
Zety duduk merenung di kamarnya. Memikirkan ucapan Kiano barusan. Setelah Kiano mengatakan hal itu, Zety tidak berbicara apa pun dan langsung pergi begitu saja. Helaan napas kasar gadis memecah keheningan kamar.
"Haruskah gue bener-bener menjauh dari Mas Gatra?" Zety bergumam sendiri dan untuk saat ini gadis itu tidak tahu harus berbuat apa.
Merasa bingung, Zety segera mengambil ponsel dan menghubungi Margaretha. Dia meminta sahabatnya untuk datang ke rumah. Margaretha yang kebetulan baru pulang bekerja pun langsung menuju ke rumah Zety.
Hampir dua puluh menit menunggu, Zety tersenyum bahagia saat melihat Margaretha masuk ke rumah. Dia langsung menyambut sahabatnya dengan antusias. Namun, Zety terdiam sesaat dan melirik menggoda ke arah Margaretha yang sudah mendes*hkan napas ke udara secara kasar. Margaretha tahu apa maksud lirikan mata Zety itu.
"Elu ikutan ke sini, Ndra?" tanya Zety pada Andra yang baru sampai di ambang pintu. Margaretha mencubit pinggang Zety hingga gadis itu meringis. Bukan tanpa sebab, Margaretha paham betul maksud lirikan mata Zety barusan.
"Ya, kebetulan motor sahabat kamu itu kehabisan bensin. Jadi, ku antar saja daripada dia harus jalan kaki ke sini," sahut Andra. Berusaha menahan tawa, sedangkan Margaretha memainkan kepalan tangannya seolah hendak memukul Andra.
"Kalau ngomong jangan sekate-kate elu, Ndra!" protes Margaretha. Namun, Andra tidak menanggapi sama sekali. Hanya tersenyum miring dan itu mampu membuat Zety makin merasa kesal.
"Sudahlah, Tom dan Jerry dimohon agar tidak bertengkar di sini." Zety berusaha melerai sebelum dua orang itu saling beradu mulut.
"Zet, di mana Kiano?" tanya Andra. Celingukan mencari keberadaan Kiano yang tidak terlihat sama sekali.
"Entah. Palingan juga di taman belakang." Zety menjawab asal. Mendengar nama Kiano masih membuat Zety merasa kesal. Andra pun berpamitan mencari Kiano, sedangkan Zety dan Margaretha menuju ke kamar untuk saling bertukar cerita.
"Ternyata kamu di sini."
Kiano yang sedang menikmati udara segar di taman belakang pun menjadi terkejut dengan kedatangan Andra. Dia segera berjalan mendekati Andra.
"Sejak kapan kamu di sini?" tanya Kiano.
"Baru saja. Aku mengantar Margaretha yang ingin bertemu dengan Zety," sahut Andra.
"Kalian pacaran?" Kiano menatap Andra penuh selidik. Namun, dengan cepat Andra menggeleng. "Lalu?"
__ADS_1
"Aku hanya sebatas mengantar saja karena motor dia kehabisan bensin. Oh iya, bagaimana dengan Shifa?" Andra penasaran. Pasalnya, setelah mengantar dua berandalan itu ke pihak berwajib, Andra tidak lagi ikut mengurusi hal itu. Dia menyerahkan semuanya kepada Tuan Bram dan Kiano.
"Semua sudah hampir selesai dan Tuan Bram sudah meminta agar mereka mendapat hukuman yang setimpal. Ndra ... kamu benar-benar luar biasa bisa menancapkan pelurumu sampai membuat mereka tidak berdaya," puji Kiano. Menatap bangga ke arah Andra.
"Kamu juga. Bisa menembak Zety tepat sasaran. Bahkan, hampir saja mengenai jantungnya. Aku yakin kalau kamu sedikit menggeser arah pelurumu." Andra pun menatap bangga. Namun, raut wajah Kiano justru mendadak murung. Jika teringat hal itu, Kiano menjadi menyesal sendiri dan merasa sangat bersalah karena sudah menyakiti Zety.
"Hah! Aku masih menyesal sampai sekarang." Suara Kiano terdengar berat. Andra pun menepuk bahu lelaki itu.
"Sudahlah. Kamu bisa menebusnya dengan menjaganya. Ah iya, suatu saat sepertinya aku akan butuh bantuanmu," kata Andra. Kiano menoleh dan menatap heran ke arah Andra.
"Bantuan?" tanya Kiano mengulangi, Andra mengangguk cepat.
"Aku sedang menjaga seseorang dari orang yang berniat mencelakainya. Dan bila nanti saatnya tiba, aku sepertinya tidak bisa jika sendirian."
"Ndra, apa ini ada kaitannya dengan kematian orang tua Margaretha?" tebak Kiano. Andra langsung menoleh, menatap Kiano penuh selidik.
"Kamu tahu tentang kematian orang tua Margaretha?" Raut wajah Andra terlihat begitu terkejut.
Andra menghirup napasnya dalam-dalam. "Belum waktunya kamu tahu semuanya, Ki. Tapi, kuharap kamu bisa menyimpan rahasia ini dan bersikaplah sebagai mana aku hanyalah manusia sederhana." Andra merasa sedikit cemas, tetapi dia yakin kalau Kiano bisa menjaga rahasia itu dengan sangat baik.
"Kapan pun kamu butuh bantuan, aku pasti akan membantumu, Ndra," ucap Kiano tegas. Andra pun sangat berterima kasih untuk hal itu.
"Di mana Tuan Bram?" tanya Andra untuk mencairkan suasana.
"Sedang di rumah sakit," jawab Kiano diiringi helaan napas berat.
"Rumah sakit? Beliau sakit?" Andra kembali melontarkan pertanyaan.
"Ya, beliau sakit jantung. Sudah sering berobat."
__ADS_1
"Zety tahu?"
Kiano menggeleng cepat saat Andra bertanya hal itu karena memang Zety tidak tahu semuanya. "Tuan Bram sengaja menyembunyikan semuanya karena tidak ingin nona muda khawatir. Seharusnya aku sedang di sana menemani Tuan Bram, tetapi beliau justru bersikukuh memintaku agar menjaga Zety karena masih khawatir." Suara Kiano terdengar berat dan menyiratkan kesedihan.
"Semoga beliau lekas sembuh seperti sedia kala, Ki."
"Makasih, Ndra."
Dua lelaki itu pun akhirnya berpindah mengobrol di ruang tengah. Sembari menunggu dua gadis sengklek yang entah sedang membicarakan hal apa di dalam kamar. Namun, saat sedang asyik minum kopi bersama, Kiano dan Andra terkejut saat melihat Zety dan Margaretha berlari menuruni tangga. Dua lelaki itu dengan sigap berjalan cepat dan menunggu di bawah tangga karena khawatir terjadi apa-apa.
"Jangan berlarian, Nona! Anda bukan lagi anak kecil," omel Kiano. Lelaki itu mengembuskan napas lega saat Zety dan Margaretha sudah sampai di anak tangga terakhir. Begitu juga dengan Andra.
"Gue mau ke rumah sakit," kata Zety.
"Untuk apa Anda hendak ke rumah sakit, Nona?" tanya Kiano khawatir.
"Rasya di sana karena mau melahirkan dan gue enggak mau melewatkan kelahiran keponakan gue yang tampan sekali." Zety berbicara antusias.
"Kalau begitu kita berangkat menggunakan mobil saja. Angin malam tidak baik untuk Anda, Nona," kata Kiano penuh perhatian.
"Cieee, perhatian amat. Aku juga mau diperhatiin dong, Mas Ganteng." Margaretha menaik-turunkan alisnya menggoda. Namun, sepersekian detik selanjutnya dia mengaduh karena Andra sudah menjewer telinganya.
"Sakit, Ndra!"
"Rasain! Makanya jadi cewek jangan genit!" Andra melepaskan jeweran itu tanpa peduli pada Margaretha yang hendak menangis. Zety dan Kiano yang melihatnya pun hanya bisa tertawa.
"Eh, di mana papa? Gue mau pamitan?" Zety celingukan mencari keberadaan Bram.
Kiano pun mendadak gugup. "Tuan Bram masih di kantor. Sepertinya beliau lembur," jawab Kiano sedikit berbohong.
__ADS_1
"Kalau begitu nanti saja gue telepon. Sekarang gue buru-buru mau ke rumah sakit."
Zety berjalan cepat, ketiga yang lainnya pun ikut mengekor dan menuju ke rumah sakit untuk menunggu Rasya yang sedang menikmati proses pembukaan untuk melahirkan Baby Bisul.