Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
34


__ADS_3

"Mas ...." Suara Zety terdengar lirih dan tertahan. Gatra menatap Zety, menunggu gadis itu melanjutkan ucapannya. "Bagaimana kalau kita katakan sebenarnya pada mama kamu kalau hubungan kita hanyalah pura-pura dan silakan kamu menikah dengan Shifa. Aku tidak bisa lagi melanjutkan sandiwara ini."


Gatra terkejut mendengar ucapan Zety. Langsung berjongkok di depan Zety dan menggenggam tangan gadis itu dengan erat. "Kenapa? Padahal aku ingin mengajakmu untuk menikah sungguhan."


"Aku tidak bisa, Mas," tolak Zety cepat.


"Kamu tidak mencintaiku?" tanya Gatra begitu menuntut. Zety terdiam. Menutup rapat mulutnya karena dia tidak tahu harus menjawab apa.


"Mas, asal kamu tahu kalau aku tidak sebaik yang kamu kira. Bahkan aku kalah jauh dari Shifa." Zety berusaha keras menahan air matanya agar tidak terjatuh.


Shifa saja bisa mengambil perhatian papa, sedangkan aku yang darah dagingnya sama sekali tidak bisa. Betapa bodohnya aku. Zety meneruskan ucapannya dalam hati.


"Zet ...."

__ADS_1


"Mas, aku mohon pergilah dan jangan pernah sekalipun kamu memberi harapan padaku. Aku tidak ingin lupa diri siapa aku sebenarnya dan betapa tidak pantasnya aku bersanding denganmu. Aku sadar kalau tidak akan pernah bisa menjadi wanita idamanmu. Aku sadar kalau aku adalah Zety ... bukan Rasya."


"Kenapa kamu menyebut nama Rasya?" Gatra berlagak tidak tahu apa pun padahal hatinya tersentil oleh ucapan Zety.


"Mas ... aku tidak akan menjelaskan hal yang kamu sendiri sudah tahu maksudnya. Kalau kamu menikah denganku hanya sebatas keinginanmu sesaat maka aku mohon jangan lakukan itu. Tidak baik bermain dengan perasaan."


"Zet, aku akan belajar. Semua orang butuh waktu untuk menghapus segala kenangan yang pernah tercipta dengan orang yang dia cinta, tapi tak bisa dimiliki," timpal Gatra. Masih menggenggam erat tangan Zety.


"Dan aku tidak yakin kamu bisa berubah mencintaiku, Mas. Aku tidak yakin bisa menggantikan posisi Rasya di hatimu. Apalagi jika kita bersama maka kamu akan sering pula bertemu Rasya." Hati Zety berdesir. Rasa sakit serasa menjalar seiring aliran darahnya. Zety cemburu dan sakit akan perasannya sendiri.


"Maaf, Mas. Aku tidak bisa."


"Tapi, Zet ...." Gatra terdiam saat ponselnya berdering. Dia langsung menerima panggilan itu saat melihat nama Shifa tertera di layar. "Hallo, Shifa. Kamu sudah sampai di hotel? Baiklah aku ke situ sekarang."

__ADS_1


Zety menatap Gatra yang sudah bangkit berdiri dan menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku. Dia mematung saat Gatra berpamitan padanya begitu saja. Zety hanya mematung. Menatap kepergian Gatra yang makin membuat hatinya merasa sakit.


"Lebih baik aku tidur." Zety beranjak bangkit saat melihat mobil Gatra sudah pergi dari halaman kontrakan. Dia benar-benar harus beristirahat dari rasa sakit yang membuat kepalanya berdenyut.


"Mau mereka bertemu bahkan bercinta di hotel sekalipun bukan lagi urusanku." Zety menggerutu. Namun, saat baru saja berjalan beberapa langkah, Zety terdiam saat mendengar suara memanggil namanya dari arah belakang. Zety berbalik dan mendengkus kasar setelah melihat Bram berdiri di ambang pintu dan sedang menatapnya saat ini. Raut wajah Zety berubah penuh kebencian.


"Pergilah! Aku muak melihatmu, Pak Tua!" usir Zety.


"Papa ingin sedikit berbicara padamu." Bram menutup pintu rapat karena dia khawatir Zety akan mengusirnya.


"Apa yang akan kamu katakan? Aku tidak suka berbasa-basi!" Suara Zety masih terdengar ketus.


"Zet, maukah kamu memaafkan papa sebelum papa pergi dari dunia ini untuk menyusul mama dan omamu?" pinta Bram. Zety menoleh, menatap sang papa dengan tatapan yang susah dijelaskan.

__ADS_1


"Apa maksud ucapanmu?" tanya Zety sangat tidak sabar.


__ADS_2