Terjerat Cinta Sang Bos

Terjerat Cinta Sang Bos
42


__ADS_3

Margaretha yang sedang tertidur lelap, harus terbangun tiba-tiba saat mendengar suara pintu yang diketuk cukup keras. Bahkan, lebih pantas disebut gedoran. Dengan bermalasan, Margaretha turun dari tempat tidur dan segera membukakan pintu.


"Astaga, siapa sih? Ganggu orang tidur aja," protes Margaretha. Namun, dia terdiam sesaat ketika melihat siapa yang sedang berdiri di depannya saat ini. "Mas ganteng?"


"Di mana nona muda?" tanya Kiano tanpa basa-basi.


Margaretha mengerutkan keningnya dalam, "Suketi? Bukannya dia tidur di rumah papanya?" Margaretha justru bertanya balik penuh dengan kebingungan.


"Tidak. Dia bilang mau pergi sama kamu dan dua teman lainnya," bantah Kiano. Margaretha makin kebingungan.


"Aku tidak ada janji apa-apa sama dia. Bahkan, Rasya saja tidak diperbolehkan pergi karena sudah hamil besar," jelas Margaretha. Kiano mengepalkan tangannya dan rahangnya terlihat mengetat. Margaretha yang melihat itu pun menjadi takut sendiri.


"Sialan!" umpat Kiano sembari berbalik dan berjalan terburu. Margaretha pun segera mengejar Kiano.


"Tunggu dulu, Mas. Ini sebenarnya ada apa? Suketi ke mana?" Margaretha mendadak gelisah. Apalagi melihat raut wajah Kiano membuat perasaan Margaretha mendadak tidak nyaman.


"Aku akan mencari nona muda." Kiano menghidupkan motornya dan bersiap untuk pergi, tetapi Margaretha segera menahan dan meminta ikut. Kiano hendak melarang, tetapi Margaretha terus saja merengek hingga akhirnya Kiano pun pasrah dan menyuruh Margaretha untuk segera naik. Setelahnya, motor Kiano melesat membelah jalanan dan mereka sesekali menengok barangkali melihat Zety.


***


Byuurr!!


Zety gelagapan saat merasakan tubuhnya disiram air dingin. Matanya terbuka lebar dan terkejut saat tubuhnya tidak bisa digerakkan dengan bebas. Tangan dan kakinya terikat pada sebuah kursi. Jantung Zety berdebar kencang saat merasa berada di tempat asing. Aroma debu yang menguar seolah menusuk indera penciumannya. Membuat suasana di sana terasa mencekam.


Tubuh Zety gemetar saat melihat seorang lelaki bertubuh kekar berdiri di sampingnya, sedangkan yang satunya berdiri agak jauh. Wajah mereka sama-sama tampak sangar dengan otot kekar yang membuat Zety makin ketakutan. Apalagi seringai dari kedua orang itu yang seperti memiliki maksud tersendiri.

__ADS_1


"Ternyata kamu sudah bangun, Nona Manis?" Salah satu di antara mereka mengusap dagu sembari menatap Zety penuh napsu.


"Kalian siapa?" tanya Zety setengah berteriak. Mencoba mengumpulkan segala keberaniannya.


"Hahaha tidak perlu tahu kami ini siapa. Yang penting adalah malam ini kamu harus menikmati waktumu sebaik mungkin karena belum tentu kamu bisa melihat matahari esok," katanya. Zety merinding saat mendengarnya. Namun, dia mencoba untuk tetap terlihat setenang mungkin.


"Apa maksud kalian? Lepaskan aku, sialan!" pekik Zety. Meronta dan berusaha melepaskan diri. Ikatan tersebut bukannya terlepas, tetapi tangan Zety justru terluka karenanya. Zety tidak peduli pada rasa perih yang mulai terasa karena yang terpenting baginya saat ini adalah bisa melepaskan diri.


"Melepaskanmu? Hahaha tidak akan!" Gelakan tawa itu membuat tubuh Zety beringsut takut. Wajahnya mulai tampak memucat.


"Jangan takut, Nona Manis. Karena sebentar lagi kita akan bersenang-senang dan aku akan mengajakmu menggapai Nirwana. Haha." Lagi dan lagi mereka tergelak. Untuk saat ini, Zety mulai kehilangan keberaniannya.


"Katakan padaku siapa yang menyuruh kalian?" teriak Zety lagi. Mereka tidak menjawab, salah satunya berjalan mendekati Zety dan merem*s dagu gadis itu sedikit kuat hingga Zety meringis.


"Tidak perlu tahu siapa yang menyuruhku karena sekarang waktunya kita akan bersenang-senang. Tenang saja, karena kamu masih perawan kita akan melakukannya dengan perlahan," ucapnya disertai seringai.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Zety. Gadis itu meringis kesakitan karena tamparan tersebut begitu kuat. Bahkan, Zety merasa getir dan dia yakin kalau sudut bibirnya berdarah saat ini.


"Berani sekali kamu kurang ajar padaku! Sepertinya aku harus menggunakan sedikit kekerasan padamu!" ucapannya menggelegar. Zety ketakutan dan tubuhnya sudah gemetar hebat. Dia terus saja berteriak meminta tolong, tetapi sepertinya percuma. Tidak ada siapa pun yang bisa menolongnya saat ini.


Lelaki yang sudah marah itu segera melepas ikatan tali yang mengikat Zety. Hanya tangan gadis itu yang masih terikat kuat. Menarik tubuh Zety kuat dan menghempaskan ya di kasur tipis yang berada di lantai. Zety meringis saat tubuhnya terasa sakit.


"Tolong lepaskan aku!" Zety menggeleng sembari memundurkan tubuhnya. Takut pada lelaki yang terus saja mendekatinya. Satu lelaki menatap seolah hendak menerkamnya, sedangkan satu lagi menaruh merekam dengan ponsel. Zety menggeleng, meminta ampun pada lelaki itu untuk segera melepaskannya. Namun, semua benar-benar percuma.

__ADS_1


"Tolong ... jangan lakukan apa pun padaku." Zety menangis karena tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dia terus mencoba menghindar saat lelaki itu mendekat.


"Tenang saja, Nona. Lebih baik kita menikmati waktu yang ada. Jangan takut seperti itu." Lelaki itu mengusap bibir dengan lidahnya. Membuat Zety makin ketakutan. Apalagi saat lelaki itu sudah mendekatkan wajahnya.


"Menjauhlah!" bentak Zety. Namun, bukannya takut, lelaki itu justru makin mendekat. Zety memalingkan wajah berusaha untuk menghindar.


'Ya Tuhan. Tolonglah aku.' Zety benar-benar ketakutan saat ini. Namun, dia pun tidak ingin menyerah. Meyakinkan diri kalau dia harus berani melawan. Zety menggunakan tenaga yang tersisa. Menendang tubuh lelaki itu hingga jatuh terpental karena posisinya sedang tidak siap. Lelaki itu meradang dan mengumpati Zety.


"Berani sekali kamu bersikap kurang ajar seperti ini!" bentaknya keras membuat Zety kembali meringsut takut.


"Lepaskan aku!" Zety berteriak. Zety berusaha melepaskan diri saat lelaki itu tiba-tiba memeluknya erat bahkan sudah mendaratkan ciuman di lehernya. Tubuh Zety meremang seketika karena ini pertama kalinya lehernya dicium dan Zety merasa sangat jijik karenanya. "Lepaskan! Bangsat!"


"Hahaha nikamti saja, Sayang. Aku janji akan melakukan dengan perlahan. Kalau kamu berontak justru akan sakit," kata lelaki itu. Hendak mencium bibir Zety, tetapi dengan gerakan cepat Zety menggeleng kanan-kiri untuk menghindar. Lelaki itu pun gemas sendiri dan mencium leher Zety lagi. Membuat satu tanda kepemilikan di sana. Zety merasa sangat jijik.


"Bajingan!"


Bug!


Lelaki itu terhuyung ke belakang dan menggenggam adik kecilnya sembari mengerang kesakitan karena Zety menendangnya dengan kencang. Lelaki itu tampak geram, sedangkan Zety makin ketakutan dan berusaha untuk pergi dari sana. Satu orang yang merekam pun menyudahi dan berusaha untuk mengejar Zety.


"Gadis sialan! Mau ke mana kamu!" teriak orang itu. Zety pun berusaha mengencangkan larinya. Entah karena kebodohan dua pria itu atau memang Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Pintu ruangan itu bukannya terkunci, tetapi justru terbuka lebar. Zety berlari sekencang mungkin tanpa menoleh dan peduli pada teriakan lelaki yang mengejarnya.


Tiiiinnn!!


Suara klakson dari arah kanan seketika menghentikan kaki Zety yang baru memasuki jalan raya. Zety memejamkan mata dan mematung di tempatnya.

__ADS_1


'Bila aku mati, setidaknya aku tidak ternoda sama sekali.'


__ADS_2