
Sudah hampir dua bulan lamanya, Jovita masih belum sadarkan diri. tentu saja hal itu membuat Dion merasa sangat frustasi. dan beberapa kali pula, kedua orang tua Jovita memaksa untuk mengetahui fakta yang sebenarnya. tentang apa yang terjadi pada gadis kesayangan mereka itu. namun nampaknya, sampai saat ini Dion belum memberikan pernyataannya.
Kedua orang tua Jovita hanya mengetahui, jika putri mereka masih dalam keadaan kritis. mereka tidak mengetahui jika gadis itu mengalami koma.
"Dion, bolehkah kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan dengan putriku?"tanya Vania yang mulai lelah dengan keadaan yang menimpa putrinya itu.
"dia mengalami koma Ma,"ujar Dion pada akhirnya. laki-laki tampan itu, akhirnya memberanikan diri untuk mengatakan semuanya pada orang tua istrinya.
Vania yang mendengar pernyataan dari menantunya itu, seketika tubuhnya bergetar hebat. Dan hampir saja terjatuh jika tidak ditahan oleh Aksa.
"kenapa kamu bohongi kami?"tanya wanita paruh baya itu dengan raut wajah yang sangat memilukan dan juga tubuh yang bergetar hebat.
"kenapa kamu tidak mengatakan semuanya dari awal? apa kau anggap kami ini sudah mati? sehingga kamu tidak memberitahu kami tentang keadaan putri kami yang sebenarnya?"tanya Vania dengan tatapan tajam yang sangat menghunus.
"maafkan Dion Mah, Dion sama sekali tidak bermaksud untuk melakukan hal itu. hanya saja,.. laki-laki tampan itu tidak dapat meneruskan ucapannya, saat mendapatkan tatapan tajam dari wanita paruh baya itu.
"kau memang pembohong! jika aku dapat memutar waktu, maka aku akan berusaha untuk menggagalkan pernikahan ini."ucap Vania dengan tubuh bergetar hebat.
Sontak saja hal itu membuat Dion yang mendengarnya, merasa begitu terkejut. "apa maksud Mama?"tanya laki-laki tampan itu.
Karena memang, Dion sama sekali tidak mengerti apa yang dimaksud oleh ibu mertuanya itu.
"apa kamu tidak sadar? semenjak putriku berada di tanganmu, gadis ini seperti tidak berselera untuk melanjutkan kehidupannya. dan putriku ini, hampir beberapa kali masuk rumah sakit. padahal, dulu tidak pernah!"ucapnya dengan nada yang sangat lembut dan juga tenang.
__ADS_1
Namun, perkataan itu sangat menyakitkan bagi Dion. "Mah apa yang Mama lakukan?"tanya Aksa yang mencoba menyadarkan istrinya. namun laki-laki paruh baya itu, malah mendapatkan tatapan tajam dari sang istri.
"ini juga karena kamu, jika saja kamu tidak memaksakan semuanya, tentu saja ini tidak akan pernah terjadi!"ucapnya Seraya melayangkan tatapan penuh kebencian.
Tentu saja perlakuan Vania itu, membuat Aksa dan juga Dion, merasa begitu merinding. karena mereka mengenal Vania adalah sosok wanita yang sangat lembut dan penuh dengan kasih sayang. namun tampaknya, semuanya telah berubah.
"saat nanti putriku sadar, aku akan langsung membawanya pergi jauh darimu."ucap Vania Seraya menghampiri putrinya yang masih terlelap dalam tidur panjangnya itu.
Dion yang mendengar itu, seketika menggelengkan kepala. "tidak, Mama tidak boleh melakukan hal itu. dia istriku! dia sudah menjadi tanggung jawabku!"ucap Dion tanpa sadar sedikit meninggikan suaranya.
Vania yang mendengar itu, seketika tersenyum miring. "jika pihak pengadilan tahu kalau kau tidak becus menjaga putriku, maka mereka akan menuruti perkataanku!"ucapnya dengan senyum menakutkan.
brak.
Siapa lagi pelakunya jika bukan Olivia. wanita paruh baya itu, menatap Vania teman masa kecilnya itu dengan tatapan membunuh.
"jangan pernah salahkan putraku tentang sesuatu yang menimpa putrimu!"ucapnya pelan. namun, penuh dengan penekanan.
"memang di sini, putramu kan, yang bersalah?"tanya Vania Seraya tersenyum remeh.
"kau,..."Olivia tidak lagi melanjutkan perkataannya saat merasakan jemarinya digenggam oleh sang suami.
Sementara Dion yang melihat itu, semakin merasa kacau. karena laki-laki tampan itu tidak pernah menyangka, jika akibatnya akan separah ini.
__ADS_1
"tolonglah jangan seperti ini! aku tidak ingin istriku terganggu akibat insiden ini"ucapnya Seraya mengatupkan kedua tangan di depan dada.
"hei siapa kau berani melarangku berbicara?!"tanya Vania dengan menatap tajam ke arah menantunya itu.
"jangan pernah menata putraku seperti itu!"Olivia yang tidak ingin kalah, menatap sahabat sekaligus besanya itu dengan tatapan tajam.
"sudah aku tidak ingin mendengar keributan ini. lebih baik kalian pergi saja dari sini,"ujar Vania Seraya menatap ke arah Olivia dan juga Dion secara bersamaan.
Sementara Dion yang mendengar itu, segera menggelengkan kepala. "tidak, aku tidak ingin meninggalkan istriku!"ucapnya sedikit berteriak.
Tanpa basa-basi, Olivia menarik tangan putra dan suaminya untuk keluar dari ruangan itu. membawa mereka untuk segera pulang ke rumah.
"Mah, tolong lepaskan aku! aku ingin menemani anak dan istriku di dalam!"ucap Dion mencoba untuk melepaskan diri dari sang ibu.
Perkataan dari putranya itu, sukses membuat Olivia menghentikan langkahnya. dan dengan segera, menatap putranya itu dengan tatapan yang sangat lekat dan juga dalam.
"apa kau tidak merasa tersinggung dengan perkataan wanita itu?"tanya Olivia dengan nada suara sedikit bergetar karena menahan amarah.
Dion yang mendengar itu, segera menggelengkan kepalanya. karena memang laki-laki tampan itu, tidak merasa tersakiti sama sekali dengan ucapan mertuanya itu.
"Ck, kau jangan bodoh Dion! bisa-bisanya kau menerima penghinaan ini, di luar sana masih banyak wanita yang ingin menjadi istrimu!"Olivia berdecak sebal. Karena melihat kebodohan dari putranya itu.
"aku mencintainya!"caption dengan nada bersungguh-sungguh.
__ADS_1
"persetan dengan cinta!"ucap Olivia kembali menarik tangan putranya untuk segera keluar dari tempat itu.