
Beberapa hari kemudian,...
Kondisi Jovita masih tetap sama. gadis tomboy itu masih belum sadarkan diri sampai saat ini. tapi anehnya, gerakan janin yang ada di dalam perut gadis itu masihlah aktif. hal itu membuat Dion merasa bersyukur di tengah-tengah kegalauan hatinya.
"semoga kamu kuat ya nak,"ujar Dion Seraya mengusap perut Jovita yang semakin lama semakin membuncit itu.
Kemudian pandangannya, kembali mengarah ke wajah istrinya yang tengah terlelap itu. karena ekspresi wajah Jovita, tidak seperti orang yang sedang sekarat. melainkan gadis tomboy itu, seperti seseorang yang tengah tertidur lelap.
"sampai kapan kamu akan tidur seperti ini, sayang?"tanya Dion Seraya mengusap kepala gadis kesayangannya itu dengan lembut.
Tubuh laki-laki itu seketika bergetar hebat menahan rasa sakit dan juga tangis yang harus ia keluarkan. karena dadanya merasa sangat sesak melihat orang yang ia sangat sayangi, terbaring tak berdaya di hadapannya.
"aku mohon, bukalah matamu."ujar laki-laki tampan itu Seraya menggenggam tangan milik istrinya.
Fokus Dion seketika teralihkan saat melihat seseorang membuka pintu dari luar. karena memang, kaca ruangan itu sangatlah transparan sehingga dapat melihat seseorang dari luar ruangan itu.
"ada apa?"tanya Dion saat menyadari siapa orang yang masuk ke ruangan itu dan menghampiri dirinya.
"kami telah menemukan dua anak itu, tapi sayangnya mereka tidak bisa dipenjara karena alasan usia mereka masih di bawah standar di negara ini."ucap orang itu Seraya menyerahkan dokumen pada Dion.
__ADS_1
Laki-laki tampan itu, segera menerima dan membukanya untuk memeriksa semua dokumen itu. "jika mereka tidak bisa tersentuh oleh hukum karena alasan usia, maka aku sendiri yang akan menghancurkan mereka!"ucapnya dengan nada yang sangat tenang namun sarat akan ancaman.
Orang itu segera menganggukkan kepala dan segera keluar dari tempat itu. tak lama berselang, pintu kembali terbuka dan saat ini kedua orang tuanya datang berkunjung.
"bagaimana keadaannya?"tanya Edgar Seraya duduk di sofa panjang ruangan itu.
"masih belum ada perkembangan,"ujar Dion Seraya mengusap kepala istrinya itu dengan lemah lembut.
Sementara Olivia, wanita paruh baya itu masih menatap menantunya dengan tatapan tidak suka. sungguh, Dion tidak akan pernah menyangka itu jika orang yang pernah menyayangi istrinya seperti putri kandungnya sendiri, sekarang malah berbalik membencinya dengan sekuat tenaga.
"Mah, janganlah seperti itu!"tegur Edgar pada istrinya. tentu saja Olivia yang mendengar itu, segera melayangkan tatapan tajam pada sang suami.
"bukankah Mama sendiri yang mengatakan pada Dion, untuk selalu menjaga Jovita, dan memaklumi tingkah lakunya karena Jovita masihlah remaja? kenapa Mama jadi seperti ini?"tanya Dion Seraya menatap ibunya dengan tatapan yang sangat dalam.
Olivia yang mendengar itu segera memalingkan wajahnya. dan dengan segera mengatur nafasnya yang sangat memburu karena menahan amarah yang luar biasa. "itu karena Mama pikir, istrimu itu hanya tidak ingin menikah muda. tapi ternyata dirinya memiliki kekasih yang sangat ia cintai,"ucap Olivia Soraya menghempaskan tubuhnya di samping sang suami.
"wajar jika Jovita memiliki kekasih, istriku itu sangat cantik Mah. apalagi kita menikah dengan keadaan mendadak seperti itu. pasti dirinya tidak akan pernah menerima itu dengan mudah,"ujar Dion dengan nada setenang mungkin.
"sudahlah, Mama tidak ingin berjumpa denganmu lagi."ujar wanita paruh baya itu Seraya menarik dengan suaminya untuk keluar dari dalam ruangan VIP tersebut.
__ADS_1
Dion yang melihat itu, hanya dapat menghela nafas dengan panjang. kemudian menatap istrinya itu, dengan tatapan yang sangat dalam.
"apapun yang terjadi, aku akan tetap berada di sampingmu."ucap laki-laki itu suara yang membenamkan bibirnya di kening istri tercintanya.
*****
Sementara itu, di sebuah ruangan kelas. terlihat semua orang tengah heboh karena tidak mendapati Jovita di sana. "kenapa Jovita belum masuk juga? kenapa dengan anak itu?"tanya Ochi Seraya menatap teman-temannya dengan raut wajah kehranan.
"entahlah, gue juga berusaha menghubunginya, tapi tidak ada jawaban dari Jovita,"ucap Sandrina Seraya menatap ke arah ponselnya dengan tatapan malas.
Sementara Cherry, gadis itu sudah sedikit berkeringat karena merasa takut jika perbuatannya itu diketahui oleh kedua sahabatnya
"bisa mampus ini kalau gue ketahuan," gumamnya dalam hati.
Melihat reaksi Cherry yang tampak sedikit aneh, Ochi dan juga Sandrina segera menyenggol lengan gadis itu.
"loe kenapa Cher?"tanya Sandrina dengan raut wajah herannya. apalagi saat Cherry mengusap keningnya yang tampak mengkilat karena keringat.
membuat Cherry yang mendengarnya seketika menggelengkan kepala."gue nggak papa kok, kalau gitu gue ke toilet dulu ya,"ucap gadis itu Seraya beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Bahkan Cherry tidak menghiraukan teman-temannya yang sedari tadi memanggilnya.