
Setelah di rasa hatinya telah tenang, laki laki Tampan itu, segera berjalan dengan langkah tergesa-gesa menuju ke dalam ruangan pribadinya,
Setelahnya, Dion segera menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya. dengan sesekali, memutar-mutar benda empuk yang tengah ia duduki itu.
" ini tidak boleh dibiarkan," ucap Dion Seraya menyambar benda pipih yang ada di hadapannya itu.
Saat ini, Dion ingin menghubungi ibunya karena ada suatu hal yang harus ia katakan.
Tut tut tut
" Iya Dion, ada apa?" tanya seseorang dari sebelah sana. yang tak lain adalah Olivia. sang ibu,
" mami, bisa kita ketemu di tempat biasa?" tanya laki-laki itu tanpa banyak basa-basi. karena memang, Dion adalah tipe laki-laki, yang tidak suka berbasa-basi.
" kamu kenapa?" terdengar suara Mami Olivia dari seberang sana.
" sudah Mam, nanti aku ceritakan semuanya." ucap laki-laki itu dengan nada yang masih sangat datar.
Membuat Olivia yang mendengarnya, mulai mengerti apa yang dirasakan oleh putranya itu." Baiklah kalau begitu. sekarang Mami akan meluncur ke tempat biasa kita ketemu." ucap Olivia yang langsung memutus sambungan telepon itu.
Dengan segera, Dion beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki untuk menuju ke arah pintu keluar. namun sebelum itu, laki-laki Tampan itu, menghubungi orang kepercayaannya untuk menghandle semuanya di saat dirinya tidak ada di tempat.
" baik bos, semua pasti akan baik saja." ucap salah satu karyawan Dion. Saat mereka mengetahui, jika atasan mereka akan pergi keluar.
Karena mereka tahu, atasan mereka itu tidak akan sembarangan untuk meninggalkan tempat usahanya. jika tidak mendapatkan masalah yang cukup serius.
Setelah berbincang-bincang sebentar dengan para karyawannya, Dion segera menghampiri mobil kesayangannya. dan setelahnya, laki-laki itu melajukan kendaraan roda empatnya untuk membelah padatnya jalanan. Meninggalkan, kawasan kedai martabak yang mulai ramai kedatangan pelanggan.
" aku harus mempercepat rencana pernikahan ini. jangan sampai, Aku gagal untuk mendapatkan gadis itu." gumam Dion. Saat tengah menunggu lampu merah. dan tak berselang lama, kendaraannya mulai melesat menuju ke tempat perjanjian yang bersama dengan sang Mami.
Ternyata, Olivia telah berada di sana lebih awal. dan itu membuat Dion, seketika menyunggingkan senyuman tipis.
" Mami Memang Terbaik." gumam laki-laki itu Seraya berjalan menghampiri wanita paruh baya yang tengah menunggunya itu.
" Mam, baru datang atau sudah lama?" tanya Dion Soraya mendudukkan dirinya di samping sang ibu.
__ADS_1
Olivia segera menoleh dan mengulas senyum tipis." Mami baru aja datang kok. kita pesan makan dulu ya," ajak sang Mami.
Dion hanya menurut saja. Karena, di samping laki-laki itu tidak bisa membantah ucapan dari ibunya, juga karena Dion sangat membutuhkan bantuan dari wanita paruh baya yang ada di hadapan nya itu.
" kamu mau pesan apa?" tanya Olivia. saat wanita paruh baya itu, tengah memilih-milih makanan dari buku yang dipegang.
" terserah Mami aja. dia nurut," ujarnya Seraya kembali fokus terhadap ponsel yang ia pegang itu.
Olivia yang mendengar itu, segera mengesankan sejumlah makanan.
" kamu mau bicara apa sayang?" tanya Olivia. sesaat, setelah memesankan makanan.
Membuat Dion yang awalnya fokus terhadap benda pipih yang ada di tangannya, seketika menatap ke arah sang ibu.
" Aku ingin, Mami segera mengatur rencana pernikahanku. kalau bisa, besok aku sudah bisa menikah." ucap Dion dengan nada tenang dan tegas.
Seketika itu pula, Olivia segera membulatkan matanya karena merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar itu.
" kamu serius sayang, kamu nggak lagi kesurupan, kan?" tanya Olivia spontan.
Sementara Olivia yang mendengar itu, seketika terkekeh pelan." Ya habisnya, kamu berkata seperti orang yang sedang tidak berpikir. makanya Mami nanya," ucap wanita paruh baya itu dengan masih terkekeh pelan.
" aku masih waras Mam, Aku hanya tidak ingin, gadis yang aku cintai, diambil oleh laki-laki lain." jujur Dion.
Sontak Saja, penuturan dari putranya itu, membuat senyuman Olivia seketika pudar. berganti dengan wajah yang sangat serius.
" Oke kalau begitu, nanti mami akan bicarakan semuanya sama calon ibu mertuamu," ucap Olivia Seraya mengusap punggung putranya itu.
Tak berapa lama, seorang pelayan restoran datang menghampiri mereka dengan membawa makanan pesanan. dan itu membuat obrolan antara ibu dan anak, seketika terhenti. karena mereka harus menikmati makanan yang ada di hadapan masing-masing.
****
Sementara itu di lain tempat, lebih tepatnya di dalam kelas, Jovita masih tampak memasang wajah garangnya. Membuat siapapun yang melihatnya, ketika merasakan Aura mencekam yang keluar dari tubuh gadis itu.
"Jov," Panggil seseorang dari arah pintu kelasnya. membuat gadis itu, seketika menoleh. dan mendapati, ketiga sahabatnya telah berdiri di ambang pintu.
__ADS_1
"loe Kenapa sih Kasar banget sama Reiner? dia kan nggak salah apa-apa?" tanya Sandrina duduk di samping gadis tomboy itu.
" benar apa yang dikatakan Sandrina. Jov, Kenapa loe jadi sensian gini?" tanya Cherry juga ikut menimpali.
" gue masih sayang." tiga kalimat itu, meluncur dari dalam mulut Jovita. hingga membuat ketiga sahabatnya, seketika terdiam.
"Jov, loe yakin?" tanya cherry yang seakan tak percaya.
"hmm,"
Ketiga sahabatnya itu, seketika hanya dapat menghela nafas panjang. saat mendengar ucapan bodoh yang keluar dari mulut sahabat mereka itu.
"dasar bodoh!" maki Sandrina yang tak habis fikir. Ternyata, memang benar apa kata orang. segarang dan seganas apapun orang itu, jika telah mengenal cinta, apalagi sampai merasakan cinta yang berlebihan, maka orang itu akan mengalami fase kebodohan.
Sayangnya, ucapan Sandrina itu, tidak mampu keluar dari dalam mulutnya. Melainkan, hanya dapat terucap di dalam hati gadis itu.
" terserah loe aja deh Jov," ucap mereka bertiga akhirnya pasrah.
Drrtt drrtt
Saat suasana kembali hening, ponsel Jovita tiba-tiba berdering. dan dengan segera, gadis tomboy itu meraih Bunda pipih yang ada di atas meja.
" Alvaro!" pekik Jovita keheranan. Hingga membuat gadis tomboy dan galak itu, seketika melompat lompat kecih. Untung saja, kelas saat itu tengah sepi. hingga Jovita tidak akan menanggung malu.
Sementara ketiga temannya itu, seketika mengelengkan kepala. Karena tidak tahu lagi harus berkata apa melihat tingkah sahabatnya itu.
" Halo Alvaro, ada apa?" tanya Jovita dengan nada yang sangat lembut.
" Halo Jovita, apa Nanti kita bisa bertemu?" tanya Alvaro dari seberang sana.
Degh
Degh
Jovita segera menyentuh dadanya karena merasakan, detak jantungnya bekerja dua kali lipat lebih cepat dari biasanya.
__ADS_1
"Jov, kamu masih di sana kan?" tanya Alvaro dari seberang sana.