Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
27


__ADS_3

"Suk," panggil Margaretha. Zety yang sedang sibuk menyiapkan pesanan pun menoleh sekilas ke arah Margaretha lalu kembali fokus pada pekerjaannya. "Menurut elu kecelakaan kita tadi pagi itu emang murni kecelakaan atau ada faktor disengaja?"


"Entahlah, Mar. Gue kagak tahu pasti. Yang jelas mulai sekarang kita harus hati-hati," ucap Zety diiringi helaan napas panjang.


"Gue khawatir, Suk. Takut terjadi apa-apa sama elu," ujar Margaretha.


"Gue bakalan baik-baik saja, Mar. Gue juga bakal pastiin elu baik-baik saja." Zety berbicara yakin.


"Kapan kita bisa mengungkap semuanya ya?" Margaretha mendes*hkan napasnya kasar.


"Secepatnya, Mar. Gue kagak mau kalau sampai ada yang terluka di antara kita. Gue yakin kalau bukan hanya kita yang diincar, tapi Kurap dan Zaenab juga karena mereka tahu kalau kalian adalah sahabat baik gue."


"Mereka?" Kening Margaretha mengerut dalam. "Memangnya pelakunya lebih dari satu?" tanya Margaretha. Zety tidak menjawab. Hanya mengendikkan kedua bahunya lalu berjalan ke luar untuk mengantar pesanan.


Baru saja Zety keluar, Andra masuk dan berdiri di depan Margaretha. Melihat kaki Margaretha yang masih bengkak. Andra pun menyuruh Margaretha untuk pulang saja, biarlah dia yang memintakan izin pada Gatra, tetapi Margaretha menolak. Dia tidak ingin sendirian di rumah saat mendapat teror seperti ini. Andra pun tidak berbicara apa pun lagi dan setuju pada keputusan Margaretha. Setidaknya restoran adalah tempat paling aman untuk mereka sekarang.


***


Sepulang dari bekerja, ketiga orang itu langsung menuju ke rumah Rasya setelah mendapat perintah untuk datang ke sana. Di sinilah mereka sekarang, duduk di ruang tamu.

__ADS_1


"Kaki elu masih sakit banget, Mar?" tanya Rasya melihat kaki sahabatnya.


"Udah mendingan lah, Ra. Enggak sesakit tadi pagi." Margaretha menjawab tenang.


"Syukurlah kalau gitu." Rasya mengembuskan napas lega. "Kalian lihat ini deh, ini anak buah Om Panu yang dapat." Rasya menyerahkan ponselnya menunjukkan sebuah video. Margaretha dan Zety mendelik tak percaya setelah beberapa menit melihat video tersebut.


"I-ini beneran, Ra?" tanya Zety, masih belum percaya. Rasya mengangguk cepat.


"Itu setelah anak buah Om Panu ngikutin dia terus," terang Rasya.


"Gimana kalau kita pergoki dia aja?" usul Zahra dan disambut anggukan dari para sahabatnya.


"Kapan?" Margaretha bertanya cepat.


"Katanya sih nanti malam dia mau jalan sama sugar daddy lagi di hotel XX," ucap Rasya.


"Kita samperin aja!" kata Margaretha penuh semangat.


"Ingat, kakimu sedang sakit," timpal Andra. Mendecakkan lidah dan wajahnya tampak ketus.

__ADS_1


"Tapi gue—"


"Jangan banyak membantah. Yang ada nanti malah bikin repot," sarkas Andra.


"Elu nyebelin Ndra!" protes Margaretha, tetapi Andra justru tetep terlihat tenang dan tidak peduli. Ketiga sahabat Margaretha hanya terkekeh melihat tikus dan kucing yang tidak pernah akur tersebut.


"Kalian ini sehari aja jangan debat bisa kagak sih?" Zety mengembuskan napas kasar. Dua orang itu tidak menjawab sama sekali dan hanya saling melempar tatapan tajam.


"Udahlah! Mending ntar malam kita lihat di hotel XX aja. Biar gue sama Suketi aja," kata Zahra. "Elu jangan ngikut, Ra. Ingat, perut lu udah segeede itu gue takut meledak," seloroh Zahra. Mencebik setelahnya saat Rasya menonyor kepalanya.


"Kalau ngomong suka seenak jidat lu sendiri. Kalau lu mau ikut juga harus jaga diri. Barangkali elu lagi hamil. Elu lagi suka makan yang asem-asem 'kan?" kata Rasya menasehati.


"Kemarin kan baru garis satu, Ra. Elu lihat sendiri. Lagian, papa dan mama masih nyuruh gue buat kuliah." Zahra merasa malas. Bukannya tidak mau menempuh jenjang pendidikan setinggi mungkin, tetapi dia sudah menikmati waktu berpikir bebas. Tidak memikirkan skripsi dan lainnya.


"Lah, elu baru telat dua hari. Kalau udah telat seminggu baru di cek lagi," kata Rasya. Namun, Zahra menggeleng cepat.


"Jangan mikirin gituan dulu lah. Mending sekarang kita mikir gimana caranya biar semuanya kelar dan bisa hidup tenang." Zahra menimpali. Langsung mendapat anggukan setuju dari mereka semua.


"Kalau begitu biar nanti Zety dan Zahra sama aku saja yang datang ke hotel itu," pungkas Andra. Mereka pun mengangguk setuju.

__ADS_1


Setelahnya, Zety dan Zahra bersiap untuk datang ke hotel bersama Andra. Sementara Margaretha tetap berada di rumah Rasya agar aman. Selama dalam perjalanan, Zety lebih banyak diam. Entah mengapa hatinya mendadak gelisah dan tak tenang. Ada perasaan aneh yang menyeruak masuk ke hatinya hingga membuat jantungnya berdebar tak tentu. Zety berusaha menangkis, tetapi perasaan gelisah itu tetap saja mendominasi.


'Semoga tidak terjadi hal apa pun.' batin Zety. Menghela napas panjang berkali-kali agar hatinya merasa sedikit tenang.


__ADS_2