saling jatuh cinta nantinya. Papa yakin kalau Kiano itu yang terbaik untukmu." Bram mengusap puncak kepala Zety dengan lembut dan sesekali menciumnya.
"Pa ... apa Papa serius dengan apa yang Papa bicarakan?" Zety berusaha memastikan hatinya di tengah rasa bimbang.
"Tapi, Pa. Aku harus berpikir matang-matang untuk hal ini." Zety mendes*hkan napasnya secara kasar.
"Ya, kalau bisa sebelum besok pagi kamu sudah memberi keputusan. Kalau memang kamu bersedia maka besok kamu akan ijab kabul sekalian."
Zety duduk tegak dan menatap sang papa. "Kenapa cepat sekali, Pa?" Zety rasanya belum bersedia.
__ADS_1
"Hal baik itu tidak baik kalau ditunda-tunda. Menurut papa, lebih cepat lebih baik. Kiano juga bisa bebas membantu mengurus perusahaan papa yang sudah menjadi atas nama kamu semuanya saat ini."
Lagi dan lagi, Zety dibuat terkejut dengan pernyataan sang papa. Dia ingin menolak, tetapi melihat sorot mata Bram yang terlihat begitu meminta, membuat Zety kembali berpikir keras. Nasehat-nasehat dari para sahabatnya kembali terngiang dalam ingatan. Di mana mereka pun lebih setuju Zety dengan Kiano daripada Gatra. Batin dan pikiran Zety seolah berkecamuk hebat saat ini. Namun, dia berusaha untuk bisa tegas pada perasaannya.
Zety menghela napas panjang dan mengembuskan secara kasar. Berusaha sebisa mungkin agar hatinya tenang saat ini. "Pa ... bolehkah Zety memberi keputusan saat ini?" tanya Zety pada akhirnya.
"Tentu saja. Justru itulah yang papa harapkan." Bram tersenyum simpul.
"Pa ... Zety akan memenuhi keinginan Papa untuk menikah dengan Kiano," ucap Zety. Senyum Bram merekah sempurna bahkan wajah lelaki itu tampak berbinar bahagia.
"Syukurlah. Terima kasih, Tuhan." Bram mengucap banyak rasa syukur karena Zety bersedia memenuhi keinginannya.
"Tapi, Zety tidak janji bisa jatuh cinta dengan Kiano. Dan kalau kita tidak cocok maka Zety akan segera mengajak berpisah," imbuh Zety. Memudarkan senyum Bram secara perlahan.
"Tidak apa. Biarlah waktu yang akan menjawab nanti. Kamu sudah bersedia saja Papa sudah sangat bahagia." Bram memeluk putrinya sangat erat. Dalam hati lelaki itu berdoa semoga Zety dan Kiano benar-benar berjodoh. Agar hati Bram bisa tenang jika suatu saat harus pergi meninggalkan Zety. Sementara Zety hanya diam dan berusaha meyakinkan hatinya.
***
__ADS_1
Margaretha yang jengah menunggu Zety keluar ruangan pun, memilih pergi dan berpamitan pada Kiano untuk ke kantin rumah sakit. Kiano hanya mengiyakan karena jujur lelaki itu pun sedang gelisah saat ini, menunggu dua orang itu selesai berbicara. Margaretha berjalan sendirian. Akan tetapi, belum juga sampai di sana, Margaretha terkejut saat seseorang menabraknya bahkan hampir membuat Margaretha terjatuh.
"Lu bisa jalan pakai—" omelan Margaretha tercekat di tenggorokan saat menatap lelaki yang barusan menabraknya. Tubuh gadis itu mendadak gemetar hebat bahkan sampai mundur beberapa langkah. Wajahnya terlihat memucat saat kilasan masa lalu kembali terputar dalam ingatannya. "Ka-Kamu."