Terjerat Pesona Gadis Tomboy

Terjerat Pesona Gadis Tomboy
Bab 10


__ADS_3

Jovita Mengayunkan kakinya dengan perasaan bahagia. senyum gadis tomboy itu, sesekali menghiasi wajah juteknya. Membuat beberapa siswa yang melihat itu, merasa sedikit keheranan. hingga tak jarang, mereka semua saling berbisik satu sama lain.


Sementara Sandrina cherry dan juga Ochi, yang melihat itu, seketika menggelengkan kepala. Karena tidak habis pikir, dengan kebodohan yang dialami oleh ketua mereka itu.


" Gue baru tahu, kalau cinta bisa membuat orang menjadi bodoh!" bisik Cherry pada Sandrina.


" Sudahlah, Jangan pernah menasehati orang yang sedang jatuh cinta. karena itu akan menjadi hal dan pekerjaan yang sia-sia." Saut Cherry pada kedua sahabatnya itu.


Mereka bertiga, mengabaikan tangan kepada Jovita yang mengendarai motor kesayangannya." jangan lupa, nanti malam balapan!" teriak gadis tomboy itu sesaat setelah melajukan motornya.


Sepanjang perjalanan, Jovita tak henti-hentinya menyunggingkan senyuman tipis. Membayangkan, akan pertemuannya dengan laki-laki yang masih menempati seluruh hatinya itu.


Apalagi, malam nanti Jovita juga akan mengikuti balapan di Sirkuit resmi di kota itu. Hal itu membuat gadis tomboy itu merasa sangat bahagia. Karena akhirnya, tujuan dan cita-citanya akan segera tercapai. Yaitu, berpacaran dengan seorang laki-laki dari keluarga konglomerat, dan juga mengasah bakatnya di bidang balap.


Tak Butuh waktu lama, akhirnya Jovita sampai juga di kediaman kedua orang tuanya. dan dengan segera, gadis tomboy itu memarkirkan bandaraannya di tempat yang biasanya. dan dengan segera, langsung berlari menuju ke dalam rumah untuk menemui orang Ibu.


" Mami, Jovita pulang," ucap Gadis itu Seraya mengecup pipi Vania. hingga membuat wanita paruh baya itu seketika menoleh dan tersenyum tipis.


Kemudian, Vania menatap wajah putrinya itu dengan tatapan intens. dan Hal itu membuat Jovita, merasa sedikit risih namun juga heran. Mengapa, maminya bersikap seperti ini, dan hal itu membuat Jovita sedikit tidak nyaman.


" Mami kenapa sih? kok ngeliatin Jovita kayak gitu?" protes gadis tomboy itu. karena mereka tidak nyaman dengan tatapan ibu kandungnya sendiri.


Vania yang mendengar itu, menggelengkan kepala." tidak apa-apa sayang, Mami hanya terharu saja." ucapnya seraya mendekap tubuh putrinya.


" sekarang, kamu mandi terus makan." ucap Vania setelah melerai pelukan itu. Walaupun Jovita merasa sangat kebingungan, namun Gadis itu tidak kuasa untuk menolak permintaan sang ibu.


Jovita segera menganggukkan kepala. dan dengan segera, melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamar pribadinya. Walaupun, di dalam hati gadis tomboy itu, terselip rasa tidak nyaman. atas perlakuan ibunya yang menurut Jovita, sangatlah absurd.

__ADS_1


" Mami kenapa ya?" tanya gadis itu Seraya menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuk miliknya. " ah, bodoh ah, Lebih baik aku mandi dandan yang cantik," ucapnya tersenyum seorang diri.


***


" seger banget!" gumamnya Seraya mengusap rambutnya yang basah menggunakan handuk. setelah gadis itu, keluar dari kamar mandi.


Drrttt drrtt


Tepat saat Jovita berada di depan meja riasnya, ponselnya seketika berbunyi. dan dengan segera, gadis itu mengangkatnya. saat mengetahui, Siapa yang tengah menelponnya itu.


" ya Al, kenapa?" tanya Jovita dengan raut wajah yang sedikit malu malu.


" Halo Jovita, Apa kamu sudah siap?" tanya Alvaro dari seberang sana.


"si-siap," ucapnya dengan suara tergagap. karena memang, saat ini Jovita tengah merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. akibat dari perasaan yang menyeruak di dalam hatinya itu.


Memang, Jovita terkenal sangat bucin terhadap laki-laki yang bernama Alvaro Renald itu. Padahal, Dulu mereka berpisah karena adanya Orang Ketiga. Namun, itulah kebodohan yang dimiliki oleh Jovita.


" kok Kamu gugup gitu sih sayang," ucap Alvaro dari seberang sana. dan itu seketika membuat Jovita yang mendengarnya, mendadak merasakan panas di sekitaran wajahnya. akibat panggilan sayang dari laki-laki itu.


" sialan!" makinya dalam hati. Kemudian, gadis tomboy itu mencoba untuk mengatur semua yang ada di dalam dirinya agar tampak baik-baik saja.


Jangan sampai, Gadis itu terlihat terbawa perasaan akibat panggilan dari Alvaro.


" Jovita, kamu masih di sana kan?" tanya Alvaro untuk memastikan.


" Iya aku masih ada di sini kok, Iya aku udah siap kok." ucap Gadis itu dengan nada datarnya.

__ADS_1


" Apa kamu mau aku jemput?" tanya Alvaro pada gadis itu.


" tidak usah, aku bisa berangkat sendiri kok. lagi pula, nanti malam ada balapan di Sirkuit. Jadi, sebelum kita ketemuan, Aku mau balapan dulu." ujar Jovita tersenyum kecil.


Gadis tomboy itu segera melangkahkan kakinya untuk mengambil tas selempang yang ada di atas meja riasnya.


Malam ini adalah malam Perdana, gadis tomboy itu menggunakan baju yang menurutnya sangat feminim. Karena, gadis cantik itu ingin terlihat sangat sempurna di mata Alvaro. tak lupa, gadis tomboy itu juga membawa baju ganti untuk balapan di Sirkuit nantinya.


" perfect." gumamnya Seraya memutar tubuhnya di depan cermin kamarnya. Kemudian, dengan segera melangkahkan kakinya untuk menuruni anak tangga. guna menemui kedua orang tuanya.


" wah anak Mami cantik sekali, mau kencan dengan siapa sayang?" tanya Vania Seraya tersenyum dan menatap kagum ke arah putrinya.


" pasti mau ketemu sama Dion kan?" tiba-tiba saja Aksa mengatakan hal yang membuat mood Jovita seketika memburuk. Laki-laki paruh baya itu, duduk di samping sang istri.


"huh, Kenapa mesti dia sih?" tanya Jovita dalam hati dengan raut wajah kesalnya.


" kok malah bangong? Ayo ditelepon Dionnya, atau kamu tidak mempunyai nomornya?" tanya sang Ayah. " Baiklah kalau begitu, biar Papi yang hubungi." ucap Aksa seraya mengeluarkan benda Pipih itu dari satu celananya.


"Pi, Jovita nggak mau keluar sama Dion, Jovita ada janji sama teman-teman." ucapnya cepat. berusaha untuk menggagalkan apa yang direncanakan Papinya.


Tentu saja hal itu membuat Vania dan Aksa yang mendengar itu, seketika menatap putrinya itu dengan tatapan tajam.


" pokoknya, kamu tidak boleh pergi jika tidak bersama dengan Dion." ucapannya dengan nada yang sangat tegas.


Seketika itu, Jovita yang mendengar itu memutar bola mata malam." Ya udahlah terserah Papi sama Mami." ucapnya Seraya mendengus kesal.


Tentunya, itu membuat Vania dan Aksa yang mendengarnya, tersenyum penuh kemenangan. namun, senyuman mereka tidak bertahan lama. Setelah mendengar ucapan dari Putri mereka.

__ADS_1


" perasaan kok dipaksa, yang jalanin kan aku." ucapnya dengan nada yang sangat Lirih. karena tidak ingin dua orang tuanya mendengar itu semua.


Namun sayangnya, harapannya sia-sia belaka. karena kedua orang tuanya, telah mendengar perkataannya.


__ADS_2