
Tak berselang lama, akhirnya mobil yang dikendarai oleh Dion telah sampai di depan rumah gadis tomboy itu. dan tanpa basa-basi atau berterima kasih, Jovita segera keluar dari dalam mobil. dan dengan sedikit keras menutup pintu mobil itu. hingga membuat Dion yang merasa terkejut, mengusap dadanya.
"sabar Dion sabar, ingatlah dua hari lagi kau dan gadis itu akan menikah. dan setelah menikah, kau dapat melakukan apa saja yang kau mau,"ucapnya meyakinkan pada dirinya sendiri.
Setelahnya, Dion ikut turun dari dalam mobil. saat laki-laki tampan itu, mendapati kedua orang tua calon istrinya telah membuka pintu rumah mereka.
"syukurlah kalian pulang,"ucap Vania Seraya memeluk putrinya dengan sangat erat.
Namun, yang dipeluk malah terlihat acuh tak acuh dan menetap ke arah depan dengan tetapan yang sedikit kosong.
"iya loh nak Dion, hampir saja Om mengerahkan anak buah untuk mencari Jovita. Ternyata, anak Om tengah bersama laki-laki yang tepat,"ucap Aksa ya tersenyum simpul.
"hmm, maaf om kami terlalu keasyikan berbincang-bincang. hingga melupakan waktu yang telah merangkak semakin malam,"ucap Dion tersenyum tipis.
Tentunya, ucapan dari Dion itu, membuat membuat Jovita sejenak terdiam."dia juga menutupi semuanya?"tanya gadis itu pada dirinya sendiri.
"haish bodo amat, emang gue pikirin!," ucapnya mendengus kesal
Sontak saja, ucapan dari Jovita itu membuat ketiga orang yang tengah berbincang-bincang itu seketika menoleh dan menatapnya penuh dengan keheranan.
"kamu kenapa sayang, kok bicara sendiri?"tanya Vania Seraya memeluk putrinya itu dengan sedikit erat.
"nggak papa,"ujar Jovita Seraya menepis kangen ibunya yang masih bertengger di atas pundaknya.
"Jovita capek mau masuk dulu," tanpa menunggu respon dari semua orang, gadis tomboy itu segera melangkahkan kakinya untuk menuju ke dalam rumah.
Aksa yang melihat itu, mendengus kesal Seraya menggelengkan kepala. kemudian menatap calon menantunya itu Seraya meminta maaf.
"nak Dion, tolong maafkan sifat dan sikap Jovita ya, jangan hanya gara-gara ini, nak Dion memutuskan untuk membatalkan" ucap Aksa.
Membuat Dion yang mendengarnya, seketika tersenyum lebar. "itu tidak akan pernah terjadi Om, saya pantang untuk mencabut ucapan saya. karena seorang laki-laki itu, yang dipegang adalah omongannya."
Aksa yang mendengar itu, seketika saling tatap dengan sang istri."beruntungnya Jovita dapat memiliki kamu,"celetuk Aksa.
__ADS_1
Dion yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepala."tidak Om, justru aku yang merasa sangat beruntung mendapatkan anak Om."ucap Dion masih dengan senyuman manisnya.
"kenapa nak Dion, apakah ada yang mengganjal?"tanya Vania yang sepertinya mengetahui apa yang telah dirasa oleh laki-laki tampan itu.
"begini Om Tante? saya berniat ingin mempercepat pernikahan ini, apa boleh?" tanya Dion dengan rasa sedikit takut-takut.
tentu saja pertanyaan dari laki-laki itu, membuat Vania dan Aksa saling berpandangan.
"memangnya kenapa nak Dion, apakah Jovita berbuat ulah?"tanya Aksa dengan cepat. karena laki-laki paruh baya itu takut, jika putrinya berbuat hal yang Di Luar batas.
Dion yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepala Seraya tersenyum tipis."tidak Om, Jovita sampai saat ini belum berbuat yang aneh-aneh kok, lagi pun, kalau Jovita berbuat aneh-aneh, pasti yang saya lakukan adalah membatalkan pernikahan bukan malah mempercepatnya,"
Mendengar ucapan dari Dion, membuat pasangan paruh baya itu menganggukkan kepala.
"baiklah kalau begitu, memangnya, nak Dion mau acaranya kapan?"tanya Aksa.
"besok Om hari Minggu. karena hari Senin kan, Jovita sudah masuk ke sekolah."ucap Dion, dengan nada yang sangat tegas.
Mendengar penuturan dari calon menantunya itu, membuat Vania dan Aksa menganggukkan kepala mengerti.
Namun, langkahnya terhenti saat mendengar ucapan dari Dion."tidak usah tante, semua sudah dipersiapkan sama Mama,"
Mendengar ucapan dari Dion itu, seketika membuat Vania, mematung di tempatnya. dan dengan segera, membalikkan tubuhnya. memandang calon menantunya itu, dengan pandangan tak percaya.
"serius ini tante nggak salah dengar?"tanya Vania untuk memastikan semuanya. dan hal itu dibalas anggukan oleh Dion.
Sontak saja, hal itu membuat Vania merasa sangat bahagia. karena seharusnya yang repot itu adalah pihak perempuan. bukan malah lihat laki-laki.
"baiklah kalau begitu, besok kami akan datang, memangnya, acaranya akan dilakukan di mana?"tanya Vania.
"di hotel permata tante."ujar Dion Seraya meraih tangan kedua calon mertuanya itu dan menciumnya.
"kalau begitu, permisi dulu," Setelah mendapatkan anggukan dari kedua calon mertuanya itu, Dion segera berjalan menghampiri mobil kesayangannya dengan senyuman manis.
__ADS_1
"akhirnya, besok adalah hari yang bersejarah untukku, aku sudah tidak sabar."ujar laki-laki itu Seraya masuk ke dalam mobil. dan setelahnya, melesatkan mobil miliknya dengan kecepatan sedang.
Sungguh, Dion sudah merasa tidak sabar untuk menyambut hari esok.
****
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah kamar yang bernuansa Hitam putih, terlihat Jovita tengah merebahkan tubuhnya. dengan sesekali, tersenyum membayangkan kejadian yang ia alami hari ini.
"akhirnya, bisa kembali bersama dengan laki-laki yang aku cintai,"gumam Jovita Seraya mengubah posisi tidurnya menjadi tengkurap.
driving,... dering,..
Saat otaknya tengah memandangi dan membayangkan kebahagiaan yang telah ia raih saat ini, tiba-tiba saja ponselnya berdering. senyuman gadis tomboy itu semakin lebar, saat melihat siapa yang menelponnya.
Dengan gerakan secepat kilat, Jovita meraih dan mengangkat panggilan telepon itu.
"halo Jovita, apa kamu sudah sampai di rumah?"tanya Alvaro dari seberang sana.
"sudah Al, aku udah sampai rumah kok makasih ya, udah repot-repot nanyain kabar untuk aku,"ujar Jovita Seraya tersenyum tipis.
"nggak repot lah, kan aku memang pacar kamu, kamu ini ada-ada aja masa aku repot,"ujar Alvaro dari seberang sana.
Akhirnya, Jovita dan Alvaro saling bercerita satu sama lain. dan sesekali, mereka berdua akan tertawa dengan riang saat dirasa ada yang lucu.
Untung saja, kamar Jovita ini memiliki alat peredam suara. membuat kegaduhan yang berada di dalam kamar gadis tomboy itu, tidak terdengar sampai luar.
Kalau tidak, mungkin hal yang lebih besar akan terjadi terhadap gadis itu lebih dari tamparan ayahnya kemarin.
"ya sudahlah Al, aku mau tidur ngantuk, sampai jumpa besok ya,"ujar gadis tomboy itu dengan senyuman manis.
"bay sayang, mimpi yang indah ya, besok kita ketemu lagi di tempat biasa. Oke,"ujar Alvaro Seraya menutup panggilan telepon itu.
"bye,"
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, Jovita segera memecahkan matanya.