
Setelah mengumpulkan niat dan keberanian cukup lama. pada akhirnya Dion menceritakan semuanya pada kedua orang tuanya dan orang tua sang istri.
Tentu saja hal itu membuat semua orang merasa sangat terkejut. terutama Vania dan juga Aksa. karena kedua manusia paruh baya itu, sangat mengenal semua teman-teman Putri mereka. dan mereka tidak pernah menyangka, jika teman-teman putrinya akan menjadi penghianat dan juga musuh dalam selimut.
"ini tidak bisa dibiarkan! kita harus melaporkan semuanya pada polisi!"ujar Vania yang merasa sangat geram dengan apa yang diperbuat oleh teman-teman putrinya itu.
Sementara Aksa dan kedua orang tua Dion memilih untuk berdiam diri. karena mereka masih mencerna setiap kalimat yang dilontarkan oleh laki-laki tampan itu.
Mata Olivia seketika membulat sempurna saat wanita paruh baya itu baru menyadari sesuatu. "tadi kamu bilang apa, Nak?"tanya wanita paruh baya itu Seraya menatap tajam ke arah putranya.
Tentu saja hal itu membuat semua orang menjadi sangat terkejut. terutama Dion. laki-laki tampan itu berpikir, telah melakukan kesalahan karenanya, membuat wanita paruh baya itu menjadi marah seperti ini.
"Mama kenapa marah-marah seperti itu?"tanya Edgar pada istrinya.
"Pah, papa tidak dengar tadi? menantu kita didorong oleh sahabat dan juga kekasihnya itu berarti,..."Olivia tak kuasa untuk melanjutkan ucapannya.
Karena wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu, merasakan dadanya sangat sesak karena fakta yang baru saja ia ketahui. seketika dadanya terasa nyeri saat membayangkan bagaimana sakitnya putra semata wayangnya saat dikhianati.
"jadi bisa dikatakan istrimu berkhianat?"tanya Olivia dengan nafas naik turun. wanita paruh baya itu sampai melupakan jika dirinya berada di sini karena mengkhawatirkan menantu kesayangannya itu.
Dion yang baru menyadari kesalahannya segera menghampiri sang Ibu dan langsung memeluknya dengan erat.
"tenang mah, ini sepenuhnya bukan salah Jovita."ucap Dion yang masih berusaha untuk mencoba menenangkan sang ibu.
__ADS_1
"apa maksudmu?"tanya Olivia Seraya menatap ke arah putranya.
Dion yang mendengar pertanyaan dari ibunya itu, sejenak menghirup udara dengan dalam-dalam. setelahnya, menghembuskannya secara perlahan.
"karena Dion yang merebut Jovita dari kekasihnya. maka Dion harus siap menerima konsekuensinya."ucap laki-laki itu dengan wajah yang sangat datar.
Olivia yang mendengar ucapan dari putranya itu, seketika berkacak pinggang."mana ada peraturan seperti itu, hah? tidak ada seorang suami yang merebut istrinya dari kekasihnya. itu konyol namanya,"ucapnya dengan suara menggebu-gebu.
Sementara Edgar, laki-laki paruh baya itu, mencoba untuk menenangkan istrinya yang semakin lama semakin tidak terkendali itu.
"tetap saja Mah, Dion merebut dia dari kekasihnya."ucap laki-laki tampan itu dengan wajah yang sangat murung. "tapi Dion berjanji, akan merebut hati gadis Dion kembali."ujar laki-laki tampan itu penuh dengan tekad yang sangat kuat.
Olivia yang mendengar ucapan dari putranya itu, seketika memeluknya dengan tangis sesenggukan. sementara kedua orang tua Jovita, merasa sangat bersalah dan juga terkejut dalam waktu yang bersamaan.
Membuat Vania mencoba untuk menenangkan suaminya itu. karena laki-laki paruh baya itu pasti akan meledak-ledak emosinya.
"namanya Alvaro Pah,"ucap Dion dengan nada sedikit melemah.
Mendengar ucapan dari menantunya itu, membuat dada Aksa menjadi bergemuruh karena menahan amarah yang luar biasa.
"papa harus memberikan perhitungan pada laki-laki itu, berani sekali dia menyentuh putriku!"ujarnya Seraya mengeram kesal.
Vania yang melihat itu segera memeluk suaminya untuk menenangkan. karena Aksa akan sangat mengerikan jika laki-laki itu tengah dalam keadaan marah.
__ADS_1
"kita harus memenjarakannya!"Edgar yang sedari tadi diam, ikut berbicara. membuat semua orang beralih menatap laki-laki yang mempunyai jambang tebal itu.
"tapi, kita tidak mempunyai bukti yang kuat. karena CCTV di tempat itu, kebetulan sedang rusak. dan lagi, mereka masih terbilang di bawah umur. pasti nanti hukumannya akan sangat ringan,"ujar Dion dengan nada datar.
Membuat semua orang yang mendengarnya seketika menghela nafas panjang. "lalu apa rencanamu?"tanya Edgar pada putranya.
Dion yang mendengar itu seketika tersenyum menyaringai. "kita tunggu sebentar lagi, Dion akan menghancurkan keluarganya!"ujar laki-laki itu dengan raut wajah yang sangat menyeramkan.
Tak lama berselang, dokter datang menghampirinya dengan raut wajah yang sedikit gusar.
Tentu saja, hal itu membuat semua orang yang ada di sana, merasa sedikit cemas. dengan segera, Dion menghampiri dokter laki-laki itu.
"apa yang terjadi? istri saya baik-baik saja, kan?"tanya laki-laki tampan itu dengan raut wajah yang sangat khawatir.
Dokter laki-laki paruh baya itu sejenak terdiam. kemudian dengan perlahan mengatakan sesuatu.
"akibat benturan itu, pasien mengalami kondisi koma. dan kami tidak tahu kapan pasien akan bangun,"
Tentu saja ucapan dari dokter itu, membuat semua orang merasa sangat terkejut. bahkan Vania dan Olivia pun, seketika pingsan di dalam pelukan suami masing-masing. dan dengan segera, mereka dibawa untuk mendapatkan pertolongan.
"lalu bagaimana dengan kondisi bayi yang ada di dalam kandungannya?"tanya Dion dengan raut wajah yang sangat khawatir.
"Tuan tenang saja, kondisi janin yang ada di dalam perut sangat sehat bahkan terbilang sangat aktif."ujar dokter itu dengan senyuman tipis.
__ADS_1