Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
15


__ADS_3

"Elu mau berangkat kerja, Suk? Katanya elu mau libur sebulan." Margaretha menatap Zety yang sudah siap hendak berangkat kerja. Memakai seragam dengan sangat rapi dan dipoles bedak tipis.


"Lah, enak amat libur sebulan. Elu pikir itu restoran milik gue? Kecuali kalau gue istri pemilik restoran itu, baru gue bebas."


"Aamiin!" pekik Margaretha tiba-tiba. Mengejutkan Zety hingga gadis itu berdecak kesal.


"Astaga, Mar, elu kalau teriak bisa kira-kira enggak, sih!" Zety mengusap telinganya yang berdengung.


"Gue cuma bantu Aamiin ucapan elu biar jadi kenyataan. Katanya harus Aamiin yang kenceng biar lebih cepat diijabah," sahut Margaretha santai. Dengan gemasnya, Zety menonyor kepala sahabatnya.


"Bukan begitu juga kali! Kalau gitu sama aja elu bikin telinga gue jadi budek!"


Margaretha terkekeh melihat wajah kesal sahabatnya. "Mendingan kita sekarang berangkat aja. Jangan sampai Ayang Gatra kelamaan nungguin elu," ledeknya.


"Gue mau berangkat sama elu, Mar."


"Kenapa? Tumben amat. Emang elu kagak dijemput Mas Gatra? Emang Mas Gatra enggak galau nungguin elu?" Margaretha mencecar beberapa pertanyaan hingga membuat Zety sebal sendiri.

__ADS_1


"Enggak usah jadi wartawan, Mar! Mendingan sekarang kita berangkat karena gue udah bilang Mas Gatra bakal berangkat bareng elu." Zety menarik tangan Margaretha begitu saja. Sementara Margaretha hanya menurut.


Dua gadis itu berangkat ke restoran bersama. Margaretha menyetir di depan, sedangkan Zety duduk di belakang Margaretha. Selama dalam perjalanan, mereka berdua terlihat asyik mengobrol. Namun, tiba-tiba Margaretha menghentikkan motornya saat merasakan laju motor tersebut oleng.


"Kenapa, Mar?" tanya Zety sembari turun dari motor tersebut.


"Kayaknya ban motornya bocor, Suk. Coba elu cek," perintah Margaretha.


Zety pun melihat roda bagian belakang dan mendes*h kasar saat melihat ban tersebut memang telah kempes. Margaretha pun melakukan hal yang sama.


"Astaga, Mar. Terus gimana ini? Mana bengkel masih jauh pula," dengkus Zety.


"Elu mau ngatain gue bawa sial? Jangan bikin mood gue buruk, Mar!" Zety bersidekap dan mengerucutkan bibirnya.


"Ya kali. Elu kebanyakan dosa. Hahaha. Ayo buruan sebelum telat!" Margaretha berjalan cepat sembari mendorong motornya, meninggalkan Zety yang masih berdiri di tempatnya. "Yaelah! Suketii!!! Bantuin gue dorong motor ini, oee!! Malah diem aja."


Zety gantian terbahak saat melihat wajah kesal Margaretha yang saat ini sudah berhenti beberapa puluh meter darinya. Zety berjalan mendekat dengan santai, sementara Margaretha terus saja menggerutu. Merasa sahabatnya seperti siput yang sangat lelet.

__ADS_1


***


Setengah jam lebih dua gadis itu terlambat hingga membuat Andra merasa sangat kesal. Sementara Gatra tetap tenang karena tadi Zety sempat menghubungi dirinya kalau kena apes di jalan. Mendengar omelan Andra, dua gadis itu hanya mengangguk mengiyakan. Bahkan, saat Andra menghukum mereka membersihkan toilet pun mereka hanya menurut.


"Yaelah, kita persis anak sekolah yang dihukum bersihin WC karena telat ya, Suk!" kata Margaretha.


"Iya, gue jadi inget pas sekolah dulu sering dihukum gini gegara telat."


"Ah, kalau itu mah gue percaya. Elu kalau tidur kaya kebo pasti sudah bangun kalau pagi," ledek Margaretha. "Lagian tuh manusia galak, berani banget menghukum kita padahal masih sama-sama karyawan."


"Kalau si Andra galak, berarti kita bego', Mar." Zety berusaha menahan tawa, sedangkan Margaretha mengerutkan keningnya dalam.


"Maksud elu?"


"Ya, udah tahu sama-sama karyawan, kenapa kita mau aja dihukum gini? Padahal gue udah bilang sama Mas Gatra kalau datang telat karena ban bocor," tutur Zety. Margaretha menghentikkan gerakan tangannya yang sedang sibuk menyikat lantai toilet itu.


"Eh, iya ya. Kenapa gue baru sadar." Margaretha menghempaskan sikat itu lalu berkacak pinggang. Wajahnya tampak sangat kesal hingga Zety tak kuasa menahan tawa. "Jangan ketawa, Suk! Gue mau bikin perhitungan sama tuh anak!"

__ADS_1


Zety makin tergelak keras saat melihat Margaretha berjalan tergesa ke depan. Dia pun ikut mengekor di belakang. Namun, ketika sampai di pintu dapur, Zety terdiam di ambang pintu saat melihat Shifa berjalan masuk ke ruangan Gatra. Bahkan, Zety merasakan hatinya memanas saat melihat tangan Shifa menggandeng mesra lengan Gatra dan lelaki itu sama sekali tidak menolak.


"Kenapa hatiku rasanya sakit sekali," gumam Zety. Menyentuh dadanya yang berdenyut sakit.


__ADS_2