Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
26


__ADS_3

Saat pintu telah terbuka lebar, Andra merasa heran karena tidak ada siapa pun di sana. Pandangannya mengedar ke sekitar, tetapi Andra tetap tidak bisa menemukan siapa pun. Zety yang sudah berdiri di samping Andra pun ikut merasa heran.


"Ini apa, Ndra?" Zety mengambil sebuah kertas yang terletak tidak jauh dari depan pintu. Lalu membukanya dan seketika tubuh Zety merinding saat melihat tulisan 'Bersiaplah untuk mati' di sana. Tulisan itu berasal dari darah karena Zety mencium bau anyir yang menguar hingga membuat Zety merasa mual. Andra pun segera membuang kertas tersebut.


"Ini bukan lagi hal main-main," ucap Andra. Rahang lelaki itu terlihat mengetat.


"Apa yang harus kita lakukan setelah ini, Ndra?" Zety memijat pelipis untuk mengurangi denyutan yang membuat kepalanya terasa pening.


"Kita harus tetap tenang agar bisa menemukan cara dan lekas menangkap si peneror." Andra berbicara dan ekor matanya melirik ke sekitar. Di belakang pohon mangga Andra bisa melihat seseorang berdiri di sana. Namun, Andra sengaja diam dan seolah tidak tahu. Untuk saat ini, Andra akan membiarkan mereka terlebih dahulu. "Lebih baik sekarang kamu tidur."


"Kamu yakin tidak apa-apa, Ndra?" tanya Zety khawatir.


"Tidak. Kamu tenang saja." Andra menjawab yakin. Mereka pun kembali masuk. Zety ke kamar, sedangkan Andra duduk di ruang tengah. Zety tidak mengatakan semua pada Margaretha karena takut gadis itu akan kepikiran.


Zety berusaha memejamkan mata, tetapi pikirannya justru berkelana. Mencari cara agar bisa menangkap pelaku teror itu. "Semoga aku bisa cepat mendapatkan bukti agar mereka bisa mendekam di penjara"


***


Keesokan paginya, Margaretha sudah bangun terlebih dahulu karena semalam dia tidur paling awal. Lupa pada keberadaan Andra, dengan santainya Margaretha berjalan ke ruang makan hanya memakai handuk mandi yang membuat paha mulusnya terpampang jelas. Margaretha tampak tenang meminum segelas air putih.


"Bisakah kamu sopan!"


Uhuk! Uhuk!


Margaretha tersedak karena mendengar suara Andra. Saat menoleh ke arah karpet, dia tersentak saat melihat Andra sedang tiduran di sana.


"Sejak kapan elu di situ?" tanya Margaretha tergagap karena gugup.

__ADS_1


"Sejak kamu masuk ke sini dan memamerkan paha mulusmu itu. Kamu pikir aku akan tergoda?" Andra terlihat santai seperti di pantai.


Margaretha menyadari hanya memakai handuk, dia pun menaruh gelas dengan kasar lalu berlari cepat menuju ke kamar. Andra yang melihatnya pun menggeleng tidak percaya. Lalu mendengkus kasar saat melihat adik kecilnya sudah berdiri menantang.


"Aku harus mandi sekarang." Andra beranjak bangun dan bergegas membersihkan diri karena harus bekerja setelah ini.


Mereka bertiga telah bersiap, Margaretha hanya diam saja karena masih merasa canggung dengan Andra perihal kejadian tadi pagi. Zety yang tidak tahu apa pun hanya menatap heran ke arah mereka berdua yang saling diam padahal biasanya selalu beradu mulut.


"Kalian di depan aja," suruh Andra. Membiarkan motor yang dikendarai Zety melaju di depan, sedangkan dirinya mengekor di belakang.


Motor melaju dengan kecepatan sedang. Tidak ada yang mencurigakan sama sekali. Andra pun sedikit mengembuskan napas lega. Namun, tiba-tiba ....


Brak!


Motor yang dikendari Zety terjatuh saat hendak masuk ke halaman restoran. Dua gadis itu terjatuh. Andra menghentikan laju motornya dan segera menolong mereka. Andra pun tak lepas melihat motor yang barusan menyenggol Zety.


"Tidak papa." Zety dan Margaretha menjawab bersamaan. Namun, saat bangkit Margaretha sedikit meringis karena kakinya terasa nyeri. Andra tanpa berbicara apa pun langsung membopong Margaretha masuk ke restoran.


Selepas kepergian Andra dan Margaretha, pandangan Zety mengedar ke seluruh penjuru. Lalu mengembuskan napas panjang berkali-kali.


"Gue harus bergerak cepat sebelum mereka makin keterlaluan. Gue enggak mau kalau sampai mereka akhirnya menyakiti sahabat-sahabatku." Zety bergumam sebelum akhirnya memilih memarkirkan motornya dan bergegas masuk untuk melihat keadaan sahabatnya.


Gatra yang baru saja sampai di restoran begitu terburu saat Andra mengatakan kalau Zety dan Margaretha baru saja terserempet. Gatra masuk dan bernapas lega saat melihat Zety dalam keadaan baik-baik saja.


"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja," ucap Gatra saat sudah berdiri tepat di depan Zety.


"Iya, Mas. Cuma agak kaget aja barusan," balas Zety. Tersenyum simpul.

__ADS_1


"Ehem! Ehem! Aku enggak ditanyain, Mas?" sindir Margaretha, menatap kesal ke arah Gatra.


"Ah iya, maafkan aku. Bagaimana keadaanmu, Mar?" tanya Gatra beralih menatap Margaretha.


"Sakit, Mas. Aku sakit sekali. Butuh pelukan kasih sayang," jawab Margaretha berdrama. Beberapa detik selanjutnya gadis itu mengaduh saat tangan Zety menonyor kepalanya.


"Kek jablay elu, Mar."


"Astaga, mulut elu jahat amat, Suk!" Margaretha mengusap bekas tangan Zety di kepalanya.


"Bersikaplah seperti wanita yang punya harga diri," cibir Andra yang baru saja bergabung sembari membawa baskom kecil berisi air bersih.


"Ye, bilang aja elu cemburu, Ndra," kata Margaretha penuh percaya diri. "Sakit, sakit, sakit." Margaretha mengaduh saat Andra sedikit menekan lukanya.


"Seperti ini aja sakit," cemooh Andra.


"Emang sakit, Ndra. Elu kagak ngerasain." Margaretha mendengkus kasar.


"Lebih sakit kalau dikhianati," gumam Andra lirih.


"Elu ngomong apa, Ndra?" tanya Margaretha menatap Andra dengan kening mengerut dalam. Andra tidak menjawab apa pun. Dengan telaten lelaki itu membersihkan luka di kaki Margaretha.


***


Thor, ceritanya digabung?


Iya. Cerita ini bukan hanya menceritakan tentang Suketi ya, tapi sekaligus Markonah 😁

__ADS_1


Lanjut gak nih? Othor butuh dukungan biar makin semangat ini 😁😁


__ADS_2