
Gadis tomboy itu berjalan dengan riang dan gembira menyusuri koridor sekolahan. untuk masuk ke dalam kelasnya. entah mengapa, gadis itu merasa sangat bahagia dapat merasakan cinta yang sangat tulus dari laki-laki bernama Dion Alexander itu.
"jadi seperti ini rasanya jatuh cinta? tapi kenapa saat bersama Alvaro, aku tidak pernah merasakan seperti ini?"tanya Jovita tanpa sadar menyebut nama laki-laki itu.
"eh, untuk apa aku menyebut nama laki-laki brengsek itu?"tanya Jovita dengan raut wajah kesal.
Karena gara-gara laki-laki itu, dirinya harus masuk ke rumah sakit dan, selama beberapa bulan. Untung saja, bayi yang ada dalam kandungannya, memiliki kekuatan. jika tidak, mungkin saja dirinya telah kehilangan sosok malaikat kecil itu.
Tapi tiba-tiba saja, raut wajah dari Jovita kembali cerah saat mengingat perasaannya yang saat ini tumbuh dengan subur untuk sang suami.
"tapi kalau dipikir-pikir, mereka telah membantuku untuk mengenal siapa orang yang benar-benar tulus padaku. apa aku harus mengirimkan bunga untuk mereka?"tanya ke gadis tomboy itu pada dirinya sendiri.
Tak berselang lama, akhirnya Jovita sampai juga di depan kelas. dan dengan segera, gadis tomboy itu membuka pintu kelas. karena memang, saat itu pintu kelas X tengah ditutup oleh para siswa.
"kenapa ditutup seperti ini?"tanya Jovita pada dirinya sendiri.
"Jovita!"teriak seseorang yang berada di dalam kelas itu. siapa lagi jika bukan teman-temannya dan juga Reiner yang memang telah berada di sana.
"kalian apaan sih? kenapa nyambut gue seperti itu?"tanya Jovita dengan wajah merah padam. karena gadis tomboy itu merasa malu dengan acara penyambutan itu.
"nggak papa kita senang aja loe udah kembali sekolah seperti dulu,"ujar Sandrina Seraya memeluk bahu sahabatnya itu.
__ADS_1
"kemarin loe kenapa bisa koma?"pertanyaan dari Ochi, sukses membuat gadis tomboy itu hampir saja tersedak.
"kalian tahu dari mana?"tanya Jovita dengan wajah tegang dan juga nada gugup.
"dari Papi loe,"ucap Sandrina lagi. tentu saja ucapan dari temannya itu, membuat Jovita kembali menegang. karena gadis cantik itu, masih belum rela jika rahasianya akan terbongkar.
"terus kalian jengukin gue waktu gue koma?"tanya Jovita semakin merasa gusar. Namun seketika itu pula, wajah gadis tomboy itu kembali cerah. saat mendapat gelengan dari teman-temannya itu.
"syukurlah,"ucap gadis tomboy itu dalam hati. kemudian, Indra penglihatannya menatap ke sekeliling karena merasa ada yang kurang dengan situasi saat ini.
"oh iya, di mana Cherry?"tanya Jovita Seraya menatap ke arah sekeliling ruangan itu.
Membuat semuanya, seketika saling pandang satu sama lain. "dia pergi entah ke mana Setelah dinyatakan hamil satu bulan yang lalu,"ucap Ochi dengan raut wajah sedihnya.
"Ma,.. maksudnya bagaimana?"tanya Jovita dengan tubuh bergetar hebat. karena bagaimanapun, dirinya dan juga Cherry telah berteman hampir 6 tahun. dan itu bukanlah waktu yang singkat untuk menghapus bekas-bekas memori di antara mereka semua.
Dengan segera Jovita ditarik oleh teman-temannya dan juga Reiner untuk segera duduk di tempat duduknya. dan mereka semua mulai menceritakan apa yang terjadi dan dialami oleh Cherry.
Jadi, sewaktu mereka tengah sibuk mencari keberadaan Jovita, mereka dikagetkan dengan kenyataan. bahwasanya, Cherry dinyatakan positif hamil. tentu saja, hal itu membuat teman-temannya mendesak gadis itu untuk mengakui. siapa ayah dari anak itu. Namun, Cherry sama sekali tidak pernah ingin membuka tentang identitas laki-laki itu. dan setelah beberapa hari, mereka kembali dikagetkan dengan kabar bahwa Cherry telah meninggalkan kota ini.
"apa ini semua ulah Alvaro?"tanya Jovita pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"loe tadi ngomong apa?"tanya Ochi yang seperti mendengar bahwa Jovita menyebut nama laki-laki yang masih menjadi kekasih dari Jovita.
Mereka belum mengetahui jika hubungan antara Jovita dan Alvaro, telah kandas beberapa bulan yang lalu. dan Jovita masih belum siap untuk mengatakan semua itu.
Selain karena masih belum ingin menceritakan kebenaran tentang dirinya, gadis tomboy itu juga tidak ingin jika teman-temannya yang lain, ikut membenci dan menaruh dendam pada sahabat mereka sendiri.
Dengan segera, Jovita mengalihkan pertanyaan teman-temannya itu dengan hal yang lain.
"gimana kalau nanti kita ke rumahnya saja, siapa tahu dia masih ada di sana?"tanya Jovita pada teman-temannya itu.
"dia itu tidak ada di situ Jovita,"ucap Sandrina.
"ya kan siapa tahu aja," sahut Jovita.
"terserahmu saja,"ucap mereka semua dengan nada pasrah. karena jika Jovita sudah memutuskan sesuatu, mereka hanya dapat menurutinya.
Tak berselang lama, bel sekolah berdering. pertanda, bahwa pelajaran akan segera dimulai. dan tak berselang lama, muncul seseorang membuka pintu kelas itu.
"morning!"sapa Miss Alicia pada semua murid di kelas itu.
"morning Miss!"sapa semua murid yang ada di kelas itu. dan akhirnya, telah melakukan pemanasan dan basa-basi, kegiatan belajar mengajar pun segera dimulai.
__ADS_1
Miss Alicia sesekali menatap ke arah Jovita dengan tatapannya sulit diartikan. dan hal itu disadari oleh gadis tomboy itu. Namun demikian, Jovita menganggap hal itu hal yang biasa.
"bodo amat ah,"ucapnya Seraya mengedikkan bahu.