
Beberapa bulan kemudian, hubungan kedua anak manusia itu, semakin lama semakin membaik. hal itu membuat Aksa dan juga Edgar yang melihatnya merasa semakin senang. mereka bahkan sesekali bahkan mendatangi anak dan menantunya untuk berkunjung.
Sepertinya, kedua laki-laki paruh baya itu tidak lagi memperdulikan omelan bahkan cacian dari istri masing-masing. dua wanita paruh baya itu, merasa tidak setuju jika suami mereka berkunjung ke rumah anak ataupun menantunya.
"apa papa ke sini tidak takut sama mama?"tanya Jovita menatap ke arah Aksa dan juga Edgar secara bergantian.
"kamu tenang saja sayang, semua pasti akan baik-baik saja."ucap Aksa mengusap kepala putrinya penuh dengan kasih sayang.
"tapi kalau Mami nanti mengamuk bagaimana Pi?"tanya Dion menatap ke arah sang Papi dengan sedikit kekhawatiran.
Edgar yang mendengar itu, ketika menyunggingkan senyuman tipis."kamu tenang saja. mudah-mudahan dengan Papi terus-menerus memberikan nasehat, Mami kamu bisa luluh kembali. dan menerima cerita kembali seperti dulu."ucapnya Seraya mengusap sang cucu yang berada dalam gendongan Dion.
__ADS_1
Mereka semua akhirnya menganggukkan kepala. dan mempersilahkan Edgar dan juga Aksa untuk masuk ke dalam rumah itu. karena sejak tadi, mereka semua berada di luar rumah.
******
Sementara itu di tempat lain, dua orang wanita berbeda generasi baru saja bertemu di restoran seperti biasanya.
"Tante minta maaf Alicia. tapi sepertinya, perasaan dan hati Dion tidak bisa dialihkan. anak tante sepertinya telah terpikat kepada pesona gadis tomboy itu."ucap Olivia Seraya tersenyum kecut.
Wanita paruh baya itu, Sebenarnya masih menginginkan Alicia menjadi istri dari putranya. karena menurutnya, wanita yang ada di hadapannya kali ini lebih pantas daripada gadis tomboy yang telah menjadi menantunya itu. entah apa yang dipikirkan oleh Olivia. wanita paruh baya itu, dapat berpikir demikian.
Memang, terkadang hati manusia itu dapat berubah cepat kilat. pagi hari bersikap A, maka sore hari akan bersikap B. untuk itulah, jangan terlalu percaya pada hati manusia sepenuhnya. Karena semua itu, hanya bersikap semu.
__ADS_1
"kenapa Tante bersikap seperti itu?"tanya Alicia dengan raut wajah garang. Karena Wanita itu, benar-benar merasa dipermainkan. dengan sikap wanita paruh baya yang ada di hadapannya saat ini.
"maafkan Tante sayang. tapi sepertinya, Dion lebih memilih istri kecilnya daripada kamu."setelah mengatakan hal itu, Olivia segera melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Alicia yang masih terngengah tak percaya.
"kurang ajar! aku harus membalas sakit hatiku ini!"ucap wanita itu seraya mengepalkan tangannya kuat.
"jika aku tidak bisa mendapatkan Dion, makasih apapun juga tidak akan pernah bisa mendapatkan laki-laki pujaan hatiku itu."tiba-tiba saja, Alicia berbicara seorang diri Seraya tersenyum miring.
Setelah mengatakan hal itu, Alicia segera pergi meninggalkan restoran itu.
beberapa Bulan kemudian...
__ADS_1
Kini, Jovita telah lulus dari sekolah dan kegiatan wanita itu, kini hanya mengurus pekerjaan rumah. wanita itu tidak seperti teman-temannya yang melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Jovita masih tidak menyangka, bahwa sesuatu yang buruk akan menimpa Cherry. wanita itu ditemukan mengakhiri hidupnya dalam keadaan hamil besar. entah siapa yang melakukannya, yang jelas itu bukan perlakuan dari Alvaro. karena hasil perbuatan dari Alvaro, telah berhasil dilenyapkan oleh Cherry.