Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
40


__ADS_3

Omelan Kiano tercekat di tenggorokan saat tatapan matanya bertemu dengan Zety. Apalagi setelah mendengar ucapan Zety yang mampu membuat dirinya salah tingkah. Begitu juga dengan Zety yang hampir saja terhanyut pada pesona Kiano. Ponsel Zety berdering dan dengan cepat gadis itu bangkit berdiri.


"Apa, Mar?" Zety sedikit kesal. Dia melirik Kiano yang baru saja berdiri dan langsung mengusap bajunya dari debu yang mungkin saja menempel. "Gue lagi otewe." Zety mematikan panggilan tersebut secara sepihak lalu menarik tangan Kiano agar berjalan cepat.


Kiano hanya menurut dan segera naik ke motor. Padahal di rumah Zety ada lebih dari dua mobil terparkir di garasi, tetapi mereka sengaja menggunakan motor agar lebih cepat sampai. Selama dalam perjalanan, Zety terus saja merapalkan doa saat merasakan laju motor Kiano terasa sangat cepat. Ingin sekali Zety memeluk Kiano agar tidak terjatuh, tetapi dia masih merasa gengsi. Alhasil, Zety berpegangan pada besi belakang.


Cittt!!


Kiano mengerem mendadak hingga tubuh Zety terhuyung maju dan langsung memeluk Kiano secara refleks. Zety diam sesaat karena merasakan jantungnya berdebar kencang bekas terkejut, sedangkan Kiano diam-diam tersenyum simpul.


"Elu kagak bisa bawa motor baik-baik 'kah?" protes Zety sewot. Menurunkan tangannya dan sedikit memundurkan tubuhnya.


"Maaf, Nona. Saya hanya terkejut barusan ada ular lewat." Kiano menjawab asal.


"Ular? Di mana ada ular? Kenapa aku tidak lihat sama sekali?" Zety celingukan mencari ular yang disebutkan Kiano. Namun, Zety tidak melihat apa pun di sana.


"Sudah pergi, Nona. Lebih baik sekarang Anda berpegangan karena kita sudah terlambat," suruh Kiano. Zety pun menurut dan mereka kembali melanjutkan perjalanan.


***


"Suk! Elu bawa cowok ganteng ke sini?" Margaretha histeris sendiri saat melihat Zety masuk bersama Kiano.


"Hmmm. Dia kerja di sini sekarang." Zety menjawab malas. Menaruh tas di rak, sedangkan Kiano hanya berdiri di ambang pintu. Mengamati gerak-gerik Zety tanpa terlepas sedikit pun.

__ADS_1


"Yang bener? Asekkk, gue bisa cuci mata dong." Margaretha berbicara setengah berbisik karena tidak ingin Kiano mendengar.


"Cuci mata, cuci mata. Cuci muka kali biar sadar diri elu, Mar," ledek Zety.


"Emang asem elu, Suk." Margaretha menggerutu, sedangkan Zety berusaha menahan tawanya.


Sedang asyik bercanda, tiba-tiba Gatra masuk ke ruangan dan menatap setengah tidak suka ke arah Kiano. Zety dan Margaretha pun membungkam rapat mulut mereka. Kiano hanya menurut saat Gatra menyuruh lelaki itu agar ikut ke ruangan. Setibanya di ruangan miliknya, Gatra meminta Kiano untuk duduk. Menatap lelaki itu penuh selidik, sedangkan Kiano tetap terlihat tenang.


"Apakah kamu tidak memiliki maksud apa pun bekerja di sini?" tanya Gatra menuntut. Sorot matanya menajam, tetapi Kiano masih tetap terlihat tenang. Tidak ada sedikit pun ketakutan dalam raut wajah lelaki itu.


"Aku hanya menuruti perintah Tuan Bram," jawab Kiano jujur. "Kalau memang kamu menaruh curiga, kenapa tetap menerimaku di sini? Seharusnya kamu sudah tahu apa alasan Tuan Bram menyuruhku bekerja di sini." Kiano tersenyum sinis. Gatra mengepalkan tangannya erat merasa kesal dengan ucapan Kiano.


"Baiklah. Kalau sampai satu bulan tidak terjadi apa-apa dan Zety baik-baik saja maka kuharap kamu berhenti bekerja di sini," perintah Gatra tegas. Namun, Kiano justru menarik sebelah sudut bibirnya tersenyum sinis.


"Jangankan sebulan, paling lama dua Minggu aku yakin sudah keluar dari sini. Tapi, kamu harus ingat satu hal, jangan pernah sekalipun kamu menyakiti nona muda atau aku akan memberikan pelajaran untukmu!" Kiano berbicara penuh ketegasan.


Setelah kepergian Kiano dari ruangan, Gatra menyandarkan kepala dan memejamkan mata. Berkali-kali dia mendes*hkan napas ke udara secara cepat. Untuk mengurangi kegelisahan hatinya. Membaca pesan dari Bram semalam membuat Gatra benar-benar khawatir pada Zety. Dia pun sama seperti Bram yang merasa yakin kalau Shifa tidak akan tinggal diam. Apalagi sekarang Maria sudah tahu kebusukan Shifa dan menggagalkan pertunangan Gatra dengan wanita itu. Gatra pun berjaga-jaga dan berusaha agar tidak terjadi apa pun.


"Kuharap semua akan baik-baik saja dan aku tidak patah hati lagi untuk kedua kali," gumam Gatra. Memejamkan mata.


***


Shifa berdiri di balkon kamarnya. Wanita itu tampak marah saat teringat kenyataan yang membuat hatinya merasa sangat sakit. Dia kehilangan semuanya. Shifa sudah berusaha menghubungi Bram, tetapi tidak bisa karena nomornya sudah terblokir. Dia pun sudah mencoba datang ke rumah Bram, tetapi langsung diusir oleh security tanpa diperbolehkan masuk sama sekali. Shifa ngedumel, mengumpat marah dan ingin melakukan segala cara untuk membalas semuanya.

__ADS_1


Saat sebuah ide melintas, Shifa menyeringai. Menghidupkan layar ponselnya dan menghubungi seseorang untuk mengajak bertemu. Setelahnya, Shifa menyimpan kembali ponselnya dan bersiap menuju ke tempat di mana mereka janjian.


Saat Shifa masuk ke ruangan privat tersebut, dia langsung disambut oleh dua orang lelaki bertubuh kekar. Shifa duduk dengan gaya anggun di depan mereka tanpa peduli pada wajah mereka yang garang.


"Apa yang Anda inginkan, Nona Cantik?" tanya salah satu di antara mereka.


"Aku ingin kalian menghabisi seseorang." Shifa tersenyum miring. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin segera membalas rasa sakitnya.


"Siapa? Dan katakan saja dengan cara apa kami harus menghabisinya?" tantang mereka.


"Aku suka cara kalian. Hahaha." Shifa tergelak. Tawanya terdengar mengerikan. "Aku ingin kalian tidak langsung membunuhnya. Siksa dia terlebih dahulu dan kalian boleh menikmati tubuhnya. Target kalian adalah gadis perawan," kata Shifa mengompori.


Dua lelaki itu tampak semringah. Saling memandang dan sama-sama tersenyum dengan maksud tertentu. Shifa yang paham akan maksudnya pun tersenyum licik dan tidak sabar sendiri.


"Kapan kami harus melakukan itu?" tanya mereka tidak sabar.


"Secepatnya dan lebih cepat lebih baik. Aku akan bayar lima puluh persen terlebih dahulu. Sisanya aku beri setelah tugas kalian selesai." Shifa menaruh segepok uang di depan mereka yang langsung disambut antusias. "Ingat, kalian harus siksa dulu sebelum membunuhnya. Aku tunggu kiriman video dari kalian." Shifa beranjak bangun.


"Baik. Kamu tenang saja. Kita akan melakukan sesuai perintah," sahutnya.


"Setelah kita menyiksanya, kira-kira kami harus membunuhnya dengan cara apa? Agar kamu bisa puas pada kinerja kami?" tanya satunya menantang.


"Tidak salah aku meminta bantuan kalian. Kuharap kalian bisa bekerja dengan baik, dan aku ingin gadis sialan itu mati dengan cara kalian tembak bagian kepala dan jantungnya," ujar Shifa.

__ADS_1


"Baiklah. Akan kami laksanakan," sahut mereka kompak.


"Kalau begitu aku pergi dulu." Shifa berjalan pergi, sedangkan dua orang tersebut sibuk menghitung uang. "Lihat saja. Aku akan membalaskan semuanya." Sorot mata Shifa memancarkan kebencian.


__ADS_2