Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
35


__ADS_3

"Papa sadar kalau kamu tidak akan pernah bisa memaafkan papa. Apa pun yang akan papa lakukan untuk meminta maaf. Namun, papa akan merasa tenang kalau kamu mau mengurus semua harta yang akan menjadi hakmu kelak."


"Aku tidak butuh harta! Aku bisa mencarinya sendiri! Kamu pikir dengan iming-iming harta yang kamu punya bisa membuatku memaafkanmu?" seru Zety. "Tidak akan pernah!" lanjutnya.


"Mau atau tidak, semua harta yang papa punya sudah menjadi milikmu. Semua sudah papa ganti menjadi atas namamu. Jadi, papa harap kamu bisa menjaganya dengan sangat baik karena papa tidak tahu sampai kapan papa masih bisa menghirup napas di dunia ini." Bram berbicara pelan, tetapi mampu membuat hati Zety bergejolak hebat. Seberapa benci pun Zety kepada sang papa. Dia tetaplah seorang anak yang merasa khawatir dan takut jika terjadi apa-apa dengan orang tuanya.


Zety tersentak saat Bram tiba-tiba bersujud di depannya. Lelaki itu menangkup kedua tangan di depan dada sembari menangis meminta maaf. Namun, Zety hanya diam dan menatap Bram tanpa berbicara apa pun.


"Papa mohon, berilah papa waktu untuk menebus semua kesalahan papa padamu. Biarlah papa mengganti hal indah yang pernah hilang dari hidupmu. Agar kelak saat harus pergi, papa bisa pergi dengan tenang." Bram begitu memohon, tetapi Zety masih saja bergeming.


"Suk! Lu jangan keterlaluan!" Margaretha yang baru saja masuk begitu terkejut melihat Bram sedang bersimpuh. Gadis itu pun segera mengajak Bram untuk bangkit, tetapi lelaki paruh baya itu masih tetap pada posisinya.


"Suk, gue mohon. Maafin bokap elu. Dia udah nyesel," kata Margaretha. Zety menatap sahabatnya sangat tajam.


"Mar, mendingan elu enggak usah ikut campur urusan gue! Lu kagak berhak!" Zety meradang.


"Gue emang bukan siapa-siapa lu yang berhak ikut campur urusan lu, Suk. Tapi gue hanya bersikap sebagai seorang sahabat yang menasehati ketika elu salah." Margaretha berbicara tegas.

__ADS_1


"Gue? Salah? Gue kagak salah denger? Harusnya elu tahu siapa yang salah di sini. Lelaki tua ini ngatain gue anak pembawa sial, ngerusak batin gue sejak lahir dan elu bilang gue yang salah? Mikir, Mar!" bentak Zety tanpa sadar. Margaretha menggeleng mendengar bentakan sahabatnya.


"Suk, berilah papa lu kesempatan. Beliau sudah menyesal dan ingin memperbaiki semuanya. Jadilah orang pemaaf, Suk."


"Aku bisa saja memaafkan lelaki itu, tapi elu pikir segala kenangan pahit dan rasa sakit yang dia torehkan padaku bisa terlupakan begitu saja? Tidak akan pernah dan tidak semudah itu, Mar!" Zety menunjuk Bram penuh benci. Sementara Bram hanya diam dan tak tahu lagi harus berbuat apa.


"Suk ...."


"Kalau emang elu mau bela lelaki ini maka pergilah dari sini, Mar! Gue muak sama elu! Gue benci siapa pun yang ngebela lelaki bajingan ini!"


"Jadi, hanya seperti ini persahabatan kita, Mar? Gue kecewa sama elu! Elu lebih milih pergi dengan orang yang menyakiti hati sahabat lu daripada sahabat elu sendiri yang jelas-jelas selama ini udah nemenin lu. Harusnya elu tahu kalau hati gue sakit, Mar! Harusnya elu tahu kalau batin gue sakit! Tidak dianggap oleh keluarga sendiri!" Zety menangis sembari berteriak untuk meluapkan segala rasa sakit yang terasa menghujam jantungnya. Jujur, Zety sangat takut jika harus kehilangan Margaretha karena dia tidak punya siapa pun lagi.


"Suk, gue tahu papa lu pernah berbuat kesalahan fatal dengan merenggut kebahagiaan masa kecil lu. Tapi, apa salahnya jika elu kasih sedikit kata maaf dan kesempatan bagi beliau untuk memperbaiki semuanya. Selagi masih ada waktu, Suk. Jangan egois."


"Elu ngatain gue egois? Gue kagak tahu lagi jalan pikiran elu, Mar. Susah emang ngomong sama orang yang enggak pernah ngerasain sakit hati karena keluarga sendiri." Zety benar-benar kecewa dengan sahabatnya.


"Suk, lu pikir gue juga belum pernah ngerasain sakit hati? Andai elu tahu hidup gue lebih pedih dari lu mungkin elu kagak akan pernah berbicara seperti ini. Lu beruntung, Suk, masih punya bokap yang mau minta maaf dan bakal menebus semuanya. Lu beruntung masih diberi kesempatan buat deket sama bokap. Lu emang sakit karena dikatain anak pembawa sial oleh bokap lu, tapi lu kagak pernah tahu gimana sakitnya melihat papa dan mama kita meregang nyawa di depan mata kita sendiri. Gue juga ngerasain sakit, Suk! Saat melihat bokap dan nyokap gue ditembak di depan mata gue hingga tewas dan semua harta yang mereka punya direbut orang hingga gue harus bertahan hidup di dunia yang keras ini ... sendirian."

__ADS_1


Zety tercengang mendengar teriakan Margaretha. Baru kali ini dia mendengar semuanya. Sebuah Fakta tentang Margaretha yang begitu mengejutkan. Air mata Margaretha pun sudah membasahi seluruh wajah gadis itu.


"Mar ...." Zety tidak tahu lagi harus berbicara apa.


"Maafin bokap elu, Suk. Selagi lu masih diberi kesempatan buat memeluknya dan mengganti waktu lu yang pernah sia-sia. Karena saat mereka benar-benar telah tiada, kita hanya akan menyesal dan semua tidak berguna lagi." Margaretha mengusap air mata yang terus saja mengalir. Zety pun berlari kencang dan memeluk sahabatnya erat. Tangis Margaretha pun pecah dalam pelukan Zety.


"Mar, maafin gue yang kagak tahu kalau hidup lu ternyata setragis itu." Zety pun tak kuasa menahan tangisannya. Merasa tidak tega mendengar cerita sahabatnya.


••••


Dikau jahat, Thor!


Othor itu bukan jahat, kok, tapi baik, cantik, imut, dan menggemaskan.


Tapi sayangnya Othor suka muji diri sendiri 😂😂 karena tidak ada yang memuji selama ini 🙈


Dukungan ramai, Othor bakal makin rajin buat update 😅

__ADS_1


__ADS_2