Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
53


__ADS_3

Keempat sahabat somplak sekawan berkumpul menjadi satu di ruang keluarga di rumah Rasya. Rona wajah mereka tampak berbinar bahagia. Zahra sedari tadi duduk sembari menggendong Baby Bisul, sedangkan yang lainnya mengobrol dan saling berbagi cerita.


Sedang sibuk mengobrol, Andra berpamitan pergi dan meminta Margaretha untuk jangan pergi dari rumah tersebut sebelum dia kembali. Margaretha hanya mengiyakan karena tidak ingin berdebat di rumah orang lain. Merasa malu karena semua keluarga Pandu dan Rasya berkumpul menjadi satu.


"Astaga, Ra. Gue gemes banget sama bayi lu, kalau boleh aja bakalan gue bawa balik tuh." Zety ingin sekali mencubit pipi bayi tersebut. Namun, takut karena sang induk terus mengawasinya.


"Makanya buruan nikah lah, Suk. Biar elu bisa dapat bayi lucu gini," balas Rasya. Terkekeh melihat sahabatnya yang mengerucutkan bibir.


"Markonah dulu noh. Yang udah kelihatan hilal calon suaminya. Punya gue masih tertutup." Zety mengembuskan napasnya kasar.


"Ketutup apa? Lagian elu tinggal sama Mas Gatra aja, Suk. Sat set sat set dikawini juragan Mas e," seloroh Rasya. Namun, Zety dengan kesalnya mencubit pinggang Rasya untuk meluapkan kedongkolan hatinya.


"Mulut elu, Ra!"


"Eh, Ra. Dia kagak jadi sama Mas Gatra."


"Terus?" tanya Rasya dan Zahra bersamaan.


"Mar! Mulut elu ember gue sodokin juga sosis jumbo ke situ," ancam Zety mendelik, tetapi Margaretha tidak takut sama sekali. Justru menyeringai.


"Enggak papa kali, Suk. Kita 'kan bestie." Markonah tidak takut sama sekali. Bangkit dan duduk di samping Zahra agar berjarak cukup jauh dari Zety. "Dia bentar lagi kawin sama Mas Ganteng. Babang Kiano."


"What!" pekik Zahra dan Rasya bersamaan. Namun, mereka bingung setelahnya saat suara tangis bayi Bisul pun tak kalah kerasnya karena terkejut. Rasya segera mengambil alih bayi tersebut dan berusaha untuk menenangkannya.


"Kalian sih, teriak kenceng banget. Jadi kaget 'kan si ganteng," protes Margaretha agak lirih karena khawatir akan kembali membangunkan bayi yang baru terlelap lagi. Rasya pun memberikan Baby Bisul kepada Marlina karena wanita itu yang meminta. Ingin menggendong cucu pertamanya. Setelah Marlina membawa bayi itu ke ruang dalam, keempat sahabat somplak itu pun kembali melanjutkan pembicaraan yang agak serius.


"Suk, lu beneran mau nikah sama Kiano?" tanya Rasya masih belum percaya.

__ADS_1


"Entahlah, Ra. Gue aja bingung." Zety bersandar sembari mendes*hkan napasnya secara kasar.


"Lah, kok gitu? Gue pikir elu bakal sama Mas Gatra," kata Zahra. Ikutan belum percaya.


"Gimana mau sama Mas Gatra, kalau lelaki itu yang dipikirin cuma elu doang, Ra. Kurap-Kurap-Kurap," celetuk Margaretha. Rasya makin menatap bingung.


"Gue kagak mudeng maksud lu apaan, Mar."


"Yaelah, Ra. Elu bloon amat. Mas Gatra belum bisa move-on dari lu. Lagian, kalau gue juga bakal milih Babang Kiano, secara lebih tampan dan bertanggung-jawab pula," celoteh Margaretha. Tanpa peduli raut wajah Zety yang sudah kesal.


"Coba deh, Suk. Elu ceritain. Siapa tahu kita bisa ngasih solusi. Ya itu kalau lu masih anggep kita sahabat." Zahra berbicara penuh penekanan.


Zety pun menghela napas panjang lalu mengembuskan secara perlahan. Kemudian, dia menceritakan semuanya. Tentang Gatra yang melamarnya, pembicaraan Kiano dan Bram yang sempat dia dengar, juga obrolannya dengan Kiano. Ketiga sahabatnya pun mendengarkan dengan seksama. Tanpa menyela sama sekali.


"Dan sekarang gue bingung mesti gimana. Gue belum tahu keputusan apa yang harus gue ambil," keluh Zety.


"Tapi gimana dengan Mas Gatra, Ra?"


"Biar itu jadi urusan gue ntar." Margaretha berbicara yakin.


"Maafin gue, Suk." Suara Rasya terdengar berat.


"Maaf? Buat apa, Ra?" tanya Zety bingung.


"Karena gue kisah cinta elu jadi rumit," kata Rasya penuh penyesalan.


"Ra, kenapa lu jadi ngerasa bersalah gitu. Yang salah itu bukan elu, tapi Mas Gatra. Dia aja yang kagak mau move-on dan ngebuka hatinya buat orang lain. Udah jelas-jelas ada Suketi yang mau mencintai dia, eh malah dianya aja yang bego' masih mikirin lu." Zahra gemas sendiri sampai saling memukulkan telapak tangannya yang mengepal.

__ADS_1


"Bener banget tuh, Ra. Biarin aja jadi pembelajaran buat dia. Biar suatu saat enggak sia-siain orang yang udah sayang sama dia lagi. Anggap aja Suketi sama Mas Gatra emang belum berjodoh." Margaretha menambahkan. Rasya pun membenarkan, sedangkan Zety hanya diam dipenuhi kebimbangan. Zety tidak yakin bisa jatuh cinta dengan Kiano menilik bagaimana ketusnya lelaki itu. Zety lupa kalau hubungan Rasya dan Zahra dengan suaminya pun dulu tidak sebucin sekarang.


Ponsel Zety tiba-tiba berdering dan dengan segera Zety mengangkat panggilan tersebut saat melihat nama Kiano tertera di layar. Zety khawatir kalau ada sesuatu yang terjadi karena saat ini Kiano sedang berada di rumah sakit.


"Ada apa?" tanya Zety. Tetap ketus seperti biasa.


"Nona, datanglah ke rumah sakit sekarang. Tuan Bram ingin berbicara penting dengan Anda." Suara Kiano terdengar berat dan perasaan cemas tiba-tiba menyelimuti hati Zety.


"Baiklah. Gue ke sana sekarang."


"Biar saya jemput, Nona?"


"Kagak usah! Ntar kelamaan. Lagian, gue lagi di rumah Tuan Pandu jadi enggak terlalu jauh."


"Baiklah, kalau begitu hati-hati, Nona."


Zety pun mematikan panggilan tersebut dan langsung berpamitan dengan sahabatnya. Margaretha memaksa ikut padahal Zety sudah melarangnya karena teringat pesan Andra. Namun, Margaretha tetap bersikukuh untuk ikut karena tidak ingin sahabatnya pergi sendiri. Dengan terpaksa, Zety pun mengiyakan. Mereka berdua ke rumah sakit menggunakan mobil milik Pandu dan diantar sopir.


"Semoga tidak terjadi hal apa pun dengan papa," batin Zety. Berusaha mengusir perasaan gelisah yang datang menyergapi hatinya.


😜😜😜


Lanjut, Thor !!!


Sekuntum mawar dan secangkir kopi buat kamu biar rajin update 🤭🤭🤣🤣


Selamat pagi guys, jangan lupa sarapan 🤗

__ADS_1


__ADS_2