
Pagi Harinya, seperti biasa, Jovita bangun pagi. dan Setelahnya, Jovita segera bangun dan bersiap untuk memeras keringat alias olahraga.
Jovita berjalan dengan langkah gontai menuju ke ruang olahraga yang berada tepat di samping kamarnya.
Namun, baru saja beberapa langkah, Jovita menghentikan langkahnya. saat mendengar, suara dari balik pintu.
"Jovita sayang, apa kamu sudah bangun?":tanya seseorang di balik pintu.
Membuat Jovita yang mendengar itu segera menghela nafas panjang. sebenarnya, gadis tomboy itu masih merasa marah dengan kedua orang tuanya. Apalagi, dengan Aksa sang Ayah.
Namun Jovita sadar, bahwa dirinya tidak berhak untuk memarahi atau memusuhi ibunya. karena masalahnya hanya terletak pada sang Ayah.
ceklek
Tepat saat gadis tomboy itu membuka pintu, senyuman Vania terlihat sangat anggun. hal itu membuat Jovita yang melihatnya, juga ikut tersenyum.
"iya Mami, ada apa?" tanya Jovita tanpa basa-basi. memang gadis temui itu tidak menyukai hal yang berbau basa-basi. karena menurutnya, itu hanya membuang-buang waktu saja.
"apa kamu sibuk?"tanya Vania menatap lekat ke arah wajah putrinya.
"mau olahraga!"ucap Jovita dengan raut wajah datarnya.
Tentunya, jawaban dari putrinya itu, membuat Vania sedikit meringis. karena sepertinya Putri kesayangannya itu, masih marah terhadap apa yang terjadi malam tadi.
"apa kamu masih marah?"Vania memberanikan diri untuk bertanya pada Putri kesayangannya itu.
Karena, walaupun Jovita adalah putrinya, wanita paruh baya itu memiliki sikap sungkan jika tengah membahas hal-hal yang sensitif menurut putrinya.
Terdengar helaan nafas yang keluar dari mulut gadis tomboy itu. membuat Vania dengan cepat mengalihkan topik pembicaraan. karena wanita paruh baya itu tahu, jika semua tidak akan baik-baik saja. apalagi melihat raut wajah Putri kesayangannya itu, yang seketika berubah.
"sudah sayang, nggak usah dipikirkan. kita duduk dulu ya,"Vania menarik tangan putrinya untuk duduk di sofa yang ada di dalam kamar gadis tomboy itu.
"Mami mau bicara apa? kalau tidak ada yang penting, Jovita izin mau mau olahraga dulu," tanpa basa-basi, gadis tomboy itu mengusir ibunya sendiri secara halus. dengan alasan, ingin berolahraga.
__ADS_1
"oh, ya sudah kalau gitu, Mami ke sini cuma mau melihat keadaanmu saja. nanti setelah olahraga, tolong temui Mami di ruang keluarga."Jovita menganggukkan kepala. sebagai tanda, jika gadis tomboy itu mengerti.
"ya nanti Jovita ke sana,"setelah mengatakan hal itu, gadis tomboy itu segera menuju ke ruangan olahraga.
Sementara Vania, wanita paruh baya itu keluar dari dalam kamar putrinya."kenapa aku jadi takut ya, kalau putriku akan membenci perbuatanku ini?"tanya Vaniapada dirinya sendiri.
****
"bagaimana, apa kamu sudah berbicara dengan gadis itu?"tanya Aksa, saat melihat istrinya berjalan menghampirinya.
Vania yang mendengar itu, menggelengkan kepala." aku tidak berani, karena sepertinya, Jovita masih marah kepada kita." ucap Vania terdengar menghela nafas panjang.
Aksa yang mendengar itu, juga ikut menghela nafas. karena laki-laki paruh baya itu, juga merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan malam itu.
"Papi juga merasa, kalau tindakan malam itu sedikit keterlaluan."ujarnya mengakui kesalahannya.
"nanti Papi minta maaf sendiri sama Jovita, karena sepertinya, anak kita itu masih menyimpan dendam untukmu,"ucap Vania menatap sang suami.
Aksa yang mendengar itu, juga ikut menganggukkan kepala. dan Setelahnya, mereka berdua membahas tentang hal lain.
****
"huh, seger banget sih bisa olahraga seperti ini, andai saja, bisa olahraga setiap hari," gumam gadis itu seorang diri. "tapi ini sudah lebih dari cukup sih,"humamnya lagi seorang diri.
Setelahnya, gadis tomboy itu berjalan perlahan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang berbau keringat itu.
Hampir 30 menit, gadis tomboy itu membersihkan diri. karena memang, hal itu adalah kebiasaannya. walaupun, Jovita adalah gadis tomboy, namun untuk urusan kebersihan, dirinya paling utama.
"huh segar sekali,"ujarnya Seraya mengeringkan rambut dengan selembar handuk yang ada di tangannya.
Setelahnya, gadis tomboy itu segera duduk di meja rias di sebelah ranjang tempat tidurnya. perlu diingat, walaupun gadis itu tomboy, tapi untuk masalah kulit wajah, Jovita masih memprioritaskan.
Bahkan, gadis tomboy itu tidak akan segan-segan membeli merk cream termahal untuk nutrisi wajahnya. ingat, hanya untuk krim wajah bukan untuk bedak tabur ataupun lipstik.
__ADS_1
Karena gadis tomboy itu hanya akan menggunakan krim wajah sebagai polesan di wajahnya. karena bibirnya memang telah merah alami. yang tidak perlu memakai lipstik atau sejenisnya.
"harus nemuin Mami dulu nih,"gumam gadis tomboy itu Seraya beranjak dari duduknya.
Kemudian, melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kamar. guna menemui orang tuanya.
Namun sebelum itu, Jovita segera meraih benda pipih yang ada di atas nakas. senyumnya seketika mengembang saat melihat motif yang ada di dalam ponselnya itu.
"halo sayang, udah bangun apa belum?"begitulah pesan yang dikirim oleh Alvaro. kekasihnya
"udah sayang aku udah bangun kok,"setelah membalas itu, Jovita segera keluar dari dalam kamar untuk menemui kedua orang tuanya yang berada di ruang keluarga.
***
"ada apa Mami, kok panggil Jovita?"tanya gadis tomboy itu saat dirinya telah sampai di hadapan kedua orang tuanya.
"duduk nak, Mami mau ngomong,"ucap Vania Seraya menepuk sofa yang ada di sebelahnya. dan tanpa menunggu lama, gadis tomboy itu segera duduk di samping sang ibu.
"ada apa Mam?"tanya Jovita to the point. Sesaat, suasana hening, tercipta di antara pasangan ibu dan anak itu.
"Papi ingin meminta maaf,"tiba-tiba saja, Aksa keluar dari balik pintu yang terhubung antara ruang tengah dengan ruang belakang.
tentu saja, itu il membuat Jovita peduli ke sumber suara dan mendapati telah berdiri menatapnya.
"Papi nggak salah, Jovita yang salah karena sudah kurang ajar sama Papi." ujar gadis itu Seraya beranjak dari duduknya.
"Jovita!"panggil Vania sang ibu dengan raut wajahmu melas dan juga nada yang melemah.
Tentu saja, hal itu membuat Jovita seketika menghentikan langkahnya. dan terdengar helaan nafas dari gadis tomboy itu.
Perlahan tapi pasti, gadis tomboy itu pembalikan tubuh Seraya tersenyum manis menatap ke arah sang Papi.
Tentunya, itu membuat Aksa yang melihatnya, begitu bahagia. dengan segera, merentangkan tangannya memberikan kode kepada putrinya untuk memeluk. dan hal itu langsung disambut antusias oleh gadis tomboy itu.
__ADS_1
"maafkan papi ya sayang, karena Papi terlalu keras. tapi percayalah, Papi tidak ada niatan untuk melukaimu,"ujar Aksa saat mereka saling melerai pelukan masing-masing.