
Jovita keluar dari dalam rumahnya dengan sedikit menggerutu kesal. Karena, di zaman yang serba modern ini, orang tuanya masih berpikiran super kolot. yaitu dengan menjodohkan putrinya. Apalagi, calonnya ini terpaut usia lumayan jauh. Tentu saja, itu membuat Jovita sedikit merasa jijik dan risih.
'hais, bodoh !" umpatnya entah pada siapa. dan dengan segera, gadis cantik itu menuju ke arah garasi rumahnya. untuk mengambil mobil yang hampir satu bulan mangkrak tidak dia gunakan.
Namun, belum sempat Gadis itu sampai di depan garasi rumahnya, sebuah mobil masuk dan berhenti di pekarangan rumahnya.
Jovita yang mendengar suara deru mesin mobil, sejenak terdiam. dan dengan segera, menoleh ke arah sumber suara.
"Ck," dengan segera, Jovita berdecak kesal. saat mata indahnya, melihat Siapa orang yang keluar dari dalam mobil itu." ish, mau apa sebenarnya orang itu? dasar mengganggu saja!" ucapnya menggerutu kesal.
Jovita tak menghiraukan laki-laki yang baru saja keluar dari dalam mobilnya itu. gadis tomboy itu, melanjutkan aksinya untuk mengeluarkan mobil kesayangannya. karena sepertinya, dirinya sudah sedikit terlambat.
Namun, gerakannya kembali terhenti. saat mendengar ucapan dari sang Papi." eh kebetulan ada nak Dion, lebih baik kamu berangkat sama nak Dion aja kali," ucap Aksa penuh dengan misteri.
Tentu saja, itu membuat Jovita yang mendengarnya, seketika menggelengkan kepala." nggak usah aku bisa berangkat sendiri." ucap gadis tomboy itu dengan cepat.
" Jovita, tolong Jangan membantah. ini semua demi kebaikanmu. atau kamu mau, Mami sama Papi nggak ngasih ijin?" ancam Vania pada putrinya itu.
Sontak saja, Jovita yang hendak melangkah menuju ke dalam garasi, seketika terhenti. Kemudian, berbalik menetap kedua orang tuanya dengan wajah sendu dan air mata yang hampir saja tumpah dari mata indahnya.
" Kenapa sih, Mami sama papi itu selalu saja menekan Jovita seperti ini? Apa memang tujuan kalian mempunyai anak hanya untuk bisa ditekan seperti ini? kalau saja Jovita tahu, mungkin cerita tidak akan pernah mau dilahirkan dari keluarga yang berada Tapi terpenjara seperti ini."
Plak
tepat di saat Jovita menyelesaikan ucapannya, satu tamparan keras seketika mendarat mulus di wajah cantik gadis itu. hingga membuat wajahnya, seketika terpental hebat ke arah samping.
" jaga ucapan Jovita, Papi tidak pernah mengajarimu se kurang ajar ini!" bentak Aksa berapi-api.
__ADS_1
Sementara Jovita sendiri, gadis cantik yang terkenal galak dan tomboy itu, seketika menangis tersedu-sedu. bukan karena sakit yang ada di pipinya, itu sama sekali tidak terasa bagi Jovita. Namun, rasa sakit di hatinya membuat gadis tomboy itu seketika menangis.
" Ini bukti, kalau kalian memang tidak menyayangiku!" ucap Jovita masih dengan linangan air mata.
Sementara Vania dan Dion yang mendengar itu, hanya bisa berdiam diri tanpa berani untuk menengahi salah satu diantara mereka. Karena Vania sendiri, sebagai istri Aksa, tidak pernah sekalipun melihat kemarahan suaminya sebesar ini.
Tentu, itu membuat Vania menjadi sangat terkejut. " Mas jangan kasar-kasar!" ucap Vania mencoba untuk menenangkan suaminya.
" kau ingin pergi atau tidak? jika tidak, lebih baik kau kembali ke kamar!" ucap Aksa dengan nada yang sangat tegas.
Terpaksa, Jovita menuruti permintaan sang Papi. karena gadis tomboy itu, tidak ingin mengecewakan laki-laki yang sangat ia cintai. Ia Yakin, jika Alvaro, telah menunggunya di sana. lagi pula, teman-temannya juga pasti sudah menunggu untuk balapan.
Tanpa berbasa-basi dan mengeluarkan suara apapun, Jovita segera masuk ke dalam mobil milik Dion.
" Maafkan anak Om ya, mungkin karena Om terlalu memanjakannya dulu. sehingga sekarang, dia menjadi kurang ajar seperti ini." ucap Aksa Seraya mengusap punggung calon menantunya itu.
" tidak apa-apa nak Dion, semoga setelah ini, kau tidak akan pernah ilfil dengan putri kami." ucap AksA sedikit bercanda. untuk mencairkan suasana yang sempat membatu itu.
Setelah berbasa-basi dan berpamitan, Dion masuk ke dalam mobilnya. membuka kaca mobil itu untuk Melambaikan tangan. Namun, hal serupa tidak dilakukan oleh Jovita. karena gadis tomboy itu, masih dengan posisinya menatap lurus ke depan.
Sungguh, hatinya terasa sangat sakit. saat mendapatkan perlakuan yang sedikit kasar. apalagi ini dilakukan, oleh orang yang sangat dianggap sebagai pahlawan dan Cinta Pertamanya.
***
Sepanjang perjalanan, Dion tak henti-hentinya melirik ke arah gadis tomboy yang masih dia membisu di tempatnya.
" kamu tidak apa-apa?" tanya Dion mencoba untuk berbasa-basi.
__ADS_1
" nggak usah bacot!" santak Jovita dengan nada yang sangat dingin. Namun, pandangannya masih fokus ke arah depan.
Dion yang mendengar itu, seketika meringis dalam hati. karena sepertinya, gadis yang ada di sampingnya itu, sangat sulit untuk ditaklukan.
Suasana di dalam mobil itu, kembali Hening seperti sedia kala. dan tak berselang lama, mobil Dion sampai di depan Cafe yang sebelumnya sudah diinfokan oleh Jovita melalui kertas.
Tanpa berbasa-basi, gadis cantik itu segera turun dari dalam mobil. tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Dion yang melihat itu, juga membuka pintu mobilnya. Sepertinya, laki-laki Tampan itu, ingin mengikuti calon istrinya. Namun, niatnya itu diurungkan saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya itu.
Sakit? Jangan Ditanya. hatinya seakan terasa diiris oleh Parang yang sangat tajam. Namun, Dion mencoba untuk bersikap biasa saja.
" Baby, kenapa baru ke sini? are you oke?" tanya seorang laki-laki yang tak lain adalah Alvaro. Sengaja, laki-laki itu menghampiri Jovita saat tahu, gadis in caranya itu baru saja turun dari dalam mobil.
" aku baik-baik saja, kau nggak usah khawatir." ucap Jovita tersenyum tipis.
Alvaro yang melihat itu, menganggukkan kepala. Kemudian, menggandeng tangan Gadis itu untuk masuk ke dalam restoran.
Sementara Dion yang melihat itu, mencoba untuk menahan rasa yang bergemuruh yang meluap-luap di dalam dadanya.
" sabar Dion, semoga semuanya dapat kamu lalui." gumam laki-laki itu Seraya tersenyum tipis.
Kemudian, Dion mengikuti Jovita. hingga gadis itu, duduk di sebuah meja yang telah dihias secantik mungkin.
" alay!" ucap Dion mendengus kesal. Seraya matanya, tak henti-hentinya menatap laki-laki yang bersama dengan calon istrinya itu, dengan tatapan membunuhnya.
Dion merasa sangat muak dengan pemandangan yang ada di hadapannya itu. Namun, laki-laki Tampan itu tidak bisa berbuat apa-apa.
__ADS_1
Sementara itu di depan sana, Jovita Tengah tersipu malu saat sesekali Alvaro menggodanya." kamu cantik banget sih malam ini," ucapnya Seraya menggenggam jemari lentik milik gadis itu.