
Hidup berumah tangga, memiliki anak yang lucu adalah impian semua orang. Apalagi untuk pasangan suami-istri, kedatangan anak adalah hal yang paling mereka tunggu dan kelahiran seorang buah hati yang lucu dan menggemaskan makin menyempurnakan kebahagiaan dan membuat hidup menjadi lebih berwarna. Selamat untuk yang kalian wanita yang telah menyandang gelar sebagai seorang ibu dan semoga lekas diberi momongan untuk yang masih menantinya 🤗 Kalian semua adalah wanita luar biasa.
Begitu juga yang sedang dialami oleh Rasya saat ini. Satu tahun usia pernikahan mereka, kini telah lahir seorang bayi mungil nan tampan yang menjadi pujaan siapa pun yang melihatnya. Pandu pun merasa amat bahagia. Berpuluh kali ciuman dia hujankan kepada istrinya. Rasa cintanya pada Rasya makin bertambah apalagi setelah melihat perjuangan Rasya ketika melahirkan putra pertama mereka. Calon pewaris harta keluarga Andaksa.
Bima Sultan Andaksa. Nama itu benar-benar Rasya berikan pada putranya. Bima yang berarti gagah perkasa, pemberani, dan teguh. Sultan Andaksa dikarenakan bayi mungil itu adalah calon pemilik kekayaan keluarga Andaksa. Itulah arti yang tersemat dalam nama yang diberikan oleh Rasya, dan Pandu hanya bisa mengiyakan saja. Bayi itu sekarang sedang menjadi primadona keluarga Andaksa maupun Paijo karena merupakan cucu pertama dari keluarga keduanya.
Berbeda dengan Rasya, pada akhirnya Zety tetap berhenti dan berpamitan pada Gatra untuk berhenti bekerja di restoran karena dia akan fokus mengurus Bram yang masih dirawat. Gatra merasa sangat keberatan karena bagaimanapun dia sedang belajar jatuh cinta dengan Zety, meskipun terasa sangat berat karena bayangan Rasya yang selalu saja datang mengganggu. Namun, Gatra pun hanya bisa mengiyakan dan menghargai keputusan Zety.
"Pa, aku mau jenguk Baby B dulu. Papa mau ikut?" tanya Zety setelah selesai menyuapi sang papa. Bram menggeleng cepat.
"Papa menunggu di sini saja sama Kiano," tolak Bram halus. Zety tersenyum dan berpamitan pergi. Tak lupa Zety mencium kedua pipi Bram hingga membuat hati Bram merasa berbunga-bunga.
"Jagain papa. Awas kalau sampai teledor!" Zety menunjuk wajah Kiano yang saat ini berpapasan dengannya di ambang pintu. Kiano tidak menjawab apa pun hanya menatap malas ke arah Zety. Setelahnya, Zety pergi begitu saja meninggalkan Kiano yang sedang menatap kepergiannya.
Setelah Zety sama sekali tidak terlihat, Kiano bergegas masuk dan berdiri di samping Brankar. Bram menatap Kiano lekat lalu tersenyum tipis. Namun, Kiano bisa melihat sorot mata Bram yang tampak sendu.
"Anda sudah merasa lebih baik, Tuan?" tanya Kiano berusaha mencairkan suasana.
"Sudah, Ki. Agak mendingan tidak sesakit kemarin." Bram hendak duduk, dengan sigap Kiano membantu lelaki itu. "Terima kasih, Ki."
__ADS_1
"Tidak perlu berterima kasih, Tuan. Ini sudah tugas saya." Kiano kembali berdiri di tempat semula.
Brama menatap Kiano lekat lalu menghela napas panjangnya. Kiano yang merasa ditatap pun merasa terheran-heran.
"Ada sesuatu yang Anda inginkan, Tuan? Biar saya bantu," tawar Kiano sopan.
Bram kembali menatap Kiano dalam dan penuh arti. Perasaan Kiano mendadak gelisah karena baru kali ini Bram menatapnya seperti itu. "Ki ... aku ingin memintamu sekali lagi. Maukah kamu menjaga Zety dengan sepenuh hatimu?"
Kiano mendes*h kasar mendengar pertanyaan Bram. "Tuan, saya pasti akan melakukan setiap perintah Anda."
"Kamu yakin?"
"Jangan dibahas soal balas budi. Aku tidak mengharapkan itu karena aku membantumu dengan ikhlas. Bagaimana juga kamu adalah anak dari sahabat baikku dan kamu sudah kuanggap seperti putraku sendiri." Bram menarik kedua sudut bibirnya tersenyum ke arah Kiano.
"Terima kasih banyak, Tuan."
"Ki ... bertahun-tahun aku sudah menyakiti Zety. Tidak pernah menganggap kehadirannya karena hatiku dibutakan oleh kekecewaan pada keadaan. Bahkan sejak bayi aku tidak menyentuhnya karena setiap kali aku dekat dengannya hatiku sakit saat teringat kepergian istriku. Rasa cintaku pada istriku sangat besar dan mengalahkan apa pun. Tapi kini ...." Bram menghentikan ucapannya sesaat karena dadanya terasa sedikit sesak. Dengan sigap, Kiano berpindah duduk di depan Bram.
"Minumlah, Tuan." Kiano mengambil segelas air putih lalu memberikan pada Bram dan hanya diminum sedikit saja.
__ADS_1
"Ki, sepertinya aku harus mendapat balasan atas segala perbuatanku. Kelak jika esok atau kapan aku harus pergi, maukah kamu berjanji agar bisa membuat hidup Zety bahagia. Menjaganya dengan sepenuh hati?" pinta Bram. Menatap memohon ke arah Kiano.
"Tuan, saya tidak berjanji untuk hal yang saya sendiri tidak tahu bisa menepati atau tidak. Akan tetapi, saya akan berusaha untuk menjalankan perintah Anda," sahut Kiano. Bram menghela napas lega dan mengucapkan banyak terima kasih pada Kiano. Meskipun merasa sedikit canggung, tetapi Kiano berusaha untuk tersenyum tulus.
"Ki," panggil Bram setelah cukup lama mereka saling terdiam tadi. Kiano tidak menjawab, hanya menatap penuh tanya ke arah Bram yang tampak ragu. Bahkan, lelaki paruh baya itu beberapa kali mengembuskan napas panjang. "Maukah kamu menikah dengan Zety?"
Kiano tersentak mendengar permintaan Bram yang tidak terduga. Kiano sampai menatap lekat ke arah Bram untuk memastikan pendengarannya tidak salah. "Anda serius, Tuan?"
"Bukan hanya serius, tapi banyak rius, Ki. Aku ingin saat aku pergi nanti ada lelaki yang menggantikanku. Menjaga Zety, menyayangi dan membuatnya bahagia. Aku ingin sekali melihat Zety menikah, tapi aku juga tidak akan memaksa dia untuk segera membina rumah tangga. Aku tahu, semua butuh persiapan yang sangat matang."
"Tuan, kalau memang Anda sangat ingin melihat nona muda menikah maka bersemangatlah untuk sembuh. Umur memang tidak ada yang tahu, tetapi setidaknya kita sudah berusaha untuk sembuh dan bisa sehat seperti sedia kala," nasehat Kiano. Bram mengangguk senang karena ucapan Kiano.
Mereka tidak menyadari kalau Zety berada di balik pintu dan mendengar semua percakapan itu. Zety mematung, pikirannya mendadak blank. Dia yang barusan kembali hendak masuk ke ruangan Bram karena ponselnya tertinggal, dengan terpaksa mengurungkan niatnya saat mendengar Bram dan Kiano sedang berbicara serius.
"Astaga, kenapa papa berbicara seperti itu?" Zety mendadak bimbang. Dia pun tidak jadi masuk ke ruangan itu dan lebih memilih untuk mendatangi Rasya yang sedang bersiap hendak pulang bersama Baby B. Biarlah nanti dia meminta solusi dari sahabatnya.
"Aduh!" Zety yang sedang berjalan tiba-tiba terjatuh saat menabrak seseorang. Pikirannya yang sedang tak tentu membuatnya seperti orang linglung. Zety mendongak dan mendes*h kasar saat melihat siapa yang menabraknya. "Andra! Lu bisa jalan pelan kagak, sih!" omel Zety.
"Sorry, Zet. Gue buru-buru." Andra tergesa. Namun, dia tetap membantu Zety berdiri meskipun terus saja celingukan. Zety yang melihat gelagat Andra pun menjadi heran sendiri.
__ADS_1