
"Kenapa kamu suka hujan, apa karena di bawah air hujan, kamu yakin tidak ada seorang pun yang bisa melihat kalau kamu sedang menangis?"
Kedua mata Zety sontak terbuka saat mendengar ucapan Gatra barusan. Dengan cepat dia menyeka wajah dan menatap ke arah Gatra. Meyakinkan lelaki itu kalau dirinya tidak menangis, tetapi kedua mata Zety yang sembab takkan mampu menutupi semuanya.
"Aku tidak menangis, Mas." Zety mengulas senyumnya. Namun, Gatra justru menarik sebelah sudut bibirnya, tersenyum miring.
Zety mendadak gugup saat Gatra memajukan tubuhnya, mengikis jarak di antara mereka. Yang membuat Zety merutuki dirinya sendiri adalah saat Gatra mendekatkan wajahnya, dia justru mematung. Tubuhnya seolah membeku hingga tidak bisa digerakkan sama sekali.
"Mulutmu mungkin bisa berbohong, tetapi tidak dengan tatapan matamu," bisik Gatra tepat di telinga Zety. Membuat gadis itu makin menutup rapat-rapat bibirnya. Belum juga bisa berkata-kata, Zety dikejutkan dengan gerakan Gatra yang membopongnya secara tiba-tiba. Zety memekik karena terkejut, tetapi Gatra tidak peduli dan dengan santainya mengajak Zety untuk kembali ke mobil. Sudah terlalu lama mereka basah kuyup.
"Turunkan aku, Mas! Aku berat." Zety meronta, tetapi gadis itu langsung mengalungkan tangan di leher Gatra saat dengan sengaja Gatra seolah hendak menjatuhkan gadis itu. Senyum Gatra pun terlihat samar-samar saat melihat raut ketakutan dari wajah Zety.
__ADS_1
"Tubuh seringan ini kamu bilang berat? Aku yakin berat badanmu bahkan tidak ada lima puluh kilo," ujar Gatra. Zety hanya mendengkus karena tebakan Gatra memang benar.
"Jangan mengejek, Mas. Lebih baik sekarang kamu turunkan aku, Mas." Zety kembali berusaha turun dengan melepaskan rangkulan tangannya.
"Berat tidak ada setengah kwintal, sepertinya kalau jatuh dari posisi setinggi ini, tidak akan luka parah, mungkin hanya tulang-tulangnya saja yang patah," celetuk Gatra. Membuat Zety secara refleks mengalungkan kembali kedua tangannya. Tubuhnya bergidik ngeri saat membayangkan dirinya benar-benar jatuh dan semua tulangnya patah. Senyum Gatra melebar saat melihat ekspresi Zety. Sangat lucu menurut Gatra.
Daripada harus selalu berdebat, Zety pun memilih diam membiarkan Gatra mengajaknya masuk ke mobil. Namun, baru saja duduk, Zety hendak bangkit kembali. Gatra yang masih berdiri di pintu pun segera menahan gadis itu.
"Kamu mau ke mana?" tanya Gatra.
"Kenapa?" tanya Gatra, menatap Zety dengan penuh menuntut jawaban.
__ADS_1
"Aku tidak mau kursi mobilmu basah, Mas. Lihatlah." Zety menunjuk dirinya sendiri yang telah basah. Dia lupa kalau Gatra pun sama basahnya. Tanpa berbicara, Gatra menutup pintu rapat dan berlari mengitari mobil. Lalu masuk dan duduk di balik setir kemudi. Kemudian, dia melajukan mobil tersebut ke hotel tanpa peduli pada ocehan Zety yang mengatakan tidak enak hati karena sudah membuat kursi mobil Gatra menjadi basah.
Setibanya di hotel, Gatra langsung mengajak Zety masuk ke kamar mereka. Dikarenakan kamar mandi di kamar tersebut hanya ada satu maka Gatra terlebih dahulu menyuruh Zety untuk mandi karena tidak mau gadis itu sampai sakit. Sementara dirinya hanya berganti baju dan mengeringkan rambutnya.
Zety mandi dengan terburu karena tidak ingin Gatra terlalu lama menunggu. Setelah selesai, dia keluar dengan memakai jubah mandi dan melihat Gatra yang sedang menelepon sembari duduk di atas kepala sofa dan membelakangi Zety yang saat ini sudah berada di samping tempat tidur. Zety bersikap seolah tidak peduli, dan dengan tenang mengambil baju ganti dari dalam koper. Namun, gerakan tangannya terhenti saat mendengar ucapan Gatra yang mampu membuat hatinya tiba-tiba berdesir hebat.
"Katakan pada Shifa, aku akan pulang nanti malam, jadi dia tidak perlu menyusul. Satu hal lagi, kamu juga jangan sampai lengah dan terus awasi Rasya. Pastikan tidak ada apa pun yang membahayakan atau hal-hal yang membuat Rasya dan kandungannya celaka."
Zety merem*s jubah mandi yang masih dikenakan. Dia tidak menyangka kalau Gatra sampai bertindak sejauh itu untuk menjaga Rasya, padahal seharusnya siapa pun tahu kalau Pandu pun sudah pasti menjaga Rasya dengan sangat ketat.
Kamu memang sangat luar biasa, Ra. Bisa membuat banyak lelaki jatuh cinta dan bahkan sangat menyayangi dan menjagamu. Sementara aku? Bahkan aku dibuang oleh papaku sendiri hingga aku terbiasa hidup sederhana dan lupa siapa diriku sebenarnya.
__ADS_1
Zety berusaha keras menghalau air mata agar tidak turun. Dia tidak ingin kalau Gatra sampai tahu dirinya sedang menangis lagi saat ini. Dengan cepat dia mengusap wajahnya dan mengambil baju ganti lalu berjalan tergesa ke kamar mandi. Gatra yang baru saja selesai melakukan panggilan suara pun merasa heran saat melihat Zety yang begitu terburu.
"Apakah Zety mendengar ucapanku tadi?" gumam Gatra.