
Setelah pertengkaran itu terjadi, Dion tidak lagi memperhatikan gadis tomboy itu. hatinya benar-benar merasa sangat terluka. dan Dion memutuskan untuk tidak lagi mempedulikan gadis tomboy itu.
Laki-laki tampan itu memutuskan untuk menunggu Jovita di sebuah ruangan yang memang ia pesan khusus untuk memantau keadaan istrinya. bukan untuk keadaan istrinya. lebih tepatnya, Dion memantau apakah gadis itu bertingkah aneh-aneh atau menyakiti calon anaknya atau tidak.
"aah sialan! aku pikir berkelahi dengan orang banyak dan jatuh terkapar adalah hal menyakitkan bagiku. tapi ternyata, menyadari sikapmu yang sangat buruk inilah yang membuatku sangat sakit, " ujar laki-laki tampan itu Seraya mengusap wajah tampannya dengan kedua tangan.
kemudian, tak berselang lama, Dion memutuskan untuk memejamkan mata Seraya menyandarkan tubuhnya disandarkan kursi. untuk sejenak menetralisasikan pikirannya agar jernih kembali.
Sungguh, ucapan yang ia lontarkan itu, hanyalah spontanitas saja. karena sampai kapanpun, Dion sepertinya tidak akan pernah bisa untuk menjauhi gadis itu. karena memang, Dion telah terjebak dan tenggelam pada pesona gadis itu.
*****
Sementara itu di tempat lain, tepatnya di sebuah ruangan VVIP, terlihat Jovita tengah merenung sendiri di atas ranjang rumah sakit.
ceklek
Fokus dan lamunan gadis itu seketika buyar, saat mendengar suara pintu dibuka dari luar. dan seketika itu pula, senyum gadis tomboy itu merekah, saat dirinya melihat orang-orang yang ia kenali masuk ke dalam ruangan VVIP tersebut.
"akhirnya kalian datang juga!"ujar Jovita Soraya tersenyum tipis.
"lu kenapa lemah banget sih, kenapa sering sekali masuk rumah sakit?"tanya Sandrina Seraya duduk di kursi sebelah ranjang yang ditempati oleh gadis tomboy itu.
Tentu saja, ucapan dari sahabatnya itu membuat Jovita seketika terdiam. gadis tomboy itu tampaknya sangat bingung untuk mengatakan apa pada kekasih dan teman-temannya.
"woi kenapa malah diam!"ucap Cherry Soraya menatap sahabatnya itu dengan tatapan yang sangat bingung.
__ADS_1
"enggak apa-apa gue cuma kelelahan aja kok,"ucap gadis tomboy itu senang mungkin.
Membuat ketiga temannya itu, seketika saling pandang. karena merasa aneh dengan ucapan dan tingkah Jovita. yang akhir-akhir ini, terlihat begitu lemah.
"lo kenapa sih kok malah lama banget,?"tanya Ochi ikut menimpali.
"maksudnya?"tanya Jovita yang memang tidak mengerti sama sekali dengan maksud sahabat-sahabatnya itu.
"iyalah, loe itu udah dua kali tahu nggak masuk rumah sakit."ucap Sandrina menjelaskan maksud dari kedua sahabatnya itu.
"iya loh sayang, memangnya kamu itu sakit apa sih sebenarnya?"tanya Alvaro Seraya menghampiri dan mengusap kepala gadis tomboy itu dengan lembut.
Hingga membuat suasana menjadi sangat romantis untuk sejenak. namun itu tak bertahan lama. karena suasana romantis itu, dikacaukan oleh Ochi yang tiba-tiba saja berkata dengan spontan.
"pacaran aja terus,"celetuk Sandrina Seraya memutar bola mata malas. dan hal itu membuat Jovita seketika mendecih sebal.
"kamu memang tidak pernah menghargaiku," ujar laki-laki itu dengan nada yang sangat lirih. kemudian, Dion memutuskan untuk duduk di kursi ruang tunggu.
Menunggu agar ketika remaja itu segera keluar dari ruangan istrinya. walaupun hatinya merasa sangat resah. karena laki-laki tampan itu melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana mereka berkontak fisik. membuat hati Dion merasa sangat panas.
****
Sementara itu di dalam ruangan VVIP itu, terlihat Alvaro tengah menyuapi kekasihnya dengan potongan buah yang memang telah tersedia di piring.
"kamu harus makan yang banyak ya baby, supaya kamu bisa cepat sehat dan juga kita bisa balapan lagi seperti biasa,"ucap laki-laki tampan itu Seraya mengusap kepala kekasihnya dengan perasaan sayang.
__ADS_1
Jovita yang mendengar ucapan dari kekasihnya itu, diam-diam meringis. karena tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, jika mereka semua mengetahui tentang kebenaran atas dirinya.
"semoga kalian dapat menerima gue apa adanya saat mengetahui semuanya,"ujar gadis itu dalam hati.
"kayaknya Jovita harus istirahat deh, lihat tuh wajahnya udah mulai pucat lagi," ujar Cherry yang menyadari raut wajah dari gadis tomboy itu.
Akhirnya mereka semua memutuskan untuk segera pulang ke rumah masing-masing. karena memang hari sudah mulai gelap.
*****
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya para remaja itu keluar juga dari dalam kamar Jovita. hal itu membuat Dion, seketika merasa sangat lega. dan dengan segera laki-laki tampan itu membuka pintu ruang VVIP tersebut dan segera masuk ke dalamnya.
Tak seperti sebelum-sebelumnya, kini Dion hanya terdiam Seraya menatap datar ke arah gadis itu.
"kenapa tuh orang, udah mulai lelah ya?"tanya gadis tomboy itu pada dirinya sendiri. dan setelah menyadari sesuatu, senyum sinisnya seketika terbit dari wajah cantiknya. "akhirnya, sebentar lagi pasti gue akan bebas,"gumamnya dengan raut wajah yang sangat bahagia.
beberapa hari kemudian,...
Akhirnya kini Jovita telah diperbolehkan pulang. tentu saja gadis tomboy itu merasa sangat bahagia. karena akhirnya dirinya bisa bebas kembali.
"Jovita, kamu mau tinggal sama mama lagi?"tanya Vania pada putrinya itu.
Jovita yang mendengar pertanyaan sang mama, terdiam sejenak. "nggak usah mah, aku sama Om Dion aja,"ucap gadis tomboy itu tanpa sadar.
Tentu saja ucapan itu membuat semua orang yang ada di sana termasuk Dion menatapnya dengan tatapan aneh.
__ADS_1
"Om Dion?"ulang Vania pada putrinya itu. sontak saja itu membuat Jovita yang menyadari ucapannya, segera meralatnya.