Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
64


__ADS_3

Di kediaman rumah Bram tampak meriah dipenuhi dekorasi pesta. Banyak tamu undangan terutama karyawan perusahaan milik Bram yang datang ke acara tersebut, sedangkan ratu pada acara malam hari ini justru masih terlelap karena kelelahan setelah mendapat gempuran kecebong dari suaminya.


"Yaelah, masih tidur nih bocah."


Ketiga sahabat Zety menggeleng saat melihat wanita itu masih bergelung di bawah selimut. Mereka pun duduk di samping Zety dan berusaha membangunkannya.


"Apaan, sih! Aku masih ngantuk." Zety berusaha menyingkirkan tangan Zahra yang terus saja mengusap wajahnya.


"Bangun, oe! Setengah jam lagi acara dimulai, lu yang jadi ratunya malah masih ngiler," cibir Margaretha.


"Kalian berisik banget, sih! Emang pesta apaan?" Zety sama sekali tidak mau membuka mata.


"Astaga, dia beneran kagak tahu," kata Rasya.


"Suk, malam ini 'kan elu mau dikenalin ke semua orang kalau lu jadi penerus kekayaan Tuan Bram," ucap Zahra.


"Emang kapan?" Zety sepertinya masih mengumpulkan nyawanya yang berpencar.


"Malam ini," jawab mereka bertiga kompak.


"Dan para tamu undangan sudah hadir di sini," imbuh mereka. Zety sontak terduduk dan menatap ketiga sahabatnya secara bergantian.


"Kalian jangan bercanda!"


"Serius, Suk."


Belum juga Zety membuka suara lagi, mereka terdiam saat Kiano masuk ke kamar. Zety menatap Kiano lekat. Tubuh atletis berbalut jas hitam pekat dan dasi kupu-kupu membuat Kiano terlihat sangat tampan. Berbeda dengan dirinya yang masih acak-acakan.


"Sama laki sendiri aja ngiler." Margaretha mengusap wajah Zety hingga membuatnya mendengkus kasar.

__ADS_1


"Mandilah. Ini MUA yang akan merias kamu," suruh Kiano lembut. Membuat Zety makin terbengong-bengong. Namun, di detik selanjutnya, Zety segera turun dan bergegas mandi versi kilat. Hanya butuh waktu lima menit, dia sudah keluar dengan memakai jubah mandi. Sampai ketiga sahabatnya pun terheran.


"Lu mandi apa cuci muka doang, Suk?" tanya Margaretha.


"Udah diem! Jangan kebanyakan komentar." Zety dengan santai duduk di kursi dan menyuruh perias tersebut untuk segera mendandaninya karena tidak ingin para tamu menunggu terlalu lama.


***


Suara musik yang barusan mengalun di rumah mewah tersebut. Kini senyap, hanya suara pembawa acara yang terdengar. Suara tepuk tangan terdengar riuh saat nama Bram, Zety, dan Kiano dipanggil untuk segera maju.


"Selamat malam semuanya," salam Bram. Mulai membuka suara.


"Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas kedatangan kalian semua. Malam ini saya akan memperkenalkan kepada kalian semua, terutama karyawan Pradana Group. Bahwa mulai saat ini, saya menyatakan diri pensiun dan akan digantikan oleh putri tunggal saya, Zety Kirania beserta Kiano yang sekarang sudah menjadi anak menantu saya." Bram tersenyum saat melihat puluhan orang yang terlihat terkejut.


"Mungkin kalian terkejut dan belum percaya, tetapi ucapan saya bukanlah sebuah guyonan semata. Tidak panjang kata yang akan saya ucapkan. Hanya doa yang ingin saya panjatkan untuk kebahagiaan putri dan menantu saya, kemajuan Pradana Group. Satu lagi pesan yang akan saya sampaikan terutama untuk menantu saya."


Bram menoleh ke arah Kiano yang sedang berdiri tegak sembari menggenggam tangan Zety erat. Bram bisa melihat kegugupan Kiano meskipun samar-samar.


"Papa juga sangat berharap semoga kamu bisa menjaga Zety dengan baik dan setulus hati. Kelak, saat papa harus pergi maka hanya kamu yang akan menjaga putri kesayangan papa." Bram terdiam dan menahan air matanya agar tidak keluar.


Zety melepaskan genggaman tangan Kiano lalu memeluk sang papa erat. Entah mengapa, Zety merasakan sebuah desiran saat Bram menyebutnya sebagai anak kesayangan. Hal yang sangat ingin Zety dengar sejak kecil.


"Maafkan papa, Sayang. Selama ini papa sudah sangat keterlaluan sama kamu." Bram membalas pelukan Zety tak kalah erat. "Papa sayang kamu."


"Zety juga sayang Papa. Jangan lagi ungkit masa lalu. Yang terpenting sekarang kita menata semuanya kembali menjadi hal yang lebih indah. Berjanjilah untuk tidak meninggalkan Zety, Pa." Suara Zety terdengar serak karena menangis. Sebagian orang di sana pun ikut menangis haru termasuk ketiga sahabat Zety. Mereka berharap semoga setelah ini hubungan Zety dan Bram benar-benar lebih baik.


"Ya. Kamu adalah bidadari papa." Bram melerai pelukan tersebut. Lalu mengusap pipi Zety lembut. Mengusap air mata yang masih mengalir di sana. "Jangan menangis. Putri papa bukan anak cengeng. Dia anak yang tegar, anak kuat meskipun sudah disakiti berkali-kali. Anak yang pemaaf dan tulus. Papa menyesal kenapa tidak sejak dulu papa menyayangi kamu. Gadis yang sangat hebat dan luar biasa."


"Pa—" Ucapan Zety tercekat di tenggorokan saat Bram kembali memeluk erat tubuhnya. Bahkan, lelaki itu terisak cukup keras.

__ADS_1


"Papa sayang kamu. Maafkan papa, Sayang."


"Tentu."


Zety memejamkan mata saat merasakan ciuman di keningnya. Jika dulu Zety sangat bermimpi ingin mendapatkan pelukan dan kecupan kening dari sang papa, dan kini semua ini menjadi kenyataan. Hal yang dulu selalu dia idamkan, kini semua bisa dia rasakan. Sungguh ini adalah kebahagiaan yang luar biasa untuknya.


"Sudah cukup kita bersedih." Bram melerai pelukan itu. Lalu tersenyum ke arah semua orang. "Lebih baik sekarang kita berpesta untuk merayakan pernikahan putriku!" teriak Bram lantang. Disambut tepuk tangan yang meriah dari para tamu undangan.


Kiano kembali menggenggam tangan Zety erat. Menatapnya penuh cinta hingga membuat Zety salah tingkah sendiri.


"Maukah kamu sama-sama mengarungi bahtera rumah tangga bersama saya. Apa pun yang terjadi di rumah kita nanti, berjanjilah untuk tetap bergandengan tangan. Saling menguatkan," ucap Kiano lembut. Zety mengangguk sembari tersenyum bahagia. Dia terdiam saat Kiano tiba-tiba menciumnya, di depan semua orang.


"Wuuu!!! Aseekkk!!" teriak Rasya. Bertepuk tangan.


"Kau menodai mata suci gue sebagai jomblo berkelas, Suk!" teriak Margaretha. Zety menggeleng sambil tertawa meledek.


"Kawin! Kawin! Kawin!" teriak Zahra lantang disusul gelakan tawa dari yang lain.


"Astaga." Arga mendengkus kasar melihat tingkah istrinya.


"Mulut lu laknat amat, Zae."


"Biarin." Zahra menjulurkan lidah. Lalu berlari mendekati Zety dan disusul Margaretha juga Rasya. Mereka berempat pun berpelukan erat. Saling tertawa bahagia. Setelah cukup puas berpelukan dengan sahabatnya, Zety kembali menggenggam erat tangan Kiano.


"Izinkan aku belajar menjadi istri yang baik untukmu."


"Dan saya akan berusaha melakukan yang terbaik untukmu dan anak kita kelak."


Dua orang itu sama-sama terlihat malu-malu. Tanpa banyak bicara, Kiano langsung membopong Zety ke kamar. Untuk saling beradu cinta. Akhirnya, hidup Zety pun bahagia.

__ADS_1


_TAMAT_


__ADS_2