
Gatra duduk merenung di kursinya setelah Margaretha keluar dari ruangan tersebut. Memikirkan ucapan-ucapan Margaretha yang menjadi sindiran sekaligus tamparan untuknya. Gatra melirik jam dinding dan melihat waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang. Gatra pun bangkit berdiri dan bersiap ke taman kota untuk bertemu dengan Zety.
Sebelum pergi, Gatra seperti biasa, menitipkan restoran kepada Andra. Meminta tolong kepada lelaki itu agar menghandle semuanya. Andra pun hanya mengiyakan. Setelahnya, Gatra segera melajukan mobilnya pergi dari restoran miliknya.
"Maaf aku terlambat, Mas."
Gatra yang sudah lebih dari sepuluh menit duduk di taman, segera menoleh ke belakang saat mendengar suara Zety.
"Kamu pasti sudah menunggu dari tadi," imbuh Zety, merasa tidak enak hati.
"Tidak. Aku juga baru sampai. Kamu datang dengan siapa?" tanya Gatra celingukan, tetapi dia tidak melihat siapa pun.
"Sama Kiano. Dia menunggu di mobil." Zety merasa canggung, apalagi saat melihat raut wajah Gatra yang mendadak pias.
Hening. Mereka berdua sama-sama terdiam untuk beberapa saat.
"Mas, ada apa kamu menga—"
"Selamat menempuh hidup baru." Gatra menyela ucapan Zety. Menoleh ke arah Zety dan bisa terlihat jelas kekecewaan dari sorot mata Gatra. Zety pun segera menunduk untuk menghindari tatapan itu.
"Te-terima kasih banyak, Mas." Zety tampak gugup.
"Sama-sama." Gatra menjawab singkat. Suasana pun kembali hening. "Aku tidak menyangka kalau penolakanmu atas lamaranku waktu itu karena kamu sudah memiliki tambatan hati. Kenapa kamu tidak bilang sejak dulu? Dan aku tidak seterluka ini," keluh Gatra.
"Mas, anggap saja memang kita tidak berjodoh. Aku yakin kalau suatu saat akan ada wanita yang bisa mencintaimu dengan tulus. Tentu saja lebih baik dari aku." Zety berbicara tanpa menatap Gatra.
"Entahlah. Setelah ini aku tidak yakin bisa mengenal cinta lagi. Aku sudah cukup lelah harus terluka berkali-kali." Gatra mendes*h kasar. Sedikit mengurangi beban yang terasa menghimpitnya.
"Mas, percaya saja. Cinta yang tulus akan datang di saat yang tepat. Di ujung rasa kecewa. Aku sebenarnya menerima ajakanmu untuk bertemu untuk menjelaskan semuanya kalau maaf ... aku tidak bisa menjadi pendamping hidupmu, Mas. Tapi aku akan selalu mendoakan kebahagiaanmu." Suara Zety terdengar berat. Dia merasa tidak tega, tetapi semua harus selesai sesegera mungkin sebelum menjadi rumit.
Gatra hendak menggenggam tangan Zety, tetapi wanita itu langsung menariknya. Hingga Gatra pun mengurungkan niatnya. "Kalau begitu, aku juga akan selalu mendoakan kebahagiaanmu."
__ADS_1
"Terima kasih banyak, Mas."
"Anda sudah selesai, Nona?"
Suara Kiano dari arah belakang berhasil mengejutkan mereka. Zety segera berbalik dan menatap Kiano yang sedang menatapnya penuh arti. Gatra pun bangkit berdiri. Menyalami Kiano dan mengucapkan selamat atas pernikahan mereka. Setelahnya, Gatra pun pamit pergi dan mulai saat ini dia akan belajar untuk ikhlas.
"Sekarang kita pulang." Kiano mengalihkan pandangan Zety yang sejak tadi terus menatap kepergian Gatra. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Zety berjalan ke mobil dan diikuti Kiano di belakangnya.
***
Setelah pertemuan itu, mood Zety mendadak buruk. Dia terus saja berada di kamar, sedangkan Kiano sejak tadi menemani Bram. Membahas perihal perusahaan yang mulai besok akan dikelola oleh Kiano. Padahal Kiano sudah menolak, tetapi Bram terus saja memaksa dan percaya kalau Kiano bisa mengelola perusahaan itu dengan baik.
"Besok kamu mulai ke kantor. Biar Zety di rumah menemani aku," kata Bram.
"Tapi, Tuan. Saya tidak yakin bisa melakukan itu. Lagi pula, itu perusahaan atas nama Nona Muda." Kiano menolak sopan.
"Ki, Zety masih butuh belajar untuk mengurus semuanya dan kamu sekarang adalah suami sah putriku. Pokoknya aku tidak menerima penolakan." Bram bersikukuh. Kiano pun hanya bisa mengiyakan karena tidak ingin ada perdebatan.
"Emm ... jam berapa, Mar? Gue belum makan. Laper banget," igau Zety. Kiano tersenyum saat mendengarnya. Zety pun membuka mata karena tidak mendapat jawaban sama sekali. Namun, dia terkejut ketika melihat Kiano di sampingnya bahkan Zety sampai berteriak.
"Kenapa, Nona?" tanya Kiano ikut duduk di samping Zety. Menatap khawatir pada wanita itu.
"Lu kenapa bikin kaget, sih?" cebik Zety. Akan tetapi, di detik selanjutnya dia terdiam saat perutnya berbunyi cukup keras hingga membuat Kiano terkekeh.
"Anda lapar?" Senyuman Kiano terlihat meledek.
"Jangan ngeselin!" Zety memukul dada Kiano untuk meluapkan kekesalannya.
"Anda mau makan apa? Biar saya carikan. Ini sudah malam," tawar Kiano.
"Gue pengen martabak. Gue ikut ya, sekalian pengen ketemu Markonah." Zety memasang wajah memelas.
__ADS_1
"Tapi—"
"Kalau lu kagak kasih izin, gue bakal pergi sendiri!" sela Zety mengancam. Kiano menghela napas panjangnya lalu mengembuskan secara kasar.
"Baiklah. Kita pakai mobil." Kiano hendak turun dari tempat tidur, tetapi Zety langsung menahannya. Kiano pun menatap Zety yang sedang memelas padanya.
"Pakai motor aja," ucap Zety setengah merengek. Kiano yang awalnya hendak menolak pun, hanya bisa mengiyakan saat melihat raut wajah Zety yang terlihat begitu memohon.
***
"Markonah!!"
Teriakan Zety di depan kontrakan seketika mengejutkan Margaretha yang baru saja hendak mengistirahatkan tubuhnya. Tanpa melihat siapa yang datang, Margaretha sudah tahu siapa pemilik suara menyebalkan itu. Dengan langkah sedikit menghentak, Margaretha pun bergegas membuka pintu sebelum ambruk karena gedorannya.
"Apa sih, Suk!" Margaretha memasang wajah ketus.
"Jangan judes gitu. Buruan ikut gue," ajak Zety. Menarik tangan Margaretha agar kelar dari rumah itu.
"Ke mana, Suk?" Margaretha menahan tubuhnya.
"Beli martabak di depan. Gue pengen banget." Zety terus memaksa, sedangkan Margaretha justru mengerutkan keningnya.
"Tunggu dulu. Lu pengen banget, udah kek orang ngidam. Jangan-jangan lu udah hamil ya, Suk?" tukas Margaretha. Zety yang mendengar itu pun langsung bersidekap di depan Margaretha dan menatap kesal pada sahabatnya itu.
"Lu kalau ngomong suka seenak udel sendiri. Gue baru nikah kemarin masa iya udah langsung bunting! Lu pikir—"
"Kali aja kecebongnya Mas Tampan via jalur ekspress, yang sehari langsung sampai," seloroh Margaretha. Dia tergelak keras sebelum akhirnya mengaduh karena Zety sudah menonyor kepalanya cukup kencang.
"Sakit, Suk."
"Rasain!"
__ADS_1