
Seharian ini Zety tidak bisa fokus bekerja. Raganya memang berada di restoran, tetapi pikirannya melayang jauh. Mendadak gugup saat Gatra mengatakan kalau dia harus bertemu dengan Maria malam nanti. Zety khawatir Maria akan menolak kehadirannya. Apalagi dirinya merasa minder dengan Shifa. Zety tidak yakin kalau pura-pura menjadi pasangan kekasih, bisa menggagalkan rencana pertunangan Gatra dan Shifa, menilik bagaimana sempurnanya Shifa menurut Zety. Akan tetapi, setidaknya nanti dia telah mencoba.
"Wajah elu asem amat, Suk." Margaretha sudah bersiap untuk pulang, sedangkan Zety masih saja asik duduk tanpa beranjak sedikit pun.
"Gue grogi, Mar. Ntar apa yang mau gue omongin sama mamanya Mas Gatra?" Zety tampak frustrasi padahal dirinya belum juga bertemu Maria.
"Kalau elu enggak mau, biar gue aja yang dateng. Gue enggak kalah cantik dari elu," ucap Margaretha percaya diri.
"Emang asem, lu!" Zety beranjak bangun dan mendorong bahu Margaretha dengan kecepatan sedang.
"Yaelah, sensi amat." Margaretha mengusap bekas tangan Zety di pundaknya. "Mendingan sekarang kita pulang. Ingat, Kurap sama Zaenab udah nunggu di rumah."
Tanpa menjawab, Zety segera menarik tangan Margaretha dan langsung pulang. Bahkan, ketika bertemu dengan Gatra, Zety hanya menunjukkan senyumannya.
Setibanya di rumah kontrakan, dua gadis itu dibuat terkejut dengan kehadiran Rasya dan Zahra. Pasalnya, nyonya-nyonya muda itu tidak hanya datang sendiri, tetapi mengajak tiga orang MUA untuk mendadani Zety.
"Astaga, Ra. Elu pikir gue mau nikahan? Pakai bawa tukang hias wajah segala," cebik Zety, tidak percaya.
"Yaelah. Tukang hias? Elu pikir mereka ini cup*ng, Suk. Tukang rias bukan tukang hias," ralat Rasya tidak terima.
__ADS_1
"Ya, itu maksud gue. Mendingan suruh mereka pulang aja deh, Ra. Gue kagak mau didandani. Gue cuma mau ketemu mamanya Mas Gatra buat kenalan. Bukan mau tunangan apalagi nikahan." Zety masih terus menolak. Dia tidak terbiasa memakai make-up. Zety khawatir hanya akan merasa tidak nyaman.
"Udahlah, mendingan elu diem aja. Terus biar tangan mereka yang bertindak. Dalam waktu satu kali dua puluh empat jam, elu akan berubah menjadi secantik Cinderella," ujar Rasya. Menarik tangan Zety agar duduk di sofa. Rasya yakin kalau neraka terus saja mendongeng maka hanya akan menghabiskan waktu saja.
"Yaelah, pemaksaan. Lama banget pula satu kali dua puluh empat jam. Sampai jamuran gue. Awas lho, jangan sampai kalian justru buat wajah gue jadi mirip ondel-ondel," ujar Zety memberi perintah.
"Tenang aja sih, Suk. Elu tinggal diem aja kok repot amat," protes Zahra yang sejak tadi hanya diam.
"Elu kenapa, Zae? Lagi sensi amat perasaan," ucap Zety. Menatap Zahra yang sedang duduk bersama Margaretha. Bibirnya terlihat cemberut hingga mengurangi kadar kecantikannya.
"Udah elu diem aja, Suk. Sebelum elu kena terkam dia yang lagi ngambek." Rasya berusaha menengahi.
"Lagi ngambek sama Kak Arga karena minta jatah anuan, Kak Arga malah lagi lembur sekarang," sahut Rasya cekikikan. Zety pun tergelak saat mendengarnya.
"Kuraapp!!! Elu ngomong apa sama Suketi? Awas kalau ghibahin gue bakalan gue sumpahin lu!" Suara Zahra terdengar melengking.
"Sumpahin apa, Zae?" tanya Rasya tenang. Tidak ada ketakutan sedikit pun dari lelaki itu.
"Gue sumpahin anak elu nikah sama anak gue! Jadi, kita besanan!"
__ADS_1
"Aje gile! Yang bener aja elu, Zae. Masa iya anak gue belum lahir, anak elu aja masih dalam proses cetak, udah elu jodohin aja, Zae. Kagak bener lu lama-lama," sewot Rasya, menggeleng berkali-kali.
"Biarin! Yang penting gue punya besan tajir. Lumayan 'kan biasa gue manfaatin," cetus Zahra.
"Asem!" dengkus Rasya. Tidak habis pikir dengan jalan pikiran sahabatnya meskipun Rasya sudah tahu kalau Zahra hanya bercanda. "Udahlah, mendingan sekarang kita diem dan biarkan Suketi dirias."
Mereka pun benar-benar diam, tetapi tatapannya tidak terlepas sama sekali dari Zety yang sedang sibuk dirias cantik. Bahkan, setelah satu jam selesai, mereka begitu terpesona dengan kecantikan Zety karena jarang sekali gadis itu berdandan.
"Ya ampun, Princes! Elu cantik banget, Suk." Margaretha terpukau.
"Gue yakin kalau Mas Gatra bakal terpesona sama elu," ucap Rasya. Menatap kagum pada sahabatnya.
"Dan elu bakal dinikahin saat ini juga," celetuk Zahra. Langsung mendapat tonyoran tangan dari Margaretha yang duduk paling dekat dengannya.
"Ish! Kalian jangan gitu, gue malu. Teryata gue cantik juga. Paling cantik di antara kalian," kata Zety penuh percaya diri. Ketiga sahabatnya hanya memutar bola mata malas.
Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara klakson dari luar. Mereka pun bergegas keluar untuk menemui Gatra yang datang menjemput Zety. Ketika melihat Zety, Gatra terpaku dan terpesona dengan kecantikan gadis itu. Zety pun mendadak salah tingkah sendiri. Namun, itu hanya sesaat karena Gatra langsung mengalihkan pandangannya ke arah Rasya yang berdiri tepat di samping Zety.
"Apa kabarmu, Ra?" Tatapan Gatra ke arah Rasya menyorotkan kerinduan yang teramat dalam.
__ADS_1