
Satu minggu setelah kejadian itu, Dion dan juga Jovita benar-benar mengunjungi sebuah rumah sakit ternama di kota itu. karena sedari kemarin, gadis tomboy itu selalu merengek untuk cepat-cepat diantarkan ke rumah sakit.
karena gadis tomboy itu, sama sekali tidak ingin untuk menambah anak dalam waktu dekat ini. karena selain dirinya masih sekolah, Jovita juga merasa belum pantas untuk memiliki momongan lagi. jangankan memiliki momongan lagi, mengurus baby Disya saja, Jovita masih keteteran dan harus dibantu oleh seorang suster yang telah dipilihkan oleh sang ibu.
"oke sayang sayangku, kita sudah sampai di tempat tujuan,"ujar Dion menatap ke arah istri dan juga anaknya.
Mereka dengan segera, turun dari dalam mobil dengan posisi saling berpelukan satu sama lain. yaitu, Dion memeluk pinggang Jovita. sementara gadis tomboy itu, menggendong dan memeluk putrinya dengan penuh kehangatan.
Sungguh, mereka sudah seperti pasangan bahagia pada umumnya. dan hal itu, Tak jarang membuat semua orang, merasa begitu iri dengan pemandangan di hadapan mereka itu.
"gila, pasangan yang sangat luar biasa! laki-lakinya tampan, perempuannya cantik. benar-benar seperti couple goals!"ucap salah satu di antara mereka dengan suara sedikit kencang.
"iya kau benar, mereka sangat romantis pasti jarang sekali bertengkarnya."ujar yang lain melimpali ucapan temannya itu.
Jovita yang mendengar itu, seketika meringis. mereka tidak tahu saja apa yang telah dialami oleh Dion dan juga Jovita selama ini, mereka hanya melihat luarnya saja. tidak tahu dalamnya hubungan mereka. dan itu adalah kondisi wajar.
Karena mereka, melihat hanya dari sisi luarnya saja yang sangat romantis dan juga harmonis. padahal itu semua seringkali menipu dan membodohi setiap orang yang melihatnya.
Jovita yang mendengar itu, seketika menundukkan kepala. karena merasa bersalah dengan apa yang pernah ia lakukan terhadap suaminya itu.
__ADS_1
"sudah jangan dipikirkan, lebih baik kita percepat saja perjalanan."ucap Dion yang seakan tahu apa yang dipikirkan oleh istri kecilnya itu.
Jovita dengan segera, menganggukkan kepala. dan menarik tangan suaminya agar cepat berlalu dari koridor rumah sakit itu. di mana saat ini, dirinya menjadi pusat perhatian dari pengunjung rumah sakit itu.
Tak lama berselang, langkah mereka telah sampai di depan sebuah ruangan dokter yang telah menjadi langganan keluarga Jovita.
"silakan masuk!"ucap seseorang dari dalam ruangan itu. membuat Jovita dan juga Dion, seketika langsung masuk ke dalam ruangan dokter itu.
"apa yang anda keluhkan, nona?"tanya dokter itu menatap ke arah Jovita dengan senyuman manisnya.
"periksa istriku cepat,"ucap Dion Seraya menatap ke arah dokter itu dengan tatapan malasnya.
Sementara Jovita, gadis tomboy itu hanya terkekeh pelan melihat dua orang sepupu yang telah bersitegang itu. ya, Jovita baru mengetahui jika yang menjadi dokter keluarganya, adalah sepupu dari sang suami. itupun karena diberitahu oleh mertuanya. sebelum wanita itu, menatap dingin ke arah Jovita.
"kalian ini berantem saja, cepetan periksa!" ucap Jovita membuat mereka seketika mengalihkan pandangan satu sama lain. tentu saja hal itu membuat Jovita, seketika menggelengkan kepalanya.
"dasar kalian ini kayak bocah aja!"ucap Jovita Seraya beranjak dari duduknya. mengikuti dokter wanita itu menuju ke arah ranjang rumah sakit.
"sebentar, saya periksa dulu ya."ucap wanita itu Seraya mengoleskan gel ke atas perut gadis tomboy itu.
__ADS_1
"nah seperti yang Anda lihat ya nona Jovita, bahwa di sini tidak ada kehidupan apapun."ucap wanita itu Seraya menunjuk ke arah monitor yang ada di samping Jovita.
Membuat gadis tomboy itu, seketika menghela nafas panjang. "syukurlah kalau begitu, oh ya apa kamu bisa memasang alat kontrasepsi?"tanya Jovita pada dokter itu secara tiba-tiba.
Tentu saja, hal itu membuat Dion yang mendengarnya, merasa sedikit terkejut. "sayang apa yang kamu lakukan?"tanya laki-laki itu Seraya menggelengkan kepalanya.
Namun, hal itu malah mendapatkan tatapan tajam dari istri kecilnya itu. membuat Dion seketika, hanya dapat menghela nafas panjang.
Sementara dokter wanita itu, hanya terkekeh melihat perdebatan sepasang suami istri yang masih muda itu.
"bisa Nona, memangnya anda mau yang berapa tahun?"tanya dokter itu.
"memangnya pilihannya ada berapa?"
"ada yang 3 tahun, ada yang 5 tahun, dan ada yang 10 tahun."
"kalau begitu, aku minta yang 10 tahun."ucap Jovita dengan nada yang sangat tegas. membuat Dion yang hendak melayangkan protes, seketika mengurungkan niatnya.
"baik nyonya, ayo kalau begitu saya!"ucap wanita itu Seraya menarik tangan Jovita untuk masuk ke dalam sebuah ruangan yang lain.
__ADS_1
Sementara Dion, laki-laki tampan itu hanya dapat menghela nafas panjang Seraya sesekali menatap ke arah putrinya yang masih terlelap di dalam dekapannya itu.