
"Tidak perlu tahu aku ini siapa? Kupikir kamu sudah tidak punya muka lagi untuk berada di dekat Zety." Gatra berbicara penuh amarah, sedangkan Bram mengepalkan tangan erat karena sikap Gatra yang sangat lancang menurutnya.
"Ada hak apa kamu berbicara seperti itu? Asal kamu tahu aku adalah papanya Zety!" Bram berbicara tegas, tetapi Gatra justru tertawa meledek. Membuat Bram makin merasa kesal.
"Apakah pantas lelaki sepertimu dipanggil papa?" tanya Gatra menyindir. Kedua lelaki itu lupa kalau mereka sedang berada di ruangan yang tidak diperbolehkan untuk berisik apalagi sampai bertengkar. Mereka sama-sama dipenuhi emosi. Andra yang mendengar dari luar, ingin sekali masuk dan melerai, tetapi dia juga tidak tega saat melihat Margaretha yang masih tertidur sangat lelap. Andra pun meminta bantuan perawat yang kebetulan lewat untuk melerai mereka. Bahkan, kedua lelaki itu diusir dari dalam ruangan.
"Mas, ini di rumah sakit. Jagalah sikap." Andra berbicara menasehati Gatra tanpa rasa takut. Gatra tidak menjawab, hanya menatap Bram secara tajam. Begitu juga dengan Bram yang tak kalah takut membalas tatapan Gatra. Dua lelaki berbeda usia itu terlihat saling menantang. Andra yang melihatnya hanya bisa menggeleng.
***
Satu Minggu berlalu bukan waktu yang sebentar bagi mereka menunggu Zety membuka mata. Lantunan doa terus saja mereka panjatkan agar Zety segera sadar, dan hari ini doa mereka dikabulkan. Zety kembali membuka keduanya matanya.
"Suketi, akhirnya elu sadar." Rasya mengusap wajah Zety. Wanita itu menangis haru saat menatap Zety sedang berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya sekitar.
"Ra ...." Zety hendak bangkit, tetapi Rasya langsung melarang dan meminta gadis itu untuk tetap tiduran.
"Jangan banyak bergerak dulu." Rasya menekan tombol nurse. Meminta perawat dan dokter untuk datang memeriksa Zety.
"Elu sendirian, Ra?" tanya Zety saat tidak melihat siapa pun di samping Rasya. Dengan cepat Rasya mengangguk. "Zaenab sama Markonah di mana?"
"Markonah lagi kerja kalau Zaenab lagi cek dokter." Rasya tersenyum, merasa senang karena sahabatnya bisa bangun kembali.
__ADS_1
"Cek dokter? Zaenab sakit?" tanya Zety cemas. Rasya menggeleng cepat.
"Tidak. Dia kemungkinan sedang hamil makanya sedang periksa," jawab Rasya. Senyum Zety mengembang saat mendengar penuturan Rasya. Dia berdoa dalam hati semoga sahabatnya memang benar-benar hamil.
"Kalau Baby Bisul gimana, Ra?" tanya Zety.
"Kurang dari empat Minggu lagi. Makanya cepet sehat, Suk. Katanya elu pengen gendong bayi sultan." Rasya tergelak, sedangkan Zety terkekeh. Dia memang tidak sabar ingin segera melihat bayi yang sudah diklaim sebagai keponakan.
"SUKETIIII." Suara Margaretha dan Zahra dari arah pintu berhasil mengejutkan mereka berdua.
"Astaga, kalian jangan bikin jantungan bisa kagak sih," omel Rasya. Wanita berperut buncit itu berpindah ke sofa dan bibirnya terus saja menggerutu.
"Yaelah, Nyonya Muda jangan ngedumel mulu. Ntar cantiknya digondol kucing loh." Margaretha tersenyum menggoda. Rasya tidak menyahut hanya melirik sekilas sembari duduk bersidekap.
"Gue juga. Akhirnya gue enggak kesepian lagi karena ada temen sesama jomlo." Margaretha pun melakukan hal yang sama.
"Ish! Mulut elu nyebelin banget, Mar." Zahra protes.
"Enggak papa, daripada tingkah elu yang nyebelin," balas Margaretha tak mau kalah.
"Eh elu berani sama gue!" Zahra menantang, sedangkan Margaretha pun tak mau kalah.
__ADS_1
"Lu kira gue—" Ucapan Margaretha tertahan di tenggorokan saat mendengar omelan Rasya yang memekakkan telinga. Zahra dan Margaretha pun saling menyenggol dan menyalahkan.
"Kalian ada-ada aja." Zety menggeleng sembari tersenyum lebar. "Oh iya, makasih kalian udah mau ngejaga dan ngerawat gue selama sakit." Zety menatap mereka bertiga secara bergiliran.
"Suk, sebenarnya ada seseorang yang ngejagain elu dua puluh empat jam. Tapi bukan kita ...." Zahra menghentikan ucapannya.
"Lalu siapa? Mas Gatra ya?" Senyum Zety merekah.
"Bukan, Suk, tapi ...."
"Kamu sudah sadar, Zet. Syukurlah."
Semua terdiam saat melihat Bram masuk ke ruangan. Senyum Zety memudar seketika. Bahkan, rahang gadis itu mengetat dan sorot matanya memancarkan kilatan amarah. Tangan Zety terkepal erat saat melihat Bram berjalan mendekat dengan cepat.
"Untuk apa kamu datang ke sini, Bajingan!" bentak Zety. Langkah Bram terhenti seketika dan menatap Zety sangat lekat dari kejauhan.
••••
Thor, Oe!
Kenapa kemarin enggak up? Ciee ... Merindukan aku ya 😂😂
__ADS_1
Hayooo, ngaku lohhh.
Buat kalian semua. Jangan lupa selalu jaga kesehatan ya 🤗