Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
41


__ADS_3

"Sstt ... sstt."


Zety merasa kesal karena sedari tadi Margaretha terus saja mengganggu ketenangannya. Meksipun Zety sudah berusaha untuk sedikit menjauh dari sahabatnya, tetapi Margaretha terus saja mendekat.


"Markonah!" Zety melotot ke arah Margaretha. Namun, Margaretha justru terkekeh.


"Kagak takut mata lu copot, Suk?" goda Margaretha. Makin menambah kekesalan Zety.


"Elu jangan ngeselin sekalian aja, bisa kagak?"


"Kagak bisa, Suk." Margaretha tergelak. Namun, gadis itu langsung terdiam saat Zety menonyor kepalanya cukup kencang. "Sakit, Suk."


"Rasain!" Zety mendengkus kasar, tetapi terkekeh setelahnya saat melihat bibir Margaretha yang sudah maju beberapa centi. "Lu agak jauhan dikit sama gue bisa kagak sih, Mar? Tumben banget elu nempel mulu sama gue, udah kaya perangko aja."


"Suk, gue cuma penasaran aja sama cowok cakep itu. Mas Kiano."


"Mas?" Zety memotong ucapan Margaretha. "Masalah buat lu kali, Mar." Tawa Zety yang meledek membuat Margaretha mencebik kesal.


"Ye ... kan biar agak romantis gitu, Suk. Kenalin ke gue napa, Suk. Kali aja dia jodoh gue yang tertunda," rengek Margaretha. Zety tidak menanggapi sahabatnya dan tetap sibuk melakukan pekerjaannya.


"Suk, ayolah. Ntar lu minta apa gue kabulin, deh." Margaretha masih terus merayu.


"Beneran?" Zety menghentikan kegiatannya dan tersenyum ke arah sahabatnya. Margaretha menelan ludah saat perasaannya mendadak tidak enak ketika melihat senyum Zety. "Elu janji bakal kabulin apa pun permintaan gue?"


"I-iya." Margaretha menjawab terbata padahal hatinya masih belum merasa yakin. "Tapi, jangan yang aneh-aneh. Jangan yang bikin isi dompet gue menangis meronta juga."


"Kagak. Gue cuma mau satu hal aja dan gue yakin kalau itu sangat mudah buat elu, Mar." Zety menaik-turunkan alisnya.

__ADS_1


"Baiklah. Katakan apa mau lu?" Margaretha menghela napas panjangnya.


"Gue pengen denger cerita elu, lebih tepatnya masa lalu elu, Mar. Gue beneran penasaran." Zety berbicara lirih dan khawatir Margaretha akan tersinggung pada permintaannya.


"Suk, masa lalu menyakitkan buat apa dibicarakan lagi. Toh, semua udah berlalu dan gue udah bahagia dengan hidup gue yang sekarang. Gue bakal ceritain suatu saat nanti. Tapi, bukan sekarang," ujar Margaretha. Zety mengangguk cepat.


"Gue tunggu, Mar." Zety kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Eh, Suk. Tapi elu tetep bakal kenalin gue sama Mas Kiano 'kan? Ntar kalau gue bisa gebet dia dan kita jadian, gue bakal baik-ba ... aduh! Aduh!" Margaretha memekik sembari memegang terlinganya yang dijewer oleh seseorang. Dia menoleh dan terkejut saat melihat ternyata Andra yang sedang menjewernya saat ini. Zety yang melihat itu pun tak kuasa lagi menahan gelakan tawanya.


"Lepasin, Ndra! Sakit!" Margaretha masih berusaha melepaskan jeweran Andra yang mampu membuat telinga Margaretha memerah.


"Tidak akan! Ini adalah hukuman untuk karyawan yang mengobrol di jam kerja," balas Andra. Menatap tajam ke arah Margaretha.


"Yaelah, Ndra. Elu kagak adil banget. Kenapa cuma gue yang dijewer? Suketi 'kan juga ikutan ngobrol," timpal Margaretha masih tidak terima.


"Siapa yang genit, sih, Ndra? Gue cuma minta dikenalin sama Mas Kiano aja, kok. Elu kalau emang cemburu tuh bilang, Ndra. Jangan gedein gengsi," ucap Margaretha percaya diri. Jeweran Andra terlepas dan lelaki itu langsung berpaling untuk menutupi kegugupannya. Margaretha mengusap telinganya yang telah memerah dan terasa panas.


"Kembalilah bekerja." Andra pergi begitu saja tanpa peduli pada teriakan Margaretha yang meminta lelaki itu untuk minta maaf.


"Ciee ... Uhuuyyy!" goda Zety.


"Uhuy! Uhuy!" Margaretha berjalan meninggalkan Zety, tetapi tak lupa memukul lengan Zety terlebih dahulu untuk meluapkan kekesalannya.


"Sakit, Mar! Gila, lu! Ini namanya KDP!" teriak Zety. Menghentikan langkah Margaretha yang telah sampai di ambang pintu.


"KDP apa, Suk?" tanya Margaretha bingung.

__ADS_1


"Kekerasan dalam persahabatan," jawab Zety santai. Margaretha mengembuskan napas kasar lalu meninggalkan Zety yang sedang terkekeh begitu saja. Setelahnya, mereka pun kembali sibuk bekerja masing-masing.


***


"Mari kita pulang, Nona." Kiano berbicara sopan.


"Kita sudah satu minggu bekerja bersama. Kenapa lu masih aja manggil gue nona-nona. Panggil gue Zety," balas Zety. Pasalnya, seminggu bekerja bersama, Zety sering menjadi pusat perhatian saat ada yang mendengar Kiano memanggilnya nona muda. Zety merasa sangat tidak nyaman dengan hal itu, tetapi Kiano tetap tidak peduli. Baginya, Zety adalah nona muda yang harus dia hormati.


"Gue pengen jalan-jalan di taman mumpung sekarang malam minggu. Lu kalau mau pulang sana, pulang duluan aja," suruh Zety setengah mengusir. Dia ingin sekali pergi sendiri karena Kiano terus saja menempel padanya.


"Saya akan ikut dengan Anda, Nona."


"Enggak boleh! Gue mau pergi sama Markonah, Zaenab, sama Kurap. Elu 'kan cowok ntar enggak bebas ngobrolnya." Zety berkilah. Kiano sama sekali tidak percaya.


"Saya tetap akan mengikuti Anda. Dari jarak jauh tidak apa, Nona." Kiano bersikukuh. Zety menggerutukkan gigi-giginya dan ingin sekali merem*s wajah Kiano yang tetap terlihat santai.


"Aku bilang papa kalau gitu." Zety mengambil ponselnya dan menghubungi Bram. Merayu lelaki paruh baya itu agar mengizinkan pergi dengan sahabatnya tanpa Kiano. Bram menolak karena khawatir pada keselamatan Zety. Akan tetapi, Zety terus saja merayu hingga akhirnya dia bersorak kegirangan karena Bram memberikan izin. Bram pun menyuruh Kiano untuk pulang dan membiarkan Zety pergi bersama teman-temannya. Meskipun ragu, tetapi Kiano akhirnya hanya menuruti perintah mereka saja.


Senyum Zety merekah saat motor Kiano sudah melaju pergi. Dia pun bergegas pergi sendirian. Sebenarnya, dia tidak memiliki janji apa pun dengan sahabatnya. Dia hanya ingin pergi sendiri dan menikmati waktu sendiri. Zety berjalan santai menuju ke taman kota yang ramai karena akhir pekan. Dia pun sengaja mematikan ponselnya agar tidak ada seorang pun yang mengganggunya. Apalagi Margaretha yang suka sekali menelepon saat dirinya pergi sendirian.


Satu porsi seblak level dewa sudah menghangatkan perut Zety. Gadis itu merasa sangat puas. Lalu membeli apa pun yang dia inginkan. Setelah puas berjalan-jalan dan melihat orang kencan, Zety pun berniat kembali ke kontrakan. Namun, saat sedang berjalan sendirian, Zety terkejut saat ada sebuah mobil berhenti tepat di sampingnya. Zety melangkah mundur saat melihat seorang pria bertubuh kekar keluar dari sana. Baru saja Zety hendak berlari, tangannya sudah dicengkeram kuat. Zety meronta saat lelaki itu membiusnya sebelum akhirnya gadis itu tidak sadarkan diri. Lelaki itu membawa Zety masuk ke mobil dan melajukannya dengan cepat.


Prang!


Bram yang sedang duduk bersama Kiano di ruang tengah begitu terkejut saat mendengar benda terjatuh dari arah belakang. Mereka berjalan mendekat dan tercengang saat melihat foto Zety sudah jatuh dengan kaca berserakan di lantai. Perasaan Bram mendadak tidak nyaman. Dia segera menghubungi Zety, tetapi nomor putrinya tidak bisa dihubungi sama sekali.


"Ki, bagaimana ini? Perasaanku tidak enak sekali." Bram gelisah. Lelaki itu mondar-mandir tidak tentu arah. Dalam hatinya berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan putrinya. Kiano yang juga merasa cemas pun segera pergi untuk mencari Zety.

__ADS_1


"Semoga tidak terjadi hal apa pun denganmu." Kiano bergumam dalam hati. Lalu melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.


__ADS_2