Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
23


__ADS_3

"Kalian tunggu sini dulu, biar gue telepon Kurap." Margaretha pun dengan penuh kekesalan mengambil ponselnya dan segera menghubungi Rasya. Benar saja, wanita itu ternyata lupa kalau belum membayar MUA tadi. Setelah beberapa menit saling bertukar suara, Margaretha pun segera mematikan panggilan tersebut.


"Lebih baik sekarang kalian pulang. Kata si Rasya, uangnya sudah di transfer ke nomor rekening kalian." Margaretha berbicara setengah mengusir. Mereka pun langsung berpamitan pergi dan Margaretha mengantar sampai ke pintu. Setelah mereka bertiga benar-benar pergi, Margaretha segera menutup pintu rapat dan hendak kembali duduk di sofa. Namun, gadis itu mencebik kesal saat baru saja berbalik, pintu rumah kembali terdengar diketuk.


Margaretha pun membukanya secara kasar. "Bukankah sudah kukatakan kalau Kurap sudah—" Ucapan Margaretha tercekat di tenggorokan saat melihat siapa yang sedang berdiri di depannya saat ini. Bahkan, Margaretha sampai mengucek mata untuk memastikan penglihatannya tidaklah salah.


"Aku mau masuk!" Andra berbicara ketus. Membuat Margaretha makin yakin kalau itu memang si Andra alias manusia judes, bukan jadi-jadian.


"Yaelah, ini rumah gue. Ngapain sih elu ke sini?" Margaretha bersidekap dan berdiri di tengah pintu untuk menghalangi Andra yang memaksa hendak masuk. "Gue teriak maling kalau sampai elu masih maksa, Ndra!"


Mendengar teriakan Margaretha yang begitu melengking, Andra pun mengembuskan napas kasar. Dia mengambil ponsel dan menunjukkan pesan dari Rasya. Margaretha membaca tersebut dengan seksama, tetapi dia tidak langsung percaya dan bahkan Margaretha sampai menghubungi Rasya untuk memastikan. Setelah Rasya mengatakan semua memang atas perintahnya, Margaretha pun mempersilakan Andra untuk masuk.


"Jangan macam-macam!" Telunjuk Margaretha berada tepat di depan wajah Andra.


"Jangan terlalu percaya diri! Aku tidak bernapsu sama kamu," bantah Andra. Lelaki itu dengan santai duduk sofa ruang tamu, sedangkan Margaretha kembali melanjutkan makan tanpa peduli pada keberadaan Andra sama sekali. Margaretha tidak tahu kalau diam-diam Andra tersenyum tipis ke arahnya.


***


Jantung Zety berdebar kencang saat mobil yang dikendarai oleh Gatra berhenti di pelataran rumah lelaki itu. Apalagi saat melihat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik sedang berdiri di depan pintu utama, menunggu kedatangan mereka. Gatra mengajak Zety untuk turun lalu berjalan mendekat. Gatra menggenggam tangan gadis itu cukup erat. Sesekali Zety menoleh ke arah Gatra penuh kecemasan hingga akhirnya Gatra mengangguk perlahan, memberi kode pada Zety kalau semua akan baik-baik saja. Zety pun menarik kedua sudut bibirnya menandakan kalau dia akan tetap tenang meskipun dalam hati dipenuhi kegugupan dan kekhawatiran.

__ADS_1


Ketika mereka telah sampai di depan Maria, wanita itu langsung menatap memindai tubuh Zety dari atas sampai bawah. Raut wajahnya tampak datar hingga membuat Zety menunduk takut.


"Ini Zety, Ma. Gadis yang aku ceritain ke Mama." Gatra berusaha mencairkan suasana.


"Masuklah." Nada bicara Maria terdengar sedikit ketus. Zety menjadi merasa tidak enak sendiri.


"Mas, aku pulang aja, ya." Zety berbicara lirih. Khawatir akan didengar oleh Maria.


"Kenapa pulang? Kita bahkan belum masuk rumah. Jangan takut. Mama itu baik. Dia cuma belum kenal kamu aja. Kalau sama orang baru dia memang suka gitu." Gatra berusaha memberi ketenangan untuk Zety.


Setelah dirasa Zety cukup tenang, Gatra segera mengajak masuk meskipun langkah Zety terasa sangat berat. Mereka pun menyusul Maria yang sudah terlebih dahulu duduk di ruang tamu. Selama duduk bersama, Zety hanya menunduk takut apalagi saat tatapan Maria sama sekali tidak terlepas dari dirinya.


"Jangan membuat kekasihku takut, Ma." Gatra memperingatkan. Zety cukup tersentak saat mendengar ucapan Gatra. Walaupun itu hanyalah pura-pura, tetapi bolehkah dia sedikit merasa bahagia. Dalam relung hati Zety yang paling dalam, dia mendoakan semoga ucapan Gatra akan menjadi sebuah kenyataan.


Gatra mengangguk cepat dan menggenggam tangan Zety erat, "Kenapa mama baru tahu. Sejak kapan kalian pacaran?" tanya Maria lagi. Zety makin membungkam rapat mulutnya karena dia tidak tahu harus menjawab apa dan bagaimana.


"Mama kenapa kepo sekali," cebik Gatra. Jujur, dia pun bingung harus menjawab bagaimana.


"Mama cuma ingin tahu aja. Selama ini kamu tidak pernah bilang punya pacar, tapi kenapa sekarang kamu tiba-tiba bilang punya pacar dan ingin pertunanganmu dengan Shifa dibatalkan." Maria benar-benar curiga. Sebagai seorang ibu, Maria bisa merasakan kalau Gatra sedang berbohong saat ini. Namun, dia pun ingin menguji putranya dengan berpura-pura tidak tahu apa pun.

__ADS_1


"Kemarin dia tidak mau dikenalkan, Ma. Zety ini pemalu." Gatra kembali memberi alasan.


"Oh begitu. Coba kamu hadap ke saya. Jangan terus menunduk," perintah Maria. Dengan ragu-ragu Zety mengangkat kepala dan menatap Maria dengan takut. Apalagi sorot mata Maria yang sedikit menajam ke arahnya.


"Siapa orang tuamu?" tanya Maria menginterogasi. Zety tidak menjawab, Gatra pun tidak bisa membantu karena dia juga tidak tahu siapa orang tua Zety. "Kenapa kamu diam saja?"


"Maaf, Tante. Saya tidak punya orang tua." Zety menjawab takut. Dia kembali menunduk saat merasakan kedua matanya terasa basah. Zety khawatir tidak bisa membendungnya karena kilasan masa lalu yang mengusik pikirannya.


"Memangnya ke mana orang tuamu? Dan kamu tinggal di mana dengan siapa?" Maria makin gencar melontarkan pertanyaan.


Zety menghela napas panjang lalu mengembuskan secara perlahan. "Saya tinggal di kontrakan bersama teman saya, Nyonya. Soal orang tua, mama saya meninggal dunia karena melahirkan saya. Kalau Nyonya mau mengatai saya sebagai gadis pembawa sial, tidak apa, Nyonya. Saya sadar kalau saya memang biang kesialan. Demi melahirkan saya, mama sampai harus tinggal di surga."


Cairan bening Zety tidak bisa dibendung lagi. Lolos begitu saja membasahi wajah cantiknya. Gadis itu tidak peduli meskipun riasan wajahnya harus berantakan. Maria yang mendengar itu justru mematung. Sebagai seorang wanita, Maria bisa menangkap kalau gadis itu sangat rapuh. Namun, Maria tidak akan semudah itu percaya, dia takut itu hanyalah trik Zety untuk menarik simpatinya. Sementara Gatra untuk sesaat hanya diam dan ketika dia mendengar tangisan Zety makin mengeras. Gatra pun segera menarik tubuh Zety dan mendekapnya erat. Hati Gatra terasa berdenyut saat mendengar tangisan Zety yang terdengar begitu memilukan.


••••


Yaelah Suk


hidup elu Mengsad amat ya 😭

__ADS_1


Othor kejam amat ya 😅😅


Kalau ramai bakalan Othor lanjut 😁


__ADS_2