
Jovita yang mendengar Pengakuan dari laki-laki yang ada di hadapannya itu, seketika memutar bola mata malas. dan dengan segera, langsung mendorong tubuh laki-laki itu agar menjauh dari dirinya.
" loe nggak berhak ngatur hidup gue." ucapnya Seraya melayangkan tatapan tajamnya.
" tapi aku calon suamimu," ucap Dion mencoba untuk mengingatkan pada gadis yang ada di hadapannya itu.
Mendengar ucapan dari laki-laki menyebalkan yang ada di hadapannya itu, membuat Jovita tersenyum sinis." lu memang akan menjadi suami gue. Tapi, bukan berarti Loe bisa ngatur hati gue. karena sampai kapanpun, gue nggak akan pernah naksir atau tertarik sama laki-laki modelan kayak loe!" ucapnya penuh dengan penekanan.
Kemudian, Jovita melangkahkan kakinya hendak pergi dari sana. Namun, seketika langkah Gadis itu terhenti. saat mendengar ucapan dari laki-laki yang ada di belakang tubuhnya itu.
" dan sampai kapanpun, aku tetap akan mengejarmu." ucap Dion tanpa ragu.
" bodo amat!"
Setelah mengatakan hal itu, Jovita segera melangkahkan kakinya untuk menghampiri teman-temannya yang masih berada di tempat semula.
"Jov, loe kenal sama cowok itu?" tanya Ochi Seraya menatap sahabatnya itu dengan tatapan penuh selidik.
Tentu saja, pertanyaan dari sahabatnya itu, membuat Jovita sedikit gelagapan." um, dia bekerja baru di rumah gue," bohong Jovita Seraya berusaha mengalihkan pandangan ke arah lain.
Ochi yang melihat dan mendengar ucapan dari sahabatnya itu, sejenak terdiam. karena gadis tomboy yang memiliki tahi lalat di hidung itu, merasa 100% tidak mempercayai ucapan dari sahabatnya.
" loe lagi nggak nyembunyiin sesuatu dari kita kan?" tanya Ochi dengan tatapan mengintimidasi.
Jovita yang mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu, sebisa mungkin mengubah semua yang ada di dalam dirinya agar tidak terlalu terlihat oleh teman-temannya." Nggak ada kok, gue nggak lagi nyembunyiin apa-apa." ucapnya dengan ekspresi wajah seperti biasa.
Tak lama berselang, Sandrina dan juga Reiner Yang Entah dari mana mereka berdua, datang menghampiri Jovita dan yang lain.
__ADS_1
"kuy, kita ke kelas." ucap Reiner Soraya menggenggam tangan Jovita. membuat gadis itu, seketika tersentak kaget. dan berusaha untuk melepaskan genggaman tangan itu.
Namun tiba-tiba, sesuatu terlintas di dalam kepalanya. dan dengan segera, gadis tomboy itu menoleh ke arah di mana laki-laki yang menurutnya sangat menyebalkan itu berada. dan, tepat sekali. ternyata, memang Dion masih berada di sana.tengah menatapnya, dengan tatapan membunuhnya. Namun, itu sama sekali tidak membuat Jovita takut. gadis cantik itu malah semakin memanas-manasi laki-laki yang akan menjadi calon suaminya itu, dengan membalas genggaman Reiner.
Tentu saja itu membuat Reiner, sedikit tersentak kaget. Namun, dengan segera laki-laki bertubuh ceking itu, mengubah ekspresi wajahnya. Karena laki-laki itu tahu, sampai ayam beranak kucing sekalipun, perasaan yang tidak akan pernah terbalas. dan selamanya, Jovita akan menganggap dirinya sebagai sahabat. tidak lebih.
" ngapain loe bengong, baper ya?" tanya Ochi dan Sandrina menggoda laki-laki itu.
" sialan kalian!" makin Reiner pada kedua gadis itu. Namun, Ochi dan juga Sandrina, sama sekali tidak memperdulikan itu semua. keduanya melenggang pergi meninggalkan Reiner dan juga Jovita yang masih berjalan di belakang sana.
Selama berjalan menyusuri koridor sekolahan, pandangan Reiner, sesekali melirik ke arah gadis yang ada di sampingnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"loe ngapain lihat gue kayak gitu?" tanya Jovita yang sebenarnya tahu. jika laki-laki yang ada di sampingnya itu, Tengah melirik dan mencuri-curi pandang ke arahnya.
"ekhem," Reiner berdehem untuk menetralkan rasa sesaat yang ada dalam jantungnya." loe nggak ada niatan, untuk cari cowok lain?" sekuat tenaga, laki-laki bertubuh ceking itu, mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya mengenai hal itu kepada Jovita.
Seketika, tubuh Reiner yang memang sudah kurus, sedikit terangkat. saat Jovita, menarik kerah baju laki-laki itu. hingga membuat wajah Reiner, seketika berubah merah padam dan sedikit bergetar hebat karena menahan rasa takut yang luar biasa.
" Maksud loe apa? Hmm," tanya gadis itu dengan nada yang terdengar sangat kesal.
"Jovita!" teriak ketika sahabatnya saat mereka mengetahui aksi dari ketua geng mereka itu.
"heh, lepasin bege, loe mau buat anak orang mati?" tanya Sandrina. Seraya tangannya, berusaha untuk melepaskan cengkraman Jovita dari kerah baju Reiner.
Mendengar ucapan dari sahabatnya itu, membuat Jovita seketika melepaskan cengkraman dari kerah baju laki-laki itu.
Uhuk uhuk
__ADS_1
Seketika itu pula, Reiner segera ter batuk-batuk. Seraya menghirup udara dengan rakus.
"maaf Jov, Gue nggak bermaksud menyinggung loe," ucap Reiner. saat laki-laki itu, telah menyesuaikan detak jantungnya.
Sementara Jovita yang mendengar itu, segera meninggalkan mereka semua tanpa mengatakan sepatah kata pun. hari ini, hatinya sedang kacau karena kedatangan laki-laki menyebalkan yang ada di belakang sana. hingga membuatnya, sedikit lepas kendali.
" loe yang sabar ya, lain kali jangan pernah mencoba untuk memancing singa yang sedang tidur." ucap Sandrina dan Ochi Seraya menepuk pundak laki-laki itu dengan prihatin.
Reiner yang mendengar itu, menganggukkan kepala. dan dengan segera, langsung melangkahkan kakinya menuju ke kelas. tanpa berniat sedikitpun untuk menggoda gadis pujaannya itu.
***
Sementara itu di tempat lain, lebih tepatnya di tengah kedai martabak miliknya, terlihat Dion Tengah uring-uringan. dan Hal itu membuat para karyawannya, menjadi sedikit aneh dan ketakutan.
Tak jarang, para karyawannya itu berniat akan menegur Bos mereka. Namun, diurungkan karena melihat raut wajah mengerikan dari atasan mereka itu.
"Bos," akhirnya, salah satu diantara mereka, memberanikan diri untuk Mengapa Dion. hingga membuat laki-laki Tampan itu, seketika menetapnya dengan tatapan tajam.
"e-eh, bos. Maaf saya hanya ingin mengambil ini," ucap laki-laki itu Seraya menenteng serbet di tangannya. Kemudian, segera menjauh dari tempat itu.
"hais, seram sekali jika sedang marah," gumam karyawan itu Seraya bergidik ngeri. Kemudian, dengan cepat melangkahkan kakinya saat dirasa suasana mulai mencekam.
Memang, jika Dion sedang marah, jangan sekalipun menyentuh atau berurusan dengan laki-laki itu. karena Pasti kalian akan mendapatkan hukumannya walaupun itu tidak kesalahan kalian. dan semua karyawan itu, telah terbiasa dengan sifat dan tabiat diam seperti itu.
Karena laki-laki Tampan itu, hanya akan bertahan dengan kemarahannya itu tidak lebih dari setengah jam. setelah itu, Dion akan kembali seperti semula. dan nantinya, laki-laki Tampan itu akan meminta maaf jika emosinya sudah mulai mereda.
Sementara Dion yang telah dikuasai oleh amarah saat ini, memilih untuk memukul angin yang memang tidak terlihat. " sialan!" makinya ntar pada siapa.
__ADS_1