Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
07


__ADS_3

Gatra duduk di meja yang tidak jauh dari Rasya. Dia belum menyadari keberadaan empat sahabat somplak di sana. Walaupun merasa malas, tetapi Gatra berusaha tetap menyahut setiap obrolan Shifa. Mereka tidak menyadari kalau saat ini sedang menjadi pusat perhatian keempat sahabat somplak itu.


"Gantian aku yang mau ke toilet." Gatra bangkit berdiri, sedangkan Shifa hanya mengiyakan saja dan sibuk bermain dengan ponselnya.


Gatra melangkah santai hendak menuju ke toilet, tetapi dia segera menghentikan langkahnya saat melihat empat sahabat somplak yang saat ini sedang duduk dan sibuk menyantap makanan. Jantung Gatra berdebar kencang saat melihat Rasya yang sedang meminum jeruk panas. Entah kenapa, Gatra justru berjalan mendekati mereka.


"Ra," panggil Gatra. Suaranya terdengar berat. Bahkan, sorot matanya menunjukkan sebuah kerinduan yang teramat dalam. Meskipun saat ini Rasya terlihat lebih chubby daripada dulu, tetapi wanita itu masih terlihat sangat cantik menurut Gatra.


Rasya dan sahabatnya yang barusan pura-pura sibuk saat melihat Gatra berjalan mendekat pun akhirnya hanya bisa menghela napas panjang. Gatra yang sedari tadi hanya menatap Rasya pun kini beralih memandang mereka berempat secara bergantian. Namun, Gatra tiba-tiba terdiam saat melihat Zety yang justru kembali terlihat sibuk dengan makanannya. Seolah tidak ada dan tidak peduli pada keberadaan Gatra di sana.


"Mas Gatra sedang di sini juga?" tanya Rasya. Berusaha tetap terlihat biasa saja. Namun, tidak ada yang tahu kalau ekor mata Rasya mengarah kepada Zety. Penasaran dengan ekspresi gadis itu yang terlihat cuek. Rasya makin merasa yakin kalau Zety memiliki sesuatu hal yang disembunyikan dari dirinya atau mungkin dari mereka bertiga.


"Iya, Ra. Kamu apa kabar?" Gatra kembali memusatkan pandangannya ke arah Rasya. Seolah tidak pernah merasa jemu memandang wanita itu. Akan tetapi, Gatra dan lainnya terkejut saat pengawal yang ditugaskan menjaga Rasya sudah berdiri tepat di belakang Rasya.


"Kenapa kalian?" tanya Rasya setengah kesal.


"Nona, kita hanya berjaga-jaga," sahut salah satu di antara mereka. Melayangkan tatapan tajam ke arah Gatra.


"Jangan terlalu dekat. Aku tidak mau jadi pusat perhatian." Rasya mendengkus kasar. Memiliki pengawal di sekitarnya, membuat Rasya merasa sangat tidak bebas. Namun, dia pun tidak bisa menolak karena Pandu justru akan makin mengikatnya kalau sampai Rasya berani membangkang.

__ADS_1


"Kita akan pergi jika tidak ada lagi lelaki asing di sekitar Anda, Nona," sahutnya sopan.


Wajah Gatra mendadak pias. Dia bukan anak kecil yang tidak paham arti ucapan itu. Melihat sorot mata pengawal Rasya yang seolah hendak melahap habis dirinya, Gatra pun mengalah dan berpamitan pergi. Namun, baru selangkah berjalan, Gatra berhenti saat Shifa memanggil namanya bahkan gadis itu mendekati Gatra.


Saat melihat Zety, Shifa menatap heran karena merasa tidak asing dengan gadis. "Kamu kenal mereka, Mas?" tanya Shifa menatap mereka satu persatu.


"Ya, mereka adalah karyawanku di restoran," sahut Gatra sesekali melirik Rasya. Shifa hanya membulatkan bibir. Ketika Gatra kembali pamit ke toilet, Shifa merengek ingin ikut, tetapi Gatra langsung menolaknya dengan tegas. Shifa masih saja merayu seperti anak kecil yang hendak ikut ayahnya. Namun, saat melihat sorot mata Gatra yang mulai dipenuhi kekesalan, Shifa pun hanya mengiyakan dan membiarkan Gatra pergi lalu Shifa kembali ke mejanya tanpa mengucap sepatah kata pun.


"Tuh cewek kelihatan manja banget," bisik Zahra saat Shifa terlihat sudah kembali duduk di kursinya.


"Iyalah, pasti masih bocah tuh, wajahnya aja imut gitu," imbuh Zety. Menatap ke arah Shifa yang saat ini sedang sibuk bermain ponsel lagi.


"Sembarangan kalau ngomong! Mulut elu belum pernah gue jilat, Mar!" ucap Zety asal. Margaretha langsung menutup mulut rapat dan bergidik ngeri membayangkan ucapan Zety barusan. "Enggak usah dibayangin. Meskipun gue ngejomlo, gue masih pengen ngerasain yang namanya pisang bukan apem."


"Baguslah kalau gitu." Ketiga sahabat Zety menjawab bersamaan. Mereka pun langsung melanjutkan makan tanpa peduli pada Shifa maupun Gatra.


Sementara itu, Gatra yang masih berada di toilet, menatap wajahnya pada pantulan cermin. Terlihat muram dan mood Gatra pun mendadak buruk. Gatra tidak menyangka akan bertemu Rasya setelah cukup lama mereka tidak saling bertemu. Kalau boleh jujur, Gatra masih menyimpan rapat nama Rasya di hatinya. Sampai sekarang belum ada yang bisa menggantikannya.


"Huh! Aku merindukanmu, Ra!" Gatra mendes*hkan napasnya ke udara. Hatinya mendadak lemah saat bayangan Rasya begitu menggoda. Haruskah dirinya pergi dari tempat itu beberapa waktu sampai sedikit lupa kepada Rasya. Akan tetapi, Gatra merasa bingung harus ke mana dirinya pergi.

__ADS_1


Setelah cukup lama berada di sana, Gatra kembali ke meja Shifa. Ketika melewati meja tempat empat sahabat somplak tadi berada, Gatra mengembuskan napas lega karena mereka sudah tidak berada di sana lagi.


"Kamu lama sekali, Mas." Shifa merengek, menaruh ponsel di meja lalu menatap Gatra.


"Perutku mendadak sakit. Lebih baik kita pulang sekarang," ajak Gatra. Shifa pun bangkit dan mengikuti Gatra untuk pulang.


Selama dalam perjalanan, Gatra hanya diam saja. Bahkan, mobil itu terasa senyap. Shifa beberapa kali mengajak bicara, tetapi Gatra hanya mengiyakan. Setelah mengantar Shifa pulang, Gatra langsung pergi begitu bahkan tanpa masuk ke rumah Shifa.


"Apa Mas Gatra punya hubungan spesial dengan salah satu wanita di antara mereka? Kenapa sikap Mas Gatra berubah total setelah bertemu mereka," gumam Shifa. Menatap mobil Gatra yang perlahan lenyap dari pandangan. Setelah bayangan mobil Gatra sudah tidak terlihat sama sekali, Shifa pun memilih masuk ke rumah.


***


Gatra memarkirkan mobilnya di garasi lalu bergegas naik. Tujuannya saat ini adalah kamar pribadinya yang terletak di lantai dua. Gatra sudah merasa sangat lelah. Dia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya dan juga hatinya. Gatra mengembuskan napas lega saat tidak melihat kedua orang tuanya di rumah. Gatra yakin mereka saat ini sedang berada di rumah Wibisono—kakek Gatra. Jika kedua orang tua Gatra berada di rumah, sudah pasti dia akan mendapat banyak pertanyaan dari mereka. Sementara Gatra untuk saat ini hanya ingin sendiri.


Gatra menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Menjadikan kedua lengan sebagai bantalan. Tatapannya mengarah ke langit-langit kamar. Membayangkan wajah Rasya yang kembali mengusik pikiran dan hatinya.


"Kapan aku benar-benar bisa menghapus perasaan ini untukmu, Ra. Sadarkan aku kalau kamu tidak akan pernah bisa menjadi milikku." Gatra mengusap wajah kasar. Pikirannya sungguh sangat kalut saat ini. Gatra pun mengambil ponsel dan segera menghubungi Zety. Dia akan meminta gadis itu untuk menemani liburan agar bayangan tentang Rasya bisa perlahan menghilang.


Saat mereka bertukar suara, terdengar suara Zety yang tampak ragu saat Gatra mengajaknya ke luar kota selama tiga hari atau mungkin seminggu. Namun, dengan sedikit ancaman, Zety pun akhirnya bersedia dan besok pagi mereka akan langsung berangkat.

__ADS_1


"Semoga aku bisa perlahan melupakanmu, Ra." Gatra kembali mendes*hkan napasnya ke udara secara kasar untuk mengurangi sedikit beban yang terasa menghimpit hatinya.


__ADS_2