Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
29


__ADS_3

"Paβ€”"


"Jangan panggil aku papa! Aku bukan papamu!" bentak Bram menyela ucapan Zety. Andra dan Zahra bukannya tidak mau membela, tetapi mereka hanya ingin kedua orang itu menyelesaikan semuanya. Tidak mau terlalu ikut campur selama itu tidak membahayakan Zety.


"Baiklah. Aku tidak akan menyebutmu Papa meskipun sampai kapan pun aku masih menganggapmu sebagai papaku. Jika memang kematianku yang kamu inginkan untuk menebus semua kesalahanku maka bunuhlah aku! Biar aku ikut dengan Oma. Aku pun rindu dengan Oma!" Suara Zety menggelegar. Menatap semua orang yang saat ini sudah berkumpul di sana termasuk anak buah Pandu dan Bram juga beberapa petugas keamanan. Bram bergeming dan terus saja menatap Zety tanpa peduli pada tangisan Shifa di sampingnya.


"Ada hal yang harus kamu tahu. Setiap anak yang lahir di dunia ini pasti menginginkan kasih sayang orang tuanya. Kamu pikir aku juga tidak menginginkan kasih sayang kalian? Kamu pikir hanya kamu saja yang terluka? Asal kamu tahu aku juga sama terlukanya seperti kamu! Kamu pikir sejak kecil tidak sakit saat dibenci oleh papa sendiri dan tidak bisa mendapatkan satu pelukan pun dari seorang ibu! Kamu pikir aku tidak sakit saat harus menahan rasa iri pada teman-temanku saat mereka dipeluk dan disayang oleh ibu mereka? Kamu pikir batinku juga tidak terluka saat kamu terus mengataiku sebagai anak pembawa sial? Seandainya aku tahu hidup di dunia akan sekejam ini, mungkin dulu aku akan menolak untuk diciptakan!"


Zahra memeluk erat sahabatnya saat tak kuasa lagi menahan air mata. Setiap ucapan dari Zety mampu mengiris hati siapa pun yang mendengarnya termasuk Bram. Lelaki itu terdiam saat merasakan desiran halus terasa hingga membuat hatinya berdenyut.


"Tidak ada hal yang membuatku iri di dunia ini selain pada mereka yang bisa disayang oleh orang tuanya. Dipeluk mama dan disanjung sebagai anak hebat oleh papanya. Selain itu, tidak ada hal yang membuatku iri! Kalau memang dengan kematianku akan membuat hidupmu bahagia maka bunuhlah aku saat ini juga! Aku ikhlas dan akan membebaskanmu dari jeratan hukum."


"Suk, gue enggak akan ikhlas." Zahra mengeratkan pelukannya. Demi apa pun dia takut terjadi apa-apa pada sahabatnya saat ini. Bram masih belum membuka suara. Masih terbungkam karena ucapan Zety. Baru kali ini Zety mengungkapan semuanya. Semua hal yang mampu membuat hatinya tak tentu.

__ADS_1


"Untuk kalian semua yang ada di sini. Seandainya lelaki ini membunuhku entah dengan tangannya sendiri ataupun bukan. Maka kuharap tidak ada yang memenjarakan dia. Aku ikhlas lahir batin. Semua adalah sebagai penebus kesalahanku yang sudah membuat istrinya meninggal dunia." Zety melepaskan pelukan Zahra. Lalu berjalan mendekati Bram. Zety sudah terlihat kacau balau dengan air mata yang sudah membasahi seluruh wajahnya. Tidak ada yang berani membuka suara ataupun melerai semua itu.


Bram terkejut saat Zety tiba-tiba memeluknya erat. Lelaki itu mematung dan merasakan sebuah perasaan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Batin Bram rasanya terkoyak saat pelukan itu terasa sampai ke ulu hatinya. Bagaimana tidak, dua puluh tahun lebih sejak Zety lahir ke dunia ini, Bram sama sekali belum pernah memeluk Zety. Jangankan memeluk, dekat dengan Zety saja Bram merasa enggan karena hatinya akan sakit teringat kematian sang istri. Namun, kini saat Zety memeluknya tiba-tiba seperti ini. Bram merasa hangat dan nyeri bercampur menjadi satu.


"Maaf aku sudah lancang. Tapi, izinkan aku merasakan pelukan seorang papa sekali ini saja sebelum aku benar-benar pergi dari hidupmu bahkan dunia ini. Terima kasih sudah membesarkanku dan memberi waktu padaku untuk menikmati indahnya dunia ini. Satu hal yang akan aku katakan kalau aku tulus sayang padamu, Papa."


"Suketi!" Teriakan Zahra menggema saat sebuah tembakan terdengar di sana tepat setelah Zety selesai berbicara. Bram merasakan pelukan itu terasa mengerat bahkan Zety terbatuk setelahnya. Pandangan Bram mengedar ke semua orang dan meradang saat melihat anak buah kepercayaannya sedang menurunkan pistolnya.


"Keparat!" umpat Bram dipenuhi amarah.


"Lajukan mobilnya dengan cepat atau aku akan membunuhmu saat ini juga!" bentak Bram yang terlihat sangat cemas ketika melihat wajah Zety yang mulai memucat.


"Berjanjilah untuk baik-baik saja, Suk." Zahra terus saja berdoa dalam hati. Rasanya sakit saat melihat Zety seterluka ini. Begitu juga dengan Andra yang langsung menghubungi Rasya.

__ADS_1


*****


Lanjut Thor!


Astaga kenapa nanggung banget, Thor. Elu kagak tahu apa kalau hal nanggung itu bikin sakit kepala πŸ˜…


Up yang banyak, Thor.


Othor pengen sekali up langsung 100 bab πŸ˜… tapi Othor sadar hanyalah manusia biasa yang juga punya kesibukan di dunia nyata 😁


But, tetap Othor usahain rajin update nih, biar samaan kaya kalian yang rajin ngasih dukungan berupa vote, like, dan komen.


Bab selanjutnya kapan, Thor? Doain secepatnya 😁😁

__ADS_1


Thank's banget buat kalian 😘


__ADS_2