
Akhirnya setelah puas berbelanja dengan teman-teman dan juga kekasihnya, Jovita memutuskan untuk segera pulang. karena dari tadi, ponsel miliknya itu telah berdering terus-menerus. dan Jovita yakin, jika panggilan telepon itu berasal dari Dion si laki-laki menyebalkan.
Entah sejak kapan Dion mendapatkan nomor ponselnya. karena Jovita juga tidak mempedulikan hal itu.
"Jovita, loe bareng sama kita atau sama Alvaro?"tanya Sandrina Seraya membuka kaca mobil miliknya.
."gue bareng ayang gue aja deh,"ucapnya dengan nada yang sangat manja. membuat ketika sahabatnya seketika bergidik ngeri.
"hoeekk,.. pengen muntah gue denger lu nyebut dia kayak gitu,"ucap Ochi memperagakan seperti seseorang yang ingin muntah.
Membuat Jovita yang mendengarnya seketika mendelik tajam ke arah gadis itu."dasar jomblo iri hati dengki pula,"ucapnya sewot.
Namun hal itu sama sekali tidak digubris oleh gadis tomboy itu. Jovita tetap menaiki motor kekasihnya dan dengan sengaja memeluk laki-laki itu dengan erat. hingga membuat teman-temannya, seketika menggelengkan kepala. karena melihat tingkah konyol sahabatnya itu.
Mereka semua akhirnya memutuskan untuk pulang karena memang waktunya sudah hampir malam. Apalagi, Jovita merasakan perutnya seperti diaduk-aduk dari dalam dan sedari tadi menahan ingin muntah.
*****
"makasih ya kalian udah nganterin gue,"ucap gadis tomboy itu pada sahabat dan juga kekasihnya setelah turun dari atas motor Alvaro.
"sama-sama, loe masih tinggal di sini?"tanya Sandrina Seraya menatap ke sekeliling rumah itu.
"hmm,"
"sampai kapan?"tanya Ochi yang juga ikut menatap ke sekeliling bangunan itu.
"baru aja beberapa hari yang lalu,"ujar Jovita yang sedari tadi menatap ke arah pintu yang sedikit terbuka. "udah nanya-nanya nanti aja kalau udah sekolah, udah capek banget."ucap gadis tomboy itu sedikit mengusir teman-temannya.
Karena Jovita merasa panik dengan pintu yang sedikit demi sedikit mulai terbuka lebar. Sungguh, Jovita tidak ingin semua terbongkar begitu saja karena dirinya merasa sangat nyaman dengan teman-teman dan juga kekasihnya itu.
"iya iya, dadada,"ucap para sahabat Jovita Seraya melambaikan tangan.
"jangan lupa nanti kabari aku ya,"ucap Alvaro Seraya mengusap rambut Jovita dengan sangat lembut. membuat gadis tomboy itu seketika tersipu malu.
__ADS_1
Setelahnya, para sahabat dan juga kekasih Jovita segera melajukan kendaraannya menuju keluar dari pagar rumah.
"huh, Untung sudah pulang,"ujar Jovita Seraya melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.
Tepat di saat gadis tomboy itu menyentuh handle pintu, seseorang membukanya dari dalam. hingga membuat Jovita seketika terkejut.
"dari mana saja kamu jam segini baru pulang?"tanya Dion dengan kedua tangan yang menyilang di depan dadanya.
Jovita yang mendengar itu, hanya melirik sekilas. dan setelahnya, segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah itu. namun, belum sempat gadis tomboy itu melangkah lebih jauh, Dion dengan segera menarik tangannya. hingga membuat Jovita, hampir saja terjatuh jika pinggang gadis itu, tidak disangga oleh Dion
"ngapain sih loe?! jangan mencari kesempatan dalam kesempitan!"ucapnya dengan nada yang sangat meninggi.
Membuat video sejenak terdiam. kemudian, menatap istri kecilnya itu dengan tatapan yang sangat dalam. "apa kamu tidak bisa sekali saja berbicara dengan suamimu ini dengan nada merendah?"tanya Dion dengan nada yang sangat lembut.
Membuat Jovita sejenak terdiam. dengan raut wajah yang mulai melunak. entah apa penyebabnya, hingga membuat gadis tomboy itu menjadi sedikit lemah.
Dion dengan segera melangkahkan kaki mendekati istri kecilnya itu. dan dengan segera, memeluk tubuh kecil dan mungil gadis itu.
"tolong izinkan aku untuk masuk ke dalam hatimu,"ucapnya dengan memangku wajahnya di tengkuk gadis tomboy itu. hingga Jovita dapat mendengar dan merasakan deru nafas laki-laki itu yang sangat menenangkan.
Namun sesuatu terjadi di luar dugaan laki-laki tampan itu. saat Jovita dengan sekuat tenaga mendorong tubuh kekarnya hingga membuat Dion seketika melangkah mundur.
"jangan pernah sentuh gue, dasar laki-laki tua!! ujar Jovita Seraya melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamar.
Namun tiba-tiba saja, kepala gadis itu seperti berputar-putar dan tak lama berselang,..
Brugh
Tubuh kecil Jovita ambruk menghantam lantai marmer. hingga membuat Dion yang masih meringis akibat benturan keras yang menghantam punggungnya, seketika berlari menghampiri gadis tomboy itu.
"sayang, apa yang sebenarnya terjadi?"tanya Dion dengan sangat panik. Apalagi, istri kecilnya ini baru saja keluar dari rumah sakit.
Tanpa pikir panjang lagi, Dion segera menggendong tubuh mungil Jovita dan membawanya ke dalam mobil. dan tak berselang lama, Dion segera memanggil supir pribadinya untuk segera mengantarkan ke rumah sakit.
__ADS_1
"Pak Ilham!"teriak Dion kencang. hingga si pemilik nama, seketika data menghampirinya dengan langkah tergopoh-gopoh.
"iya Tuan, ada apa?"tanya laki-laki paruh baya itu dengan raut wajah tegang. karena dia berpikir, jika dirinya telah melakukan sebuah kesalahan. hingga membuat majikannya itu marah.
"tolong antarkan saya ke rumah sakit,"ujar Dion Seraya masuk ke dalam mobil.
Dengan segera, Pak Ilham juga ikut masuk ke dalam mobil itu dan mulai melajukannya menuju rumah sakit terdekat dari rumah majikannya.
****
Tak berapa lama, mobil yang ditumpangi oleh Dian telah sampai di sebuah rumah sakit yang memang tidak jauh dari kediaman laki-laki itu.
"dokter suster!"teriak laki-laki tampan itu dengan suara yang sangat lantang. Dion sama sekali tidak memperdulikan tatapan dari beberapa pengunjung yang menatapnya dengan kutipan aneh.
Tak lama berselang, seorang dokter perempuan dan juga dua perawat datang menghampirinya. dan dengan sigap, mereka segera membaringkan Jovita ke atas brainkar.
Mereka semua membawa brangkar itu menuju ruang gawat darurat.
"silakan Anda tunggu di sini tuan,"wanita itu berkata sebelum menutup pintu ruangan itu.
Dian akhirnya menunggu dengan pasrah Seraya mengusap wajahnya dengan gerakan yang sedikit kasar. "apa yang sebenarnya terjadi sayang?"tanya laki-laki itu pada dirinya sendiri."apa aku harus menghubungi Mama sama Mami? tapi nanti kalau mereka panik gimana? lebih baik jangan dulu,"ujar laki-laki itu masih pada dirinya sendiri.
Tak berselang lama, pintu ruangan itu kembali terbuka dan menampilkan dokter wanita itu yang berjalan ke arahnya.
"bagaimana keadaan istri saya?"tanya Dion segera bangkit dari duduknya dan langsung menghampiri dokter wanita itu.
Dokter wanita itu tersenyum tipis. membuat Dion semakin merasa kebingungan."dia tidak apa-apa Tuan,"ujar dokter itu masih dengan senyuman.
"nggak apa-apa gimana? dia pingsan loh Dok,"tanya Dion yang mulai kesal.
"istri anda mungkin hanya kelelahan, maklum saja di bulan-bulan pertama kehamilan, memang tubuh wanita akan merasa sangat lemah."
"kelelahan bagaimana? istri saya itu,--"ucapan Dion terhenti saat menyadari sesuatu. laki-laki tampan itu segera menetap ke arah dokter itu dengan tatapan meminta penjelasan.
__ADS_1
Membuat dokter itu mengaggukan kepala. tentu saja hal itu membuat laki-laki tampan itu, girang.