Terjerat Pesona Gadis Tomboy

Terjerat Pesona Gadis Tomboy
Bab 42


__ADS_3

kejadian insiden keributan hari itu, hubungan Vania dan juga Olivia semakin terasa jauh. kedua wanita paruh baya itu bahkan tidak segan-segan untuk adu mulut di hadapan orang banyak. tentu saja hal itu membuat Aksa dan juga Edgar merasa sangat kebingungan dengan tingkah laku istri mereka itu.


Dion bahkan tidak diberi izin untuk sekedar menjenguk atau menunggu istrinya sendiri. bahkan sekarang Vania, karena wanita paruh baya itu berpikir dan sangat yakin, jika anaknya harus terlepas dari laki-laki seperti itu.


Karena menurut Vania, putrinya bertubi-tubi mendapatkan masalah karena menikah dengan laki-laki itu. dan dirinya juga sangat menyesal telah menikahkan putrinya dengan laki-laki yang salah.


"mau apa kau ke sini?"tanya Vania. saat wanita paruh baya itu, melihat kedatangan Dion yang berjalan perlahan menghampiri keruangan Jovita.


"Mah, jangan seperti itu!"tegur Aksa pada istrinya karena laki-laki paruh baya itu merasa tidak enak dengan perlakuan yang ditunjukkan oleh Vania pada menantunya.


Namun, Vania sama sekali tidak menggubris ucapan dari suaminya. wanita paruh baya itu malah justru mendorong tubuh Dion agar menjauh dari kamar putrinya.


"tolonglah Mah, berikan saya kesempatan!"ucapnya Seraya mengatupkan kedua tangan di depan dada. dengan wajah yang sangat frustasi. karena sungguh, Dion sangat mencintai gadis tomboy itu dan tidak ingin kehilangannya.


Di saat mereka tengah ribut dan bersih tegang memperebutkan sesuatu hal yang tidak pasti, terlihat beberapa dokter berlarian dan mereka semua menuju ke arah ruangan Jovita. Tentu saja hal itu membuat keributan itu, seketika terhenti.


"kenapa? ada apa ini?"tanya Vania dengan wajah yang sangat khawatir. menatap para dokter itu yang hendak membuka pintu ruangan Jovita.


"maafkan saya nyonya, kondisi Nona Jovita kembali memburuk. kami harus segera mengeluarkan janin yang ada dalam perutnya."ujar salah satu dokter yang merupakan pimpinan dari para dokter itu.


Tentu saja, Vania yang mendengar ucapan dokter itu, membelalakkan matanya. bahkan wanita paruh baya itu merasa sangat limbung karena mendapatkan kabar mengejutkan seperti ini.

__ADS_1


Vania segera menangis tersedu-sedu di dalam pelukan sang suami. sementara Dion, laki-laki tampan itu hanya terdiam. sepertinya, laki-laki itu seperti tidak ada nyawa di dalam tubuhnya. dan tiba-tiba saja,...


brugh


Dion segera menjatuhkan dirinya di atas lantai rumah sakit. laki-laki tampan itu menangis tersedu-sedu. karena dirinya benar-benar sangat ketakutan jika hal buruk, terjadi pada istri kesayangannya itu.


Tak lama berselang, salah satu dokter kembali keluar untuk menghampiri keluarga gadis tomboy itu.


"ada apa?"tanya Vania yang langsung melepaskan tubuhnya dari pelukan sama suami.


" kami memerlukan persetujuan dari keluarga untuk melakukan tindakan operasi,"udah dokter itu Seraya menatap ke arah semua orang yang ada di sana.


Sejenak, suasana di depan kamar itu terasa sangat bening. karena mereka tengah berpikir keras untuk memutuskan sesuatu hal yang besar. Apalagi, kandungan dari Jovita masihlah belum cukup. dan itu pasti akan mengganggu kesehatan di masa yang akan datang.


"lakukan yang terbaik, aku setuju lakukan saja tindakan operasi itu!"tiba-tiba saja, Madiun bangkit dari posisinya.


Tentu saja hal itu membuat kedua orang tua Jovita menatapnya dengan tatapan yang berbeda. karena jika Vania, menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam. namun berbeda dengan Aksa. laki-laki paruh baya itu, menatap dengan tatapan yakin. yakin jika Dion dapat melakukan hal yang terbaik untuk istrinya.


"apa maksudmu, sialan?!"ujarnya Seraya melayang kata depan tajam pada laki-laki itu. "kandungan putriku bahkan belum genap 9 bulan, tapi kenapa kau malah memberikan keputusan seperti itu?"tanya Vania dengan emosi yang tak terkendali.


Wanita paruh baya itu bahkan tidak memperdulikan tatapan dari beberapa pengunjung rumah sakit yang menatapnya dengan tatapan terheran.

__ADS_1


"maafkan aku mah, tapi ini semua aku lakukan demi kebaikan semua orang,"ujar laki-laki itu Seraya menatap datar ke arah pintu ruangan milik istrinya.


"kau,..."


Ucapan Vania terhenti saat mendengar pintu ruangan itu dibuka. dan setelahnya, muncullah beberapa orang dengan mendorong ranjang yang berisi Jovita. para tenaga medis itu, segera membawa gadis tomboy itu ke ruang operasi.


Tentu saja hal itu membuat semua orang yang ada di sana, mengikuti langkah dari para tenaga medis itu. mereka segera membawa ke ruangan operasi.


"semoga semuanya, akan baik-baik saja,"gumam laki-laki tampan itu Seraya menyandarkan tubuhnya di dinding.


Tak membutuhkan waktu lama, dari dalam ruang operasi itu, samar-samar, terdengar suara tangisan bayi yang sangat melengking. tentu saja hal itu membuat Dion dan kedua orang tua Jovita, tersentak kaget. mereka dengan segera memperbaiki posisi masing-masing. dan tak berselang lama, seseorang membuka pintu ruang operasi itu.


Setelahnya, Dion dan juga kedua orang tua Jovita dapat melihat seorang dokter yang menggendong seorang bayi mungil di dalam dekapanya.


"selamat, bayi anda sehat," ujar dokter itu Seraya berjalan untuk menuju ke ruang perawatan bayi. karena memang, bayi itu harus mendapatkan perawatan yang lebih akibat terlahir dalam kondisi prematur.


Tak lama berselang, pintu kembali terbuka. dan menampilkan, beberapa orang yang keluar dari dalam ruangan itu Seraya mendorong brangkar menuju ke tempat semula.


"anda tidak usah khawatir, semua baik-baik saja. tidak perlu ada yang ditakutkan!"ujar salah satu dari mereka yang mengetahui raut wajah dari Dion dan juga kedua orang tua Jovita.


Akhirnya, mereka dapat bernafas dengan lega. dan kembali mengikuti para tenaga medis itu membawa Jovita untuk masuk ke dalam ruangan VVIP kembali.

__ADS_1


__ADS_2