
"Elu mau bawa ke mana, Suk?" tanya Margaretha saat melihat Zety menyiapkan dua cangkir kopi ke atas nampan.
"Buat Mas Gatra sama tunangannya," sahut Zety lesu.
"Tunangan? Jadi, cewek cantik itu tunangan Mas Gatra? Pas banget," ucap Margaretha tanpa sadar. Namun, saat melihat raut wajah Zety yang mendadak sendu, Margaretha menutup mulutnya dan merasa tidak enak hati. "Sorry, Suk."
Zety tertawa getir. "Kenapa elu minta maaf, Mar? Emang elu berbuat salah sama gue?"
"Ya kali aja, Suk. Habis muka elu asem banget."
"Udahlah, gue mau nganterin ini daripada keburu dingin." Suketi berlalu meninggalkan Margaretha begitu saja.
Ketika telah sampai di depan ruangan Gatra, Zety terlebih dahulu menghirup napas dalam. Bergumam dalam hati kalau hatinya akan baik-baik saja.
"Seharusnya kamu sadar kalau bukan siapa-siapa Mas Gatra, Suk." Zety bergumam lirih lalu memberanikan diri mengetuk pintu. Jika langsung menyelonong masuk, Zety khawatir akan menganggu pasangan tersebut.
Setelah mendengar sahutan dari dalam, Zety segera membuka pintu dan melihat Gatra sedang duduk bersama dengan Shifa. Senyum Zety terlihat tulus saat menaruh kopi tersebut di depan mereka, tetapi tiba-tiba Zety terkejut saat dengan sengaja Shifa menyenggol cangkir yang dipegang Zety hingga kopi di dalamnya tumpah.
"Ahhh sakit," rintih Shifa. Mengusap telapak tangannya yang terkena kopi panas. Wajah Zety mendadak takut jika Gatra akan memarahinya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Gatra, membantu meniup telapak tangan Shifa.
"Sakit, Mas." Shifa masih terus merengek dan berusaha untuk mencari perhatian Gatra. Sementara Zety saat ini berdiri sembari menunduk dalam. Jemarinya saling merem*s untuk mengurangi ketakutan dan kegugupan yang melanda hatinya. "Tidak bisakah kamu bekerja dengan baik!" bentak Shifa.
__ADS_1
"Ma-maaf, Nona. Saya tidak sengaja." Walaupun Zety tahu kalau Shifa sengaja melakukan itu untuk merusak citranya di depan Gatra, tetapi Zety berusaha seolah tidak tahu apa pun dan lebih memilih minta maaf.
"Kamu pikir kata maafmu bisa menyembuhkan tanganku yang sakit ini?" Suara Shifa masih melengking.
'Salah siapa. Elu sendiri yang nyenggol, tapi elu sendiri yang berlagak seperti korban. Ternyata wajah cantik lu enggak sesuai dengan karakter lu!' umpat Zety dalam hati. Rasa kagum kepada Shifa kini seolah lenyap saat dia melihat betapa pintarnya Shifa bermain drama.
"Sudahlah, dia bilang tidak sengaja. Lagi pula, sakit seperti itu juga sebentar lagi sembuh." Gatra berbicara dengan entengnya dan Zety tak kuasa menahan tawa di dalam hatinya. Zety pikir, Gatra akan memarahinya habis-habisan dan membela Shifa, tetapi ternyata lelaki itu justru bersikap seolah tidak peduli.
"Mas, kamu sadar tidak sih, kalau karyawan kamu yang ceroboh ini sudah buat aku yang merupakan calon tunanganmu, ini menjadi celaka!" Shifa terlihat gemas sendiri. Namun, Gatra masih saja terlihat tenang.
"Baru calon aja udah belagu," gumam Zety sangat lirih.
"Kamu bilang apa!" hardik Shifa. Melayangkan tatapan tajam ke arah Zety.
Zety sedikit membungkuk hormat dan menangkup kedua tangan di depan dada. "Saya hanya bilang, saya ini gadis yang ceroboh, Nona."
"Berani sekali kamu memecat karyawanku sembarangan! Kamu tidak memiliki hak apa pun, Shifa!" seru Gatra. Membuat mulut Shifa bungkam seketika. Wajahnya tampak kesal apalagi saat melihat Zety tersenyum samar. "Zet, lebih baik sekarang kamu keluar dari sini dan kembalilah bekerja. Jangan dengarkan ucapan Shifa barusan." Gatra melembutkan nada bicaranya.
Senyum Zety mengembang sempurna. "Terima kasih banyak, Mas. Kalau begitu aku balik kerja lagi. Maaf, Nona cantik. Mari." Zety mengambil nampan dengan cepat lalu berpamitan pergi. Dia yakin setelah ini akan terjadi perang dunia di dalam ruangan itu. Maka dari itu, dia lebih memilih untuk segera pergi.
Zety terus saja menggerutu sejak keluar dari ruangan Gatra. Hatinya merasa kesal dengan kejadian tadi. Selain itu, dia juga merasa sangat kecewa karena Shifa ternyata tidak seperti apa yang ada dalam bayangannya. Wajah cantik gadis itu benar-benar menipu.
"Elu kenapa, Suk?" tanya Margaretha saat baru masuk dan mendapati bibir sahabatnya yang komat-kamit.
__ADS_1
"Elu tahu kagak, Mar?"
"Kagak! 'Kan elu belum cerita, Suk." Margaretha menimpali dengan santai.
"Asem elu, Mar! Dengerin gue dulu. Jangan bikin rusak mood gue karena saat ini gue lagi kesel!" Zety mendengkus kasar. Lalu mengambil segelas air putih untuk membasahi tenggorokannya sebelum meluapkan kekesalannya.
"Kelamaan cerita ntar keburu Andra datang terus kita kena omelan karena ngobrol di jam kerja." Margaretha mencebikkan bibir.
"Gini loh, Mar. Ternyata si cantik itu, Nona Shifa, enggak seperti yang gue kira. Wajahnya doang yang imut, cantik, nggemesin, tapi kelakuan kaya Mak Lampir! Pinter banget ngedrama," omel Zety panjang lebar. Menceritakan kejadian di ruangan Gatra barusan.
"Hahah makanya don't judge book from the cover."
"Elu ngomong apaan, Mar?" tanya Zety menyela ucapan Margaretha.
"Yaelah gitu doang kagak tahu. Makanya banyak belajar lah. Intinya tuh, jangan lihat orang dari tampilannya doang. Kaya Shiva yang kecil-kecil jago berantem. Jangan panggil aku anak kecil, Tante. Shifa, namaku Shifa si Ratu Drama! Hahaha!" Margaretha tergelak. Namun, dia langsung terdiam saat Zety membekap mulutnya.
"Jangan keras-keras kalau dia denger, bisa mati kita, Mar!" cebik Zety kesal dengan sahabatnya.
****
Selamat siang guys, jangan lupa untuk selalu semangat dan jalani hari dengan senyuman manis, semanis Othornya 😅😅
Ada yang nungguin bab selanjutnya?
__ADS_1
nih, ada rekomendasi cerita baru netas, masih anget karya Bae LIa