Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
28


__ADS_3

Cukup lama ketiga orang itu berada di depan hotel menunggu target. Beralih menjadi dektektif dadakan meskipun jengah sejak tadi menunggu. Bahkan, Zety merengek meminta pulang karena merasa semua hanyalah sia-sia. Di saat mereka baru masuk ke mobil, gerakan mereka bertiga terhenti saat melihat mobil yang barusan masuk dan berhenti tidak jauh dari tempat mereka.


"Itu mereka," kata Zahra. Mengajak Andra dan Zety untuk masuk membututi di belakang.


Ketika sudah berjarak dekat, Zety berusaha melihat dua orang yang masuk ke lift. Namun, jantung Zety berdebar kencang saat melihat sekilas wajah lelaki itu. Langkah Zety terburu dan tidak kuasa menahan rasa penasaran. Andra dan Zahra pun mengikut di belakang.


"Tunggu, Suk!" teriak Zahra, tetapi Zety terus saja melangkah cepat.


"Elu pesen kamar nomor berapa, Ndra?" tanya Zety tidak sabar.


"305." Andra menjawab singkat. Mereka pun segera ke kamar yang telah dipesan terlebih dahulu. Ternyata, kamar mereka bersebelahan. Ketika dua orang itu hendak masuk ke kamar, dengan berani Zety mencekal tangannya.


"Apa sih!" Shifa berbalik dan terkejut melihat keberadaan ketiga orang itu. Namun, Zety justru tersentak melihat lelaki paruh baya yang sedang digandeng mesra oleh Shifa.

__ADS_1


"Pa-papa." Mata Zety basah saat melihat lelaki yang saat ini sedang menatap penuh ke arahnya. Tatapan lelaki itu terlihat penuh kebencian. Semua tersentak saat mendengar Zety memanggil lelaki itu.


"Suk, maksud lu apa?" tanya Zahra. Menatap Zety dan lelaki paruh baya itu secara bergantian.


"Pa! Benar dugaanku kalau Papa dalang dibalik semua ini!" teriak Zety. Suaranya menggema di sana hingga mengejutkan beberapa orang yang berada di dekat mereka.


"Jangan panggil aku papa! Kamu bukan anakku sejak istriku meninggal!" hardik Bram—papa Zety.


Zety menyeka air mata yang tak juga surut membasahi wajah cantiknya. "Pa, aku udah berusaha menjauh dan pergi dari kehidupan Papa. Tapi, kenapa Papa justru datang dan menganggu hidupku lagi! Kenapa, Pa!"


"Karena aku membencimu anak pembawa sial! Hanya untuk melahirkan anak sialan sepeti dirimu saja dia rela kehilangan nyawa. Seandainya kamu tidak ada mungkin istriku masih hidup sampai sekarang!"


Semua tercengang mendengar ucapan Bram yang mampu memporak-porandakan hati Zety. Melihat sahabatnya yang hatinya terluka, Zahra segera merangkul gadis itu. Memberi kekuatan dan berusaha menenangkan gadis itu.

__ADS_1


"Om, apa maksudnya semua ini?" tanya Shifa penasaran. Bram tidak memberikan respon apa pun. Tatapan lelaki itu terus mengarah kepada Zety.


"Ya, anak pembawa sial! Sampai kapan pun aku tidak akan rela melihatmu hidup. Cukup lama aku mencarimu dan sekarang sudah aku menemukanmu. Bagaimana kejutan dariku?" Bram tersenyum licik. Kejutan yang lelaki itu maksud adalah teror yang selama ini didapatkan oleh Zety.


"Om, jadi gadis ini itu anak kamu bukan kekasihmu yang katanya akan merebutmu dariku?" Shifa menatap menuntut ke arah Bram. Tidak mendapat jawaban dari Bram sama sekali membuat Shifa yakin tebakannya memang benar. "Jadi, kamu cuma gunakan aku sebagai pionmu?" Shifa tampak sangat kecewa.


"Kamu pikir aku mau dengan gadis ingusan sepertimu? Tapi, untung aku bisa menggunakanmu selain sebagai penuntas hasratku juga sebagai alat menghancurkan anak pembawa sial ini," kata Bram sangat tenang. Tidak ada rasa bersalah atau menyesal sedikit pun yang terlihat dari raut wajah lelaki itu. Shifa tertegun karena belum percaya pada ucapan Bram.


"Dasar iblis!" umpat Zety. Giginya gemerutuk dan urat di lehernya tampak terlihat jelas. Menandakan betapa emosinya gadis itu.


"Aku memang iblis! Sejak kamu membunuh istriku! Aku sudah cinta mati pada istriku, tapi karena kamu dia akhirnya harus meninggalkanku selamanya! Sampai kapan pun aku tidak akan rela melihatmu hidup!" Bram menunjuk wajah Zety. Tidak peduli ucapannya sudah menghancurkan hati Zety bahkan sehancur-hancurnya. Setiap kata demi kata yang terlontar dari mulut Bram mampu menyayat hati Zety secara cepat.


Begitu juga dengan Shifa yang menangis karena tak percaya dengan kenyataan yang terjadi saat ini. Shifa pikir Bram adalah lelaki baik karena begitu royal kepadanya. Apa pun yang Shifa inginkan selalu dituruti. Shifa hanya cukup membalasnya dengan mandi keringat bersama. Dari kebiasaan itulah Shifa mulai terbiasa dan merasa nyaman dengan Bram. Namun, ketenangan Shifa tiba-tiba terusik ketika Bram mengatakan ada gadis yang dia cintai. Bahkan kapan saja Bram bisa membuang Shifa kalau sudah bisa menaklukan gadis itu yang ternyata adalah Zety. Shifa mendadak takut perhatian Bram akan berubah. Dia pun mencari informasi dan saat mengetahui Zety adalah salah satu karyawan Gatra, lelaki yang akan dijodohkan dengannya, Shifa pun menggunakan kesempatan itu untuk meneror Zety.

__ADS_1


__ADS_2