
Cukup lama Zety menangis dalam pelukan Kiano. Jika biasanya Zety akan bersikap ketus terhadap lelaki itu, tetapi tidak untuk sekarang. Entah mengapa, bagi Zety pelukan Kiano terasa begitu menenangkan dan membuatnya nyaman. Zety sama sekali tidak ingin pelukan tersebut terlepas untuk saat ini sebelum hatinya merasa tenang.
"Anda masih ingin menangis, Nona?" tanya Kiano saat tangis Zety mulai terdengar memelan. Zety menggeleng lemah lalu melepaskan pelukan tersebut. Kiano membantu menghapus air mata yang masih membekas di wajah gadis itu. Mata dan hidung Zety sudah terlihat memerah seperti badut, dan itu terlihat begitu menggemaskan bagi Kiano.
"Antar aku pulang," perintah Zety. Tanpa bertanya lebih lanjut kenapa lelaki itu ada di sana. Kiano pun tidak menjawab apa pun, hanya menuruti perintah Zety.
Selama dalam perjalanan pulang, Zety dan Kiano sama-sama diam. Semua larut pada pikiran masing-masing, tetapi sesekali Kiano terlihat melirik Zety yang masih terlihat sendu. Sampai saat mobil yang dikendarai Kiano berhenti di depan rumah, lelaki itu tidak langsung turun dari mobil, begitu juga dengan Zety yang masih bergeming di tempat duduknya.
"Anda baik-baik saja, Nona?" tanya Kiano. Melirik Zety yang terlihat sedang menghela napas panjangnya.
"Menurut lu?" Zety justru bertanya balik. Nada bicaranya pun mulai terdengar ketus.
"Nona, saya tahu Anda sedang patah hati."
"Jangan sok tahu!" sela Zety. Menatap kesal ke arah Kiano yang saat ini sedang tersenyum sinis.
"Saya hanya bicara faktanya, Nona. Kalau Anda sedang tidak patah hati, untuk apa Anda menangisi lelaki yang jelas-jelas tidak bisa menjaga perasaan Anda dengan baik." Kiano menyindir dan Zety hanya bisa mendengkus kasar saat mendengarnya.
"Nona, kita memang bisa jatuh cinta pada siapa saja, melabuhkan hati dan cinta kita pada siapa pun tanpa terkecuali. Tapi, semua kembali lagi kepada takdir Tuhan. Sedekat dan sedalam apa pun hubungan seseorang, kalau tidak berjodoh ya tidak akan bersatu, begitu juga sebaliknya. Kita bisa berencana menikah dengan si A, tapi ternyata jodoh kita adalah si B, ya sudah mau bagaimana lagi? Semua rencana Tuhan pasti indah," tutur Kiano panjang lebar.
Zety menghirup napas dalam lalu mengembuskan secara perlahan. "Lalu? Menurut lu, gue harus gimana? Cinta Mas Gatra udah ngejerat gue sampai gue ngerasa kagak bisa jatuh cinta lagi dengan lelaki lain."
__ADS_1
"Bukan Anda tidak bisa, tetapi Anda belum mencobanya. Saya yakin, suatu saat ada orang yang mencintai Anda dengan tulus. Mencintai itu memang indah, tetapi dicintai jauh lebih indah, Nona. Setidaknya kita tidak akan berjuang sendirian nantinya. Jika cinta Mas Gatra terasa sudah menjerat hati Anda maka biarlah seseorang membantu Anda untuk melepaskan jeratan tersebut. Hingga Anda terbebas dan bisa hidup bahagia."
"Gue takut gagal." Zety menyandarkan kepalanya. Merasa ragu pada ide Kiano.
"Kalau gagal coba lagi. Kenapa mesti takut? Bukankah setiap kesuksesan pasti ada kegagalan di baliknya. Seandainya Tuan Bram tahu semua ini, saya yakin kalau beliau pun akan meminta Anda untuk menjalin hubungan dengan lelaki baik dan bertanggung-jawab."
Zety duduk tegak saat mendengar ucapan Kiano. Dia melirik lelaki itu penuh arti, sedangkan Kiano mulai tidak enak hati saat melihat tatapan tersebut.
"Gue inget satu hal." Zety makin menatap Kiano lekat hingga membuat lelaki itu salah tingkah sendiri. "Gue enggak sengaja denger kalau papa minta lu buat nikahin gue."
"Anda menguping?" sela Kiano. Suaranya sedikit meninggi.
"Yaelah. Sensi amat. Bukan nguping cuma gue enggak sengaja denger aja. Gue punya satu ide biar papa cepet sembuh. Gimana kalau kita nikah pura-pura aja," cetus Zety. Tersenyum lebar seolah hal itu adalah sebuah ide yang sangat brilian.
"Huh! Gue cuma pengen lihat papa seneng dan semangat buat sembuh." Zety menghela napas panjangnya lagi.
"Tapi bukan seperti itu caranya, Nona. Kalau Anda hanya ingin menikah pura-pura maka lebih baik carilah lelaki lain yang bisa diajak bekerja sama. Tetapi, kalau Anda ingin menikah yang serius maka saya akan mengabulkannya," kata Kiano. Tampak sangat tenang.
Zety sontak terkejut mendengar ucapan Kiano dan makin menatap lekat ke arah lelaki itu. Zety pikir Kiano hanyalah bercanda. Akan tetapi, saat melihat sorot mata Kiano yang memancarkan kesungguhan, membuat jantung Zety tiba-tiba berdebar kencang.
"Gu-gue cuma bercanda." Zety gugup sendiri. Apalagi saat melihat seringai di sudut bibir Kiano.
__ADS_1
"Kalaupun Anda serius maka saya dengan senang hati mengabulkannya. Menikahi Anda adalah keinginan Tuan Bram dan saya ingin melakukan itu untuk membalas semua kebaikan Tuan Bram selama ini," kata Kiano.
"Jadi, lu nikahin gue cuma buat balas budi?" Pertanyaan Zety menyiratkan sebuah kekecewaan.
"Nona, lebih baik sekarang Anda turun dan beristirahatlah. Biarkan saya yang kembali ke rumah sakit untuk menjaga Tuan Bram." Kiano berusaha menghindar dari pembicaraan serius tersebut.
"Lu belum jawab pertanyaan gue!" timpal Zety ketus.
"Untuk apa saya menjawab pertanyaan yang Anda sendiri sudah tahu jawabannya, Nona." Kiano tersenyum tipis dan itu mampu membuat Zety kesal sendiri. Gadis itu segera turun dari mobil dan berjalan menghentak masuk ke rumah tanpa menoleh ke belakang lagi. Sementara Kiano terkekeh saat melihatnya. Setelah Zety benar-benar masuk rumah, Kiano segera melajukan mobilnya ke rumah sakit untuk menunggu Bram.
ππππ
Hallo Hai, sedikit berbincang setelah Othor baca beberapa komentar dari kalian yang protes karena judul tidak sesuai alur. Sebenarnya, penjelasan ada di bab ini ya. Silakan dicermati π€
Maafkan karena Othornya yang terlalu Plin-plan.
Thor, dari awal kan Zety udah sama Gatra, kenapa sekarang jadi sama Kiano?
Okelah, kita tidak akan tahu dengan siapa kita berjodoh. Seberapa besar pun kita jatuh cinta kalau bukan jodoh tidak akan mungkin bersatu bukan? Begitulah kira-kira.
Dan kisah Zety sudah hampir selesai ya guys π€
__ADS_1
Kalau Zety terjerat cinta Gatra maka Kiano pun juga Terjerat cinta Zety. Begitulah.
Terima kasih atas dukungan kalian. Love you all π