
Keesokan harinya, Zety sudah bersiap untuk berangkat kerja. Padahal Margaretha sudah melarang dan menyuruh sahabatnya untuk beristirahat di rumah, tetapi langsung ditolak keras. Zety tidak mau jika harus terlalu banyak mengambil libur. Walaupun seandainya Gatra tahu pasti akan memberikan izin, tetapi Zety yang merasa tidak enak sendiri.
"Terus gimana, Suk? Soal cewek itu?" tanya Margaretha saat sedang memakai sepatu.
"Kita cari cara nanti saja. Mending sekarang kita fokus kerja aja," sahut Zety. Tampak tenang.
"Tapi, Suk ... gue khawatir dia bakal nyakitin elu lebih lagi." Margaretha berkata lirih dan penuh kecemasan.
"Elu tenang aja, Mar. Kurap sama Zaenab 'kan udah minta bantuan suaminya. Jadi, elu jangan terlalu khawatir." Zety menepuk bahu sahabatnya. Memberi ketenangan kepada gadis itu. Lalu mengajaknya berangkat karena hampir masuk jam kerja.
Sejak mengetahui Gatra hendak dijodohkan dengan Shifa, Zety lebih memilih untuk sedikit menjaga jarak dengan lelaki itu. Dia tidak mau lagi diantar jemput dan hanya berbicara sekenanya saat berada di dalam restoran. Bukannya Zety takut kepada Shifa, tetapi dia hanya tidak ingin makin terjerat pada cinta Gatra.
Ketika bekerja, Zety sengaja memakai jaket dengan dalih masuk angin padahal tidak ingin sampai Gatra tahu kalau dia sedang terluka saat ini. Zety bekerja seperti biasa, Margaretha pun beberapa kali membantu. Rona bahagia Zety tampak terlihat jelas saat melihat dan merasakan betapa pedulinya Margaretha kepadanya. Namun, itu hanya berlaku sesaat. Senyum Zety memudar saat melihat Gatra masuk bersama dengan Shifa. Bahkan, Zety bisa melihat Shifa yang tersenyum miring padanya.
"Ratu drama datang," bisik Margaretha saat dua orang itu baru saja berjalan melewatinya.
"Huustt! Jangan kencang-kencang," balas Zety juga berbisik. Dia khawatir Gatra ataupun Shifa akan mendengar ucapan Margaretha barusan.
"Ehem! Sudah kubilang jangan mengobrol saat jam kerja!"
Zety dan Margaretha tersentak saat mendengar suara Andra dari arah belakang. Namun, detik selanjutnya Margaretha menggerutu kesal dan bergegas pergi karena sedang tidak ingin berdebat dengan lelaki judes itu. Tatapan Andra pun tidak terlepas dari gerak-gerik Margaretha.
"Kalian itu persis banget Tom Jerry," ledek Zety. Andra tidak menjawab dan hanya mendengkus kasar. "Awas jatuh cinta," imbuhnya.
__ADS_1
"Lebih baik kamu diem, deh, dan antar makanan ini ke ruangan Mas Gatra. Ini pesanan Mbak Shifa," suruh Andra. Namun, langsung ditolak tegas oleh Zety. Dia tidak mau jika harus masuk ke ruangan itu lagi saat ada Shifa di sana.
"Aku tidak menerima penolakan, Zet!" Ucapan Andra terdengar penuh ketegasan. Akan tetapi, Andra mendadak diam saat melihat Zety menaikkan lengan jaketnya hingga terlihat jelas tangan Zety yang masih diperban.
"Lihatlah, tanganku sedang sakit, Ndra." Zety setengah merengek. Benar saja, Andra melihat itu menjadi merasa iba dan akan menyuruh Margaretha untuk berganti mengantar makanan itu. Zety pun mengembuskan napas lega saat melihat Andra yang berjalan masuk.
"Tanganmu kenapa?"
Zety terlonjak saat mendengar suara Gatra dari arah samping saat dirinya hendak menutupi luka itu lagi. Wajah Zety mendadak gugup dan menoleh Gatra sekilas. Dengan gerakan cepat, Zety menyembunyikan lengannya di belakang tubuh agar Gatra tidak tahu meskipun semua sudah terlambat.
"Ti-tidak apa-apa, Mas." Zety menjawab gugup. Membuat Gatra makin menaruh curiga padanya. "Kalau begitu aku mau beresin belakang dulu, Mas."
Zety bersiap hendak pergi, tetapi Gatra justru menahan dengan mencekal tangannya. Lalu dengan sedikit memaksa Gatra melihat lengan Zety yang diperban.
"Ini kenapa?" tanya Gatra penuh selidik.
"Bagaimana bisa?" Suara Gatra sedikit meninggi.
"Bisa, Mas. Namanya saja lagi apes." Zety berusaha tetap telihat tenang padahal dalam hatinya merasa gugup tak karuan. Dia tidak sabar ingin segera menjauh dari Gatra sebelum lelaki itu makin melontarkan banyak pertanyaan. Namun, Gatra terus menahan Zety dan meminta gadis itu untuk menceritakan semuanya. Entah mengapa, Gatra tidak percaya dengan alasan Zety.
"Udahlah, Mas. Aku mau kerja aja, enggak enak sama Andra." Zety berusaha untuk tetap pergi dan tidak mau memberi penjelasan karena dia tidak ingin berbohong.
"Zet, tunggu dulu." Lagi-lagi, Gatra menahan Zety yang hendak pergi dari sana. Membuat Zety merasa kesal sendiri.
__ADS_1
"Apalagi, Mas? Aku enggak enak sama Nona Shifa. Aku enggak mau dia mikir macam-macam soal aku," keluh Zety.
"Nanti malam aku akan mengajakmu pergi dan ada hal penting yang akan aku bicarakan denganmu. Aku tidak menerima penolakan untuk kali ini," perintah Gatra tegas.
"Hal penting apa, Mas?" tanya Zety, penasaran.
"Nanti malam saja. Lebih baik sekarang kamu pulang dan istirahat supaya cepat sembuh," ucap Gatra. Hendak berlalu dari sana. Zety pun hanya bergeming di tempatnya. "Ingat, aku tidak menerima penolakan untuk malam ini," ucap Gatra mengulangi sebelum akhirnya benar-benar pergi dari sana.
"Ish! Nyebelin banget. Emang mau ngomongin apa, sih? Jangan-jangan Mas Gatra mau nembak gue lagi," ucap Zety diiringi senyuman. Namun, sepersekian detik selanjutnya gadis itu mengaduh saat Margaretha dari arah belakang menonyor kepalanya. "Sakit, Mar. Elu sejak kapan di situ sih?
"Sejak tadi. Elu kalau ngomong kepedean banget. Inget, Suk, Mas Gatra itu udah punya pasangan. Jangan ngarep!"
"Hmmmm, terserah elu, Mar." Zety berjalan meninggalkan Margaretha begitu saja.
"Dasar tuh anak." Margaretha menggeleng lalu kembali bekerja sebelum terkenal omelan Andra lagi.
°°°°
Thor kok jarang update?
Maaf ya, Othor lagi selesain naskah di sebelah sampai akhir bulan.
Nanti awal bulan baru fokus ke kisah Suketi dan Markonah.
__ADS_1
Terima kasih atas kesetiaan kalian 😘
Othor usahakan update meskipun slow-update ya 🤭