Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
50


__ADS_3

Duduk bertiga dengan ditemani tiga cangkir teh yang masih mengepulkan asap panas. Margaretha terus saja menatap Eldrick, orang kepercayaan sang papa. Margaretha tidak menyangka kalau ternyata lelaki itu masih hidup meskipun tubuhnya tidak bugar seperti dulu.


"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya Eldrick. Tersenyum melihat Margaretha yang sudah menjelma menjadi gadis dewasa yang cantik. Maklum, Eldrick terakhir melihat Margaretha saat masih remaja.


"Baik, Paman. Em ... Paman, bagaimana bisa Paman masih hidup sampai sekarang? Bukankah Paman dulu sudah mati tertembak bersama papa dan mama?" Margaretha menatap penuh ingin tahu.


"Tidak. Sebenarnya, saya dulu hanya berpura-pura mati saja. Saya tidak ingin lelaki jahat itu tahu kalau saya masih hidup meskipun harus sekarat dan sebulan koma di rumah sakit," terang Eldrick. Dia hampir menangis saat teringat kejadian tragis kala itu dan dirinya tidak bisa berbuat apa-apa selain berpura-pura mati. "Maaf, Nona Muda. Saya tidak bisa menjaga Tuan dan Nyonya dengan baik." Suara Eldrick terdengar penuh penyesalan.


"Tidak apa, Paman. Semua memang sudah menjadi takdir. Untuk saat ini aku hanya berusaha ikhlas dan menerima semuanya. Aku yakin kalau papa dan mama sudah bahagia dari atas sana," ucap Margaretha. Percayalah, gadis itu sedang berusaha keras menahan air matanya agar tidak membanjiri wajahnya.


"Nona, saya yakin Anda adalah gadis yang kuat. Gadis yang sangat luar biasa. Tuan dan Nyonya pasti bangga memiliki anak gadis secantik Anda," kata Eldrick memuji. "Tapi, Nona ... untuk saat ini Anda harus lebih berhati-hati lagi."


"Memangnya kenapa, Paman?" tanya Margaretha menyela.


"Karena lelaki jahat itu ada di sekitar Anda. Kemarin Andra bilang dia melihatnya di rumah sakit. Saya khawatir kalau lelaki itu mengenali Anda dan akan mencelakai Anda," ucap Eldrick penuh kekhawatiran. Raut wajah Margaretha pun terlihat menegang. "Nona, untuk saat ini saya meminta pada Anda untuk memberikan izin agar Andra selalu berada di samping Anda karena saya belum bisa menjaga Anda sepenuhnya."


"Paman, memang Andra itu siapanya Paman?" tanya Margaretha. Menatap Andra yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.


"Dia adalah keponakan saya. Tapi, dia sama seperti Anda. Yatim piatu sejak kecil. Karena sebab itulah Andra sudah saya anggap sebagai putra saya sendiri," terang Eldrick. Margaretha membulatkan bibir sembari mengangguk paham.


"Paman, apakah orang jahat itu benar akan mencelakaiku?" tanya Margaretha khawatir. Mendadak cemas dan takut.

__ADS_1


"Saya juga tidak tahu, Nona. Saya hanya mengambil kemungkinan terburuk sekaligus berjaga-jaga," sahut Eldrick.


"Aku takut, Paman." Suara Margaretha terdengar lirih.


"Jangan pernah takut, Nona. Saya yakin kalau Andra bisa menjaga Anda dengan sangat baik. Saya sudah melatihnya menjadi seorang penembak jitu, Nona. Maka dari itu, biarkan Andra menjaga Anda." Eldrick terus meminta. Margaretha pun mengiyakan permintaan itu.


Setelahnya, mereka mengobrol banyak hal. Terkadang cerita mereka begitu serius, tetapi terkadang mereka tertawa saat Eldrick menceritakan masa kecil Margaretha yang nakal. Setelah cukup puas berbagi cerita, Margaretha dan Andra pun kembali ke kota. Margaretha sudah mengajak Eldrick untuk ikut, tetapi lelaki itu menolak. Tidak ingin sampai musuhnya tahu atau semua akan menjadi kacau. Margaretha pun berjanji akan sering menjenguk Eldrick jika sedang libur kerja.


***


Hari ini Zety sudah bersiap akan bertemu dengan Gatra karena lelaki itu meminta bertemu di taman kota. Zety sebenarnya merasa berat, tetapi dia juga tidak enak hati jika harus menolak. Kiano yang merasa curiga pun diam-diam mengikuti Zety tanpa sepengetahuan gadis itu.


Gatra yang sejak tadi duduk di taman kota, tersenyum saat melihat kedatangan Zety dan dengan antusias langsung menyambutnya. Duduk berdua dan mengobrol banyak hal. Zety menatap Gatra heran saat raut wajah lelaki itu berubah serius. Entah mengapa, perasaan Zety mendadak tidak enak sendiri.


Zety mengangguk cepat, "Ya. Aku mau fokus nemenin papa, Mas. Aku tidak mungkin meninggalkan papa sendirian saat sedang sakit seperti ini."


"Tapi, kita tetap bisa berkomunikasi 'kan?" tanya Gatra meminta.


"Tentu, Mas."


Gatra tersenyum mendengar jawaban Zety. "Zet, aku ingin berbicara sedikit serius denganmu. Ini tentang perasaanku."

__ADS_1


Jantung Zety terasa berdebar kencang. Menunggu ucapan apa yang akan keluar dari mulut Gatra. Zety tersentak saat Gatra tiba-tiba menggenggam tangannya erat. Dia hendak menolak, tetapi Gatra justru makin mengencangkan genggamannya.


"Zet, maukah kamu menjadi istriku? Aku akan belajar mencintaimu," pinta Gatra. Zety terdiam dan mendadak bimbang. Menatap mata Gatra yang sedang membalas menatap ke arahnya. Tatapan Gatra terlihat begitu memohon.


"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang, Mas." Zety menghirup napas dalam. "Hal seperti itu butuh banyak pertimbangan tidak bisa langsung mengambil keputusan. Lagi pula, aku masih belum yakin kamu bisa mencintaiku."


"Aku akan berusaha. Bukankah kamu tahu pepatah mengatakan cinta ada karena terbiasa?" Gatra tidak mau sekalipun melepas genggaman tangannya.


"Aku tahu, Mas. Tapi aku juga tidak ingin menjalin hubungan serius dengan orang yang hatinya masih menjadi milik masa lalu. Aku lebih baik hidup sendiri daripada harus selalu merasakan sakit setiap hari." Suara Zety terdengar berat dan penuh penekanan.


"Kamu meragukanku?" Gatra menatap penuh kecewa ke arah Zety. Namun, secepat kilat Zety menggeleng.


"Mas, bukan aku ragu padamu. Tapi, aku merasa kita tidak akan pernah berjodoh. Mungkin kita akan hidup bahagia dengan jalan kita masing-masing. Jujur, aku juga memiliki perasaan padamu, tapi itu dulu sebelum hatiku menyerah karena merasa telah dikecewakan berkali-kali." Zety menarik cepat tangannya.


"Tapi, Zet ...."


"Sudahlah, Mas. Sudah cukup untukku. Aku berharap kamu bisa berhenti belajar mencintaiku. Jangan buang waktumu untuk hal yang sia-sia. Aku yakin, Mas. Kalau ada gadis lebih baik dariku yang akan membuat hatimu jatuh sejatuh-jatuhnya hingga nama Rasya benar-benar terhapus dari hatimu. Kalau begitu aku pamit, Mas. Jangan kejar aku atau aku akan benar-benar menjauh dari kehidupanmu bahkan dari dunia ini!"


Zety beranjak bangun dan berjalan pergi meninggalkan Gatra begitu saja. Tanpa peduli pada teriakan Gatra yang terus memanggilnya. Gatra mengusap wajahnya secara kasar saat tidak lagi melihat bayangan Zety. Dia ingin sekali mengejar, tetapi khawatir ancaman Zety akan menjadi kenyataan. Dia pun hanya bisa diam dan membiarkan gadis itu agar tenang terlebih dahulu.


Sementara itu, Zety berjalan cepat menuju ke tempat yang sepi. Lalu duduk dan menutup wajahnya untuk meredam tangisnya. Sakit? Tentu saja hati Zety merasa sakit, tetapi dia juga tidak ingin terus berharap Gatra akan jatuh cinta padanya.

__ADS_1


Tangis Zety mereda seketika saat merasakan seseorang memeluknya. Zety berontak dan berusaha untuk melepaskan diri, tetapi pelukan itu justru makin mengerat.


"Menangislah agar hatimu lega."


__ADS_2